Minggu, 12 Juni 2011

Fiqh Barokah (41-43)


TABARRUK DENGAN KERINGAT NABI SAW :

1.      Dari ‘Utsman dari Anas bahwa Ummu Sulaim menggelar alas dari kulit untuk Nabi. Lalu beliau tidur siang dengan menggunakan alas itu di tempat Ummu Sulaim. “Jika Nabi telah tertidur,” kata Anas, “maka Ummu Sulaim mengambil keringat dan rambut beliau lalu dimasukkan dalam botol kemudian dicampurkan ke dalam minyak wangi sukk.” “Menjelang wafat Anas ibnu Malik berwasiat agar rambut dan keringat Nabi dimasukkan dalam ramuan obat yang dimasukkan pada kafannya, dari wewangian sukk.” Kata ‘Utsman, “Rambut dan keringat itu ditaruh di ramuan obatnya yang dimasukkan pada kafan.”
HR. Al Bukhari dalam Kitabul Isti’dzan man Zara Qauman Faqaala ‘Indahum.

2.       Dalam sebuah riwayat dari Muslim berbunyi : “Nabi masuk menemui kami lalu beliau tidur siang dan berkeringat. Kemudiaan ibuku datang membawa botol lalu memasukkan keringat Nabi ke dalamnya. Nabi pun akhirnya terbangun dan bertanya, “Wahai Ummu Sulaim !, apa yang kamu lakukan ?” “Ini adalah keringatmu yang aku campurkan pada wewangianku. Keringat ini adalah wewangian paling harum,” jawab Ummu Sulaim.
3.      Dalam riwayat Ishaq ibnu Abi Thalhah sebagai berikut : “Nabi berkeringat lalu keringat itu dikumpulkan oleh Ummu Sulaim dalam sepotong kulit kuno lalu diseka dan diperas dimasukkan dalam botol-botol miliknya hingga akhirnya Nabi terbangun dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan ?”
Kami mengharapkan keberkahan keringatmu untuk anak-anak kecil kami,” jawab Ummu Sulaim.
“Kamu benar,” lanjut Nabi.

Dalam riwayat Abu Qilabah sebagai berikut : “Ummu Sulaim mengumpulkan keringat Nabi dan dimasukkan dalam wewangian dan botol. “Apa ini ? tanya Nabi.
 “Keringatmu yang saya campurkan ke dalam wewangianku,” jawab Ummu Sulaim. 
Dari riwayat-riwayat di atas bisa disimpulkan bahwa Nabi melihat apa yang dilakukan Ummu Sulaim dan membenarkan tindakannya itu. Tidak ada kontradiksi antara ucapan Ummu Sulaim bahwa ia mengumpulkan keringat Nabi untuk dicampurkan ke dalam wewangiannya dengan ucapannya untuk mengharap keberkahan. Justru bisa dipahami bahwa ia melakukannya untuk dua alasan tersebut.
Fathul Baari vol. XI hlm. 2.





TABARRUK DENGAN MENYENTUH KULIT NABI SAW :
 

Dari Abdurrahman ibnu Abi Laila dari ayahnya, ia berkata, “Usaid ibnu Hudlair adalah seorang lelaki yang shalih, suka tertawa dan jenaka. Saat ia bersama Rasulullah ia sedang bercerita di hadapan orang-orang dan membuat mereka tertawa. Rasulullah lalu memukul pinggangnya.
“Engkau telah membuatku merasa sakit,” kata Usaid.
“Silahkan membalas,” jawab Nabi.
 “Wahai Rasulullah, engkau mengenakan qamis sedang saya tidak,” ujar Usaid. “Lalu,” kata ayah Abdurrahman, “beliau melepas qamisnya dan Usaid merangkul beliau dan menciumi pinggang beliau.”
“Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah, saya menginginkan ini,” kata Usaid.
 Kata Al Hakim, “Hadits ini isnadnya shahih namun Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Al Dzahabi juga sependapat dengan Al Hakim. “Hadits ini shahih,” kata Al Dzahabi.
Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dari Abu Laila hadits yang sama dengan hadits ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam Al Kanzu vol. VII hlm. 701.
Saya berkata, “Hadits semisal juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Thabarani dari Abu Laila, sebagaimana terdapat dalam AL Kanzu vol. IV hlm. 43.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Hibban ibnu Wasi’ dari beberapa guru dari kaumnya bahwa Rasulullah meluruskan barisan para sahabatnya dalam perang Badar. Beliau membawa anak panah di tangan untuk meluruskan barisan mereka. Lalu lewat Sawad ibnu Ghazyah, sekutu bani ‘Adi ibnu Al Najjar. Ia keluar dari barisan perang. Beliau kemudian memukul perutnya dengan anak panah sambil berkata, “Luruslah, wahai Sawad !”
“Wahai Rasulullah !, engkau telah menyakitiku padahal Allah mengutusmu dengan membawa kebenaran dan keadilan. Berilah kesempatan bagi saya untuk membalasmu dengan setimpal, “ujar Sawad.
Rasulullah kemudian menyingkap badannya. “Silahkan membalas, “perintah Nabi.
Tiba-tiba Sawad merangkul dan mencium perut Nabi.
“Apa yang mendorongmu melakukan hal ini, wahai Sawad, “tanya Nabi.
 “Telah Tiba apa yang engkau bisa dilihat. Maka saya ingin akhir waktu pertemuan denganmu, agar kulitku menyentuh kulitmu, “jawab Sawad.
 Akhirnya rasululullah mendoakan Sawad mendapat kebaikan.
Demikian dari Al Bidayah wa Al Nihayah vol VI hlm. 271. 

Abdurrazaq meriwayatkan dari Al Hasan bahwa Nabi SAW bertemu dengan seorang lelaki yang menggunakan semir kuning. Tangan beliau sendiri memegang pelepah kurma. “Tumbuh tanaman waras,”kata Nabi.
 Lalu beliau menusuk perut lelaki tersebut dengan pelepah kurma dan berkata, “Bukankah saya telah melarangmu melakukan ini ( keluar dari barisan ) ?”
 Tusukan beliau menimbulkan luka berdarah pada perut lelaki itu.
“Pembalasan sepadan, wahai Rasulullah !” ujar sang lelaki.
“Apakah kepada Rasulullah kamu berani meminta pembalasan, “tanya orang-orang.
“Tidak ada kulit siapapun yang memiliki kelebihan atas kulitku,” jawabnya.
 Lalu Rasulullah menyingkap perutnya kemudian berkata, “Balaslah dengan sepadan !”
“Saya tidak akan membalas, agar engkau memberiku syafaat kelak di hari kiamat,” jawab lelaki itu.
Demikian dikutip dari Al Kanzu vol. XV hlm. 91.

Dalam vol. III hlm 72 Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Al Hasan bahwa Rasulullah SAW melihat Sawad ibnu ‘Amr berselimut. Demikian dikatakan Ismail. Lalu Nabi bekata, “ Tumbuh tumbuh, tanaman waras tanaman waras.” Kemudian Nabi menusuk perut Sawad dengan kayu atau siwak. Perut Sawad pun bergoyang dan ada bekas tusukan. Lalu Ibnu Sa’ad menuturkan hal yang sama yang diriwayatkan Abdurrozaq. 
Abdurrazaq juga meriwayatkan dari Al Hasan sebagaimana disebutkan dalam Al Kanzu vol. XV hlm. 19. Al Hasan berkata, “Ada seorang lelaki Anshar yang dipanggil Sawadah ibnu ‘Amr. Ia memakai wewangian seolah-olah ‘urjun . Jika Nabi melihatnya maka ia gemetaran. Suatu hari ia datang dengan memakai wewangian. Kemudian Nabi menusukkan kayu kepadanya yang membuatnya terluka.
“Pembalasan setimpal, wahai Rasulullah !” kata lelaki itu,
 lalu beliau menyerahkan kayu kepadanya. Nabi sendiri saat itu memakai dua qamis. Kemudian beliau melepaskan kedua qamisnya. Orang-orang membentak dan menghalangi Sawadah hingga saat Sawadah sampai di tempat di mana ia dilukai Nabi ia melempar pedangnya yang tajam dan menciumi Nabi.
“Wahai Nabi Allah, saya tidak akan membalas, agar engkau memberi syafaat kepadaku di hari kiamat, “kata Sawadah.
 Al Baghawi meriwayatkan hadits yang sama sebagaimana tercantum dalam Al Ishabah vol. II hlm. 96.

HADITS TENTANG ZAHIR RA :

Rasulullah SAW bersabda, “Zahir orang kampung kami, sedang kami orang kota dia.” Beliau sendiri senang terhadap Zahir. Suatu hari beliau berjalan masuk pasar dan melihat Zahir sedang berdiri. Lalu beliau datang dari arah belakang Zahir dan dengan tangannya beliau memeluk Zahir menempelkan ke dada beliau. Zahir mengerti bahwa yang memeluknya adalah Rasulullah.
“Saya mengusapkan punggungku pada dada beliau berharap keberkahan beliau,” kata Zahir. 

 Dalam riwayat Al Turmudzi dalam Al Syamaa’il sebagai berikut : “Lalu Nabi merangkulnya dari belakang dan Zahir tidak melihat beliau. “Lepaskan, siapakah ini,” kata Zahir.
Zahir pun menoleh dan ternyata orang yang merangkulnya adalah Nabi SAW. Akhirnya ia tetap membiarkan punggungnya menempel pada dada beliau.
Rasulullah pun berkata, “Siapakah yang mau membeli budak ?”
“Wahai Rasulullah, jika saya dijual maka saya tidak akan laku,” kata Zahir.
“Di mata Allah hargamu mahal,” balas Nabi.
 Dalam riwayat Al Turmudzi pula : “Di mata Allah engkau laku” atau “Di mata Allah engkau mahal.”
(Al Mawaahib Al Laadunniyyah vol. I hlm. 297)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013