Kamis, 16 Juni 2011

Fiqh Ziarah ( 22 )


KUBURAN MULIA NABI SAW

Sebagian orang – semoga Allah membuat mereka menjadi baik dan membimbing mereka ke jalan lurus – memandang kuburan Nabi Saw dari aspek kuburan semata. Karena itu tidak aneh bila dalam benaknya ada asumsi-asumsi keliru. Dan tidak aneh pula jika ada prasangka-prasangka buruk dalam hati mereka terhadap kaum muslimin dan mereka yang berziarah kepada Nabi Saw, datang kepada beliau dan berdo’a di sisi kuburan beliau.
Anda akan melihat ia berargumentasi : “Tidak boleh dipasang pelana menuju kuburan Nabi Saw dan tidak boleh berdoa di sisi kuburan beliau.”
Bahkan sikap ekstrim mereka sampai berani mengatakan bahwa berdoa di sisi kuburan Rasulullah adalah tindakan syirik dan kufur, menghadap kuburan beliau adalah tindakan bid’ah dan sesat, memperbanyak wukuf dan bolak-balik ke kuburan beliau adalah tindakan syirik atau bid’ah atau orang yang mengatakan, “Sesungguhnya kuburan Nabi Saw adalah tempat paling utama dibanding tempat manapun termasuk Ka’bah”, maka ia telah musyrik atau sesat.

 Tindakan pengkafiran dan penilaian sesat demikian secara serampangan tanpa sikap hati-hati atau berfikir matang itu bertentangan dengan sikap generasi assalaf asshalih. Ketika kami berbicara tentang kuburan Nabi Saw, ziarah kuburan beliau, mengunggulkannya, memasang pelana menuju tempat tersebut, atau berdo’a dan memohon kepada Allah di depannya maka obyek yang dituju yang tidak diperselisihkan siapapun adalah penghuni kubur dan dua sahabat beliau. Penghuni kubur ini adalah junjungan generasi awal dan akhir dan makhluk paling utama yang menjadi nabi yang paling agung dan rasul paling mulia Saw. Tanpa beliau, kuburan, masjid Nabawi, Madinah bahkan kaum muslimin seluruhnya tidak ada harganya sama sekali. Tanpa beliau, kerasulan beliau, iman dan cinta kepada beliau, serta mengakui kesaksian ( syahadat ) dimana syahadat ini tidak sah kecuali menyertakan kesaksian akan kenabian beliau, maka mereka tidak akan ada dan tidak akan beruntung dan selamat.

 Berangkat dari paparan di atas maka ketika Ibnu ‘Aqil Al Hanbali ditanya mengenai perbandingan keunggulan antara Hujrah ( kamar Nabi ) dan Ka’bah beliau menjawab, “Jika yang Anda maksud kamar semata, maka Ka’bah lebih utama. Tapi jika yang dimaksud adalah kamar beserta Nabi yang dikubur di dalamnya maka demi Allah, ‘arsy dan para malaikat yang memikulnya, surga dan benda-benda langit yang beredar pada orbitnya tidak bisa melebihi keutamaannya. Karena jika kamar yang nabi berada di dalamnya itu ditimbang dengan dengan langit dan bumi maka ia akan lebih unggul. ( Badai’ Al Fawaaid karya Ibnu Al Qayyim ).
Inilah yang dimaksud dengan kuburan Nabi, keutamaannya, menziarahinya dan menyiapkan kendaraan untuk menuju kepadanya ( memasang pelana ). Berangkat dari pandangan ini para ulama berkata, “Sesungguhnya tidaklah layak jika seseorang mengucapkan, “Saya ziarah kuburan Nabi Saw.” Yang benar adalah : “Saya ziarah kepada Nabi Saw.” Inilah pandangan yang ditetapkan oleh para ulama dalam menafsirkan statemen Al Imam Malik : “Saya tidak suka seseorang berkata : “Saya ziarah ke kuburan Nabi Saw.” Sebab orang yang ia ziarahi adalah orang yang mampu mendengar ucapannya, merasakan kehadirannya, mengetahuinya dan menjawab salamnya.
Masalah ini bukan sekedar persoalan kuburan semata tapi lebih besar dan lebih tinggi dari sekedar dilihat dari aspek kuburan semata. Jika kita melihatnya dari sisi kuburan saja tanpa memandang sosok penghuninya maka kita akan menemukan arwah suci yang kita kelilingi dari segala penjuru dan kita akan menemukan jembatan malaikat yang membentang dari al mala’ al a’la sampai kuburan Nabi Muhammad Saw, dan konvoi yang bersambung dengan bilangan dan tambahan yang tidak terputus-putus yang hanya Allah yang mengetahui jumlahnya.
Dalam Al Sunannya Al Darimi meriwayatkan, “menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Shalih, menceritakan kepadaku Al Laits, menceritakan kepadaku Khalid yaitu Ibnu Yazid dari Sa’id yaitu Ibnu Abi Hilal dari Nubaih ibnu Wahb bahwasanya Ka’ab masuk bertemu ‘Aisyah lalu mereka menyebut Rasulullah Saw.
“Tidak ada hari kecuali turun tujuh puluh ribu malaikat hingga mereka mengelilingi kuburan Rasulullah. Mereka mengepakkan sayap mereka dan mendoakan shalawat untuk beliau hingga ketika tiba waktu sore mereka naik dan jumlah yang sama turun menggantikan mereka. Para malaikat pengganti juga melakukan apa yang dikerjakan malaikat pertama hingga ketika bumi merekah memunculkan Nabi, beliau akan pergi diiringi 70.000 malaikat .” Demikian dalam Sunan Al Darimi vol I hlm 44.

 Saya katakan bahwa atsar ini juga diriwayatkan oleh Al Hafidh Ismail Al Qadli dengan sanadnya yang dikategorikan bagus untuk mutabi’, syahid, manaqib, dan keutamaan-keutamaan amaliah.Jika kita melihat lingkungan di sekitar kuburan Nabi Saw dari raudloh yang notabene salah satu bagian surga, mimbar yang memperoleh kemuliaan tertinggi sebab beliau Saw yang mana kelak di hari kiamat ia akan berada di atas telaga agung beliau, batang kurma yang merintih seperti perempuan yang kehilangan anaknya yang kelak di hari kiamat ada di sorga di tengah pepohonannya. Ada informasi yang menyatakan bahwa batang pohon itu dipendam di tempatnya yang terdapat dalam masjid. Maka saya tidak menduga bahwa orang yang berakal yang bersemangat mengejar kebaikan menghindar dari berdoa di lokasi-lokasi tersebut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013