Selasa, 21 Juni 2011

Muslim Marhamah ( 03 )


B.  Mengenal Istilah Muslim Marhamah
Istilah “muslim” bermakna orang-orang yang berserah diri kepada Tuhan atau orang yang mencari kedamaian Tuhan. Term “muslim” ini merupakan rangkaian kata “aslama – yuslimu – islam” yang berarti menyerah atau mencari kedamaian. Kata “Islam” (ketundukan, kepasrahan dan kedamaian) merupakan bentuk kata benda verbal yang searti dengan bentuk adjektif muslim (tunduk, pasrah dan damai).
Secara teknis operasional, kata muslim dimaknai sebagai orang yang memeluk agama Islam (Cyril Glasse, 1996: 288). Dalam hal ini Islam dimaknai sebagai ajaran agama yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. Kata muslim mengisyaratkan makna penuh ketundukan terhadap kehendak Tuhan dalam rangka mencari kedamaian.
Kedamaian dan perdamaian adalah kata kunci untuk melihat hakekat diri seorang muslim. Agaknya, cukup dengan memahami makna nama agama Islam, seseorang dapat mengetahui bahwa ia adalah agama yang mendambakan perdamaian. Cukup juga dengan mendengarkan ucapan yang dianjurkan untuk disampaikan pada setiap pertemuan, “assalamu ‘alaikum” (damai dan keselamatan untuk anda), seseorang dapat menghayati bahwa kedamaian yang didambakan bukan hanya untuk diri-sendiri, tetapi juga untuk pihak lain (M. Quraish Shihab, 1997: 378). Maka tidak heran bila salah satu ciri seorang muslim adalah seperti sabda Nabi Muhammad Saw: “seorang muslim adalah siapa yang menyelamatkan orang lain (yang mendambakan kedamaian) dari gangguan lidahnya dan tangannya.”
Adapun kata “marhamah” merupakan verbal noun atau kata benda, berasal dari kata kerja arhama. Kata ini berasal dari akar kata rahima dengan penambahan huruf hamzah di awal kata yang memiliki faidah ta’diyah (karakter kalimat yang tidak perlu menampilkan obyek). Dari kata asal rahima ini, terdapat kata-kata jadian lainnya dalam al-Qur’an, yakni: rahima, arham, marhamah, rahim, rahman dan ruhm. Berikut adalah gambaran arti dari kata-kata jadian tersebut:

Tabel arti kata jadian “r-h-m”[1]
KATA
A R T I
Rahima
Memiliki kemurahan hati atau belas kasihan kepada seseorang (to have mercy on someone); merasa kasihan, ingin menghibur atau menyenangkan hati orang lain (to be compassionate).
Arham
Bentuk jamak dari kata rahim (peranakan/kandungan).
Marhamah
Kemurahan (mercy); perasaan sayang (compassion).
Rahim
Penyayang (merciful); suka menyenangkan (compassionate); Maha Pemurah (All Compassionate). 
Rahman
Pengasih (merciful); Maha Kasih (All Merciful)
Ruhm
Kelembutan (tenderness)

Tabel di atas hanya merupakan arti formal harfiyahnya, tentu saja dalam kata-kata tersebut terkandung makna yang lebih mendalam. Dari berbagai kata yang berakar dari “r-h-m” sebagaimana tebel di atas, terdapat benang merah yang memberikan kesan makna sangat kuat tentang sikap kasih sayang dan saling menyayangi. Dengan demikian makna marhamah di sini adalah energi kasih sayang murni yang secara integral terdapat dalam diri manusia. Dengan energi ini seseorang akan selalu menebarkan kasih sayang ke segala penjuru alam semesta.
Menggabungkan dua kata “muslim” dan “marhamah” adalah bukan perkara yang lumrah. Hal ini karena karakter kedua kata tersebut adalah berbeda, satunya mudzakkar dan satunya muannats. Keberbedaan karakter dua kata ini, tentu saja, harus melalui penyesuaian (adjusment) manakala keduanya hendak  dipersandingkan.
Upaya penyesuaian dalam menyandingkan kedua kata ini dapat mengacu pada teori “makhdzuf” (tidak menampilkan sebagian kalimat). Dalam teori ini dijelaskan bahwa suatu kalimat tidak harus selalu tampil lengkap. Boleh jadi ada bagian dari kalimat tersebut yang tidak tampil. Tidak tampilnya sebagian kalimat tersebut dalam perspektif ilmu gramatika bahasa Arab disebut dengan makhdzuf.
Tampilan istilah “muslim marhamah”, bila diurai sebenarnya ada bagian kalimat yang makhdzuf. Terdapat kata “thabiah” (artinya: karakter) yang harus tampil mengiringi kalimat muslim marhamah. Bila dijabarkan secara lengkap maka akan muncul tampilan kalimat “Thabiah al-Muslim Marhamah”.
Thabiah al-Muslim Marhamah dapat dimaknai karakter orang Islam yang penuh perasaaan kasih sayang. Penampilan kalimat sebatas ‘muslim marhamah’, dengan kata thabiah yang makhdzuf, memberi penekanan pada hakekat kepribadian muslim yang integral dengan nilai-nilai kasih sayang. Nilai-nilai kasih sayang di sini bukan hanya sekedar sesuatu yang berada di luar diri muslim untuk kemudian dilakukan penyerapan. Akan tetapi, terdapat internalisasi nilai-nilai kasih sayang yang secara organik ada pada diri seorang muslim.
Dengan demikian, muslim marhamah dalam konteks pembahasan ini adalah pribadi orang Islam yang secara integral memiliki energi kedamaian (Islam)  dan kasih sayang (marhamah). Dengan energi tersebut, pribadi muslim akan menggunakannya dalam setiap gerak kehidupannya, utamanya dalam menghadapi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Penuh kedamaian dan penuh kasih sayang akan selalu dijadikan sebagai pendekatan utama dalam menyikapi berbagai persoalan umat. 



[1] Diadaptasi dari M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Quran: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci (Jakarta: Paramadina, 1996), 212.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013