Kamis, 16 Juni 2011

Fiqh Ziarah ( 20 )


ZIARAH NABI VERSI SALAF

Sudah maklum bahwa yang dimaksud dengan ziarah di sini adalah ziarah dalam kacamata syara’ yang etika dan hal-hal yang sepatutnya dikerjakan oleh peziarah telah dijelaskan oleh Al Sunnah. Al Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata dalam rangka menjelaskan antara ziarah yang dilakukan mereka yang meyakini keesaan Allah ( ahluttauhid ) dan orang-orang musyrik, “Ziarah yang dilakukan oleh ahluttauhid terhadap kuburan-kuburan kaum muslimin berisi penyampaian salam dan mendoakan kepada penghuni kuburan tersebut. Hal ini sama dengan menshalati jenazah mereka. Sedang ziarah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik berisi aktivitas mereka yang menyerupakan makhluk dengan Khaliq. Mereka bernazar untuk mayit, bersujud dan mendoakannya serta mencintainya seperti mencintai Sang Khaliq. Berarti mereka telah menjadikan sekutu buat Allah dan menyamakan sekutu itu dengan Tuhan semesta alam. Padahal Allah SWT telah melarang Dia dipersekutukan dengan malaikat, para nabi dan yang lain. Allah berfirman :

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ وَلا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
 Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia : "hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah-ku bukan penyembah Allah. " Akan tetapi ( dia berkata ) : "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajar Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajari-nya. Dan ( tidak wajar pula baginya ) menyuruhmu menjadikan malaikat dan paa nabi sebagai tuhan. Apakah ( patut ) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah ( menganut agama ) islam ?" ( Q.S.Ali Imran : 79-80 )

dan firman Allah : 

 قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيْلاً , أُولَئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهُ , إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا

 Katakanlah : "pangillah mereka yang kamu anggap ( tuhan ) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dar ipadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat ( kepada Allah ) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang ( harus ) ditakuti. "

Sekelompok kalangan salaf mengatakan, “Terdapat bangsa-bangsa yang menyembah para nabi seperti Al Masih dan ‘Uzair serta menyembah malaikat. Maka akhirnya Allah mengabarkan kepada bangsa-bangsa ini bahwa Al Masih, ‘Uzair dan lain sebagainya adalah hamba-hamba-Nya yang memohon rahmat-Nya, takut akan adzab-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal perbuatan.
( Al Jawaab Al Baahir fi Zuwwaari Al Maqaabir karya Syaikh Al Islam Taqi Al Din Ahmad Ibnu Taimiyyah hlm 21 ).

  Saya katakan bahwa bukankah ziarah yang kita lakukan ke kuburan Nabi Saw tidak lain mengikuti cara yang benar yang telah ditetapkan syara’ seperti di atas ?Allah, para malaikat, para pembawa ‘arsy, dan penduduk langit dan bumi menjadi saksi bahwa dalam berziarah ke Nabi Saw kami tidak meyakini kecuali bahwa beliau adalah manusia yang mendapat wahyu, salah satu hamba Allah terbaik, yang mengharap rahmat-Nya, takut akan siksa-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal perbuatan. Malah beliau adalah orang yang paling menaruh perhatian menyangkut tiga hal terakhir ini. Beliau adalah orang yang paling bertakwa di antara kami, paling takut kepada Allah, paling mengetahui dan mengenal-Nya. Kami tidak menyerupakan beliau dengan Sang Khaliq, tidak nazar untuknya, tidak sujud kepadanya, tidak berdoa kepadanya, tidak menjadikannya sekutu bagi Allah, tidak menyamakannya dengan Tuhan semesta alam, dan kami mencintainya melebihi cinta kami kepada diri, harta dan anak kami.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013