Sabtu, 09 Juli 2011

Malam Nishfu Sya'ban

MALAM NISHFU SYA'BAN

ARTI MALAM NISHFU SYA'BAN
SYA'BAN adalah bulan ke 8 dalam penanggalan Islam (Hijriyah),Setelah Rojab dan sebelum Romadhon. Orang jawa umumnya menyebutnya BULAN RUWAH.Secara bahasa, Nishfu artinya setengah atau pertengahan. Sya'ban artinya bulan Sya'ban. Jadi Nishfu Sya'ban artinya pertengahan bulan Sya'ban.
Secara istilah, malam Nishfu Sya'ban dapat diartikan dengan malam pertengahan bulan Sya'ban (yakni tanggal 14 malam ke 15 dari bulan Sya'ban) di mana di dalamnya sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa, shalat dan membaca al-Qur'an karena malam tersebut mempunyai banyak keistimewaan.

KEUTAMAAN MALAM NISHFU SYA'BAN
Sebagaimana diungkapkan para ulama semisal Ibnu Rajab, Ibnul Jauzi, Imam al-Ghazali, Ibnu Katsir dan yang lainnya, bahwa hadits-hadits yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya'ban ini sangat banyak jumlahnya.
Untuk lebih jelasnya, berikut di antara hadits-hadits dimaksud:
1.       DIAMPUNI DOSA-DOSA.
     عن علي بن إبي طالب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إذا كان ليلة نصف شعبان فقوموا ليلها, وصوموا نهارها, فإن الله تعالى ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا, فيقول: ألا مستغفر فأغفرله, ألا مسترزق فأرزقه, ألا مبتلى فأعافيه, ألا كذا ألا كذا, حتى يطلع الفجر)) [رواه ابن ماجه والحديث ضعفه الألبانى]
     Artinya: "Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda: "Apabila sampai pada malam Nishfu Sya'ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah akan turun ke dunia pada malam tersebut sejak matahari terbenam dan Allah berfirman: "Tidak ada orang yang meminta ampun kecuali Aku akan mengampuni segala dosanya, tidak ada yang meminta rezeki melainkan Aku akan memberikannya rezeki, tidak ada yang terkena musibah atau bencana, kecuali Aku akan menghindarkannya, tidak ada yang demikian, tidak ada yang demikian, sampai terbit fajar" (HR. Ibnu Majah dan hadits tersebut dinilai Hadits Dhaif oleh Syaikh al-Albany).
     عن عائشة قالت: فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافع رأسه إلى السماء, فقال: ((أكنت تخافين إن يحيف الله عليك ورسوله؟)) فقلت: يا رسول الله, ظننت أنك أتيت بعض نسائك. فقال: ((إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى سماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب) ) [رواه أحمد والترمذى وابن ماجه وضعفه الألبانى فى ضعيف الترمذى]
     Artinya: "Siti Aisyah berkata: "Suatu malam saya kehilangan Rasulullah saw, lalu aku mencarinya. Ternyata beliau sedang berada di Baqi' sambil menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau bersabda: "Apakah kamu (wahai Aisyah) khawatir Allah akan menyia-nyiakan kamu dan RasulNya?" Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, saya pikir anda pergi mendatangi di antara isteri-isterimu". Rasulullah saw bersabda kembali: "Sesungguhnya Allah turun ke dunia pada malam Nishfu Sya'ban dan mengampuni ummatku lebih dari jumlah bulu domba yang digembalakan" (HR. Ahmad, Ibn Majah dan Turmidzi. Syaikh al-Albany menilai hadits riwayat Imam Turmudzi tersebut sebagai hadits Dhaif sebagaimana ditulisnya pada 'Dhaifut Turmudzi').
     عن أبي موسى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه, إلا لمشرك أو مشاحن) [رواه ابن ماجه وحسنه الشيخ الألبانى فى صحيح ابن ماجه
     Artinya: "Dari Abu Musa, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah muncul (ke dunia) pada malam Nishfu Sya'ban dan mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali orang musyrik dan orang yang dengki dan iri kepada sesama muslim" HR. Ibn Majah, dan Syaikh Albani menilainya sebagai hadits Hasan sebagaimana disebutkan dalam bukunya Shahih Ibn Majah.
 عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله ليطلع إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لعباده إلا اثنين: مشاحن, أو قاتل نفس))  رواه أحمد وابن حبان فى صحيحه
     Artinya: "Dari Abdullah bin Amer, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya akan menemui makhlukNya pada malam Nishfu Sya'ban, dan Dia mengampuni dosa hamba-hambanya kecuali dua kelompok yaitu orang yang menyimpan dengki atau iri dalam hatinya kepada sesama muslim dan orang yang melakukan bunuh diri" (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban sebagaimana ditulisnya dalam buku Shahihnya).

2.       DIKABULKAN DO'ANYA
     عن عثمان بن أبي العاص مرفوعا قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا كان ليلة النصف من شعبان نادى مناد: هل من مستغفر فأغفر له؟ هل من سائل فأعطيه؟ فلا يسأل أحد شيئا إلا أعطيه, إلا زانية بفرجها أو مشركا رواه البيهقى
     Artinya: "Dari Utsman bin Abil Ash, Rasulullah saw bersabda: "Apabila datang malam Nishfu Sya'ban, Allah berfirman: "Apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik" (HR. Baihaki)
     بلغنا أن الدعاء يستجاب فى خمس ليال: ليلة الجمعة, والعيدين, وأول رجب, ونصف شعبان. قال: واستحب كل ما حكيت فى هذه الليالي
     Artinya: "Telah sampai kepada kami riwayat bahwa dua itu akan (lebih besar kemungkinan untuk) dikabulkan pada lima malam: Pada malam Jum'at, malam Idul Fithri, malam Idul Adha, malam awal bulan Rajab, dan pada malam Nishfu Sya'ban. Imam Syafi'i berkata kembali: "Dan aku sangat menekankan (untuk memperbanyak doa) pada seluruh malam yang telah aku ceritakan tadi"

3.       MALAM TUTUP BUKU CATATAN AMAL
Bulan Sya'ban (termasuk malam Nishfu Sya'ban) adalah MALAM TUTUP BUKU CATATAN AMAL, di mana amal seseorang diangkat ke langit dan digantikan dengan buku baru. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya apabila amal kita yang paling akhir ditulis itu adalah amal yang sangat baik. Atau, alangkah lebih baik ketika amal kebaikan kita disetor dan diangkat ke langit, kita dalam keadaan sedang beribadah dan berbuat kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw di bawah ini:
     عن أسامة بن زيد قال: قلت: يا رسول الله, رأيتك تصوم فى شعبان صوما لا تصومه فى شيئ من الشهور إلا فى شهر رمضان, قال: ((ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب وشهر رمضان ترفع فيه أعمال الناس, فأحب أن لا يرفع عملى إلا وأنا صائم )) رواه النسائى وصححه الألبانى فى صحيح سنن النسائى
     Artinya: "Usamah bin Zaid berkata: "Saya berkata kepada Rasulullah saw: "Ya Rasulullah, saya melihat anda banyak melakukan puasa pada bulan Sya'ban ini. Padahal anda tidak melakukan puasa satu bulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan". Rasulullah saw bersabda: "Ini adalah bulan di mana orang-orang umumnya lalai yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan (maksudnya bulan Sya'ban) di mana pada bulan itu amal perbuatan manusia diangkat. Maka aku sangat menginginkan sekali tidak diangkat amal perbuatanku melainkan aku sedang berpuasa" (HR. Nasai dan hadits ini dipandang Hadits Shahih oleh Syaikh Albani dalam bukunya Shahih Sunan an-Nasa'i)

4.       Ditaburkannya kemulian (as-Syaraf), derajat yang tinggi (al-'Uluww), kebaikan dan keberkahan (al-Birr), kasih sayang (al-Ulfah) dan cahaya kebenaran (an-Nur).
     Imam Abdurrahman bin Abdus Salam ash-Shafury asy-Syafi'i, seorang ulama pada abad kesembilan Hijriyyah, mengatakan dalam bukunya Nuzhatul Majalis wa Muntakhab an-Nafais, bahwa kata Sya'ban (شعبان) itu adalah singkatan. Huruf Syin adalah singkatan dari kata asy-Syaraf (الشرف)yang artinya kemuliaan. Huruf 'ain singkatan dari al-'Uluww (العلو) yang artinya derajat dan kedudukan yang tinggi, terhormat. Huruf ba singkatan dari al-Birr (البر) yang berarti kebaikan dan keberkahan. Huruf alif berarti al-Ulfah (الألفة) yakni kasih sayang, dan huruf nun singkatan dari an-Nur (النور) yang artinya cahaya kebenaran.
Jadi orang yang beribadah sebaik mungkin pada bulan Sya'ban ini akan memperoleh lima hadiah, yakni kemuliaan, derajat yang tinggi, kebaikan, kasih sayang dan cahaya kebenaran. Apalagi apabila ibadah tersebut dilakukannya pada malam Nishfu Sya'ban, lima hadiah tadi tentu akan lebih berlipat lagi.

5.       Pada malam Nishfu Sya'ban, menurut pendapat yang paling kuat, turun perintah pengalihan kiblat dari Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) menghadap Majidil Haram (Ka'bah) di Mekah.
     Sebelum menghadap Ka'bah, kiblat pertama ummat Islam adalah Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis). Dalam berbagai riwayat disebutkan, Rasulullah saw dan para sahabatnya shalat menghadap Masjidil Aqsha ini kurang lebih selama enam belas bulan. Rasulullah saw lalu tidak henti-hentinya berdoa agar Allah menggantikan kiblat tersebut dengan tempat lain, yakni Ka'bah. Hal ini mengingat, Baitul Maqdis adalah tempat suci juga bagi ummat lainnya, yaitu Nashrani dan Yahudi. Allah lalu mengabulkan doa Rasulullah saw dengan turunnya surat al-Baqarah ayat 144 sebagai perintah untuk berpindah kiblat dari Masjidil Aqsha menuju Ka'bah (Masjidil Haram) di Mekah:
     قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (البقرة: 144)
     Artinya: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan" (QS. Al-Baqarah: 144)

6.       Pada bulan Sya'ban juga turun ayat perintah untuk membaca shalawat kepada Rasulullah saw. Ayat dimaksud adalah firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 56:
     إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: 56)
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya" (QS. Al-Ahzab ayat 56).

7.       Malam Nishfu Sya'ban disebut juga dengan MALAM AL-BARA'AH yang berarti malam pembebasan atau malam kesucian.
       Disebut malam pembebasan atau al-Bara'ah, karena di dalamnya terdapat dua pembebasan; pembebasan orang-orang banyak dosa dari siksa Allah, apabila mereka bertaubat dan kembali kepada Allah khususnya pada malam Nishfu Sya'ban tersebut, juga pembebasan bagi orang-orang shaleh dari kerendahan dan kesulitan yang dihadapinya, karena Allah telah meridhainya dan Allah telah memberikan kasih sayang dan ampunanNya. Dan apabila Allah memberikan sesuatu, maka pemberiannya akan sangat berlimpah dan berlipat.

8.       Malam Nishfu Sya'ban, dalam sebuah riwayat disebutkan, adalah MALAM HARI RAYANYA PARA MALAIKAT.
     Apabila manusia mempunyai dua hari raya besar yakni Idul Fitri dan Idul Adha, malaikat pun memiliki dua hari raya, yakni malam Nishfu Sya'ban dan malam Lailatul Qadar. Hanya, kedua hari raya malaikat tersebut jatuhnya pada malam hari, lantaran para malaikat tidak pernah tidur, sementara hari raya manusia jatuhnya siang hari, lantaran pada malam harinya manusia tidur. Riwayat tersebut penulis dapatkan dari tulisan DR. Muhammad Mutawalli Manshur dalam tulisannya berjudul: "Minal Qayyim wal Ma'ani al-Imaniyyah fi Syahri Sya'ban al-Mubarak", dalam tabloid mingguan Shaut al-Azhar edisi Jum'at, 8 Desember 2006. Juga dari buku Risalatul Kasyf wal Bayan 'An Fadhail Lailatin Nishfi Min Ramadhan karya seorang ulama al-Azhar yang bernama Syaikh Salim as-Sanhuri al-Maliki. Dalam bukunya itu, ia mengutip sebuah riwayat dari Abu Abdullah Thahir bin Muhammad bin Ahmad al-Hadady dalam bukunya 'Unwanul Majalis di mana disebutkan bahwa:
     لقد قيل: إن للملئكة ليلتى عيد فى السماء, كما أن للمسلمين يومى عيد فى الأرض. فعيد الملائكة: ليلة البراءة (وهي ليلة النصف من شعبان) وليلة القدر. وعيد المؤمنين: يوم الفطر ويوم الأضحى, وعيد الملائكة بالليل لأنهم لا ينامون, وعيد المؤمنين بالنهار لأنهم ينامون.
     Artinya: "Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Sesungguhnya malaikat mempunyai dua malam hari raya di langit, sebagaimana orang-orang muslim mempunyai dua hari raya di bumi. Dua hari raya malaikat adalah malam Bara'ah (yaitu malam Nishfu Sya'ban) dan malam Qadar (Lailatul Qadar). Sedangkan dua hari raya orang-orang mukmin adalah hari raya Idul Fithri dan Idul Adha. Hanya, saja, hari rayanya malaikat itu terjadi di malam hari, lantaran mereka tidak pernah tidur, sementara hari raya manusia jatuh pada siang hari, lantaran (pada malam hari) mereka tidur".

MALAM PENENTUAN AJAL DAN RIZQI
Di antara keistimewaan lainnya dari malam Nishfu Sya'ban adalah bahwa pada malam Nishfu Sya'ban ini Allah menentukan umur dan rezeki seseorang. Maksudnya, pada malam Nishfu Sya'ban inilah Allah menetapkan siapa-siapa saja yang akan meninggal pada satu tahun ke depan, termasuk menetapkan bagaimana rezeki seseorang pada satu tahun itu.
Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar di antara doa yang harus dipanjatkan pada malam Nishfu Sya'ban itu, selain bertaubat, memohon ampun atas segala dosa, juga mohon dipanjangkan umur dan lebih dimudahkan rezeki. Karena, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ajal dan rezeki akan berubah ketentuannya dengan jalan berdoa pada malam Nishfu Sya'ban ini. Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya mengatakan bahwa seseorang yang sudah tertera namanya termasuk daftar yang akan dicabut nyawanya pada tahun itu, namun karena dengan mengisi ibadah dan berdoa pada malam Nishfu Sya'ban, akhirnya Allah hapus taqdir ajalnya tadi, dan ia kembali seperti biasa, bahkan bisa menikah, dan melakukan aktifitas sehari-hari.
Di antara hadits-hadits dan riwayat yang mengatakan bahwa malam Nishfu Sya'ban atau bulan Sya'ban ini adalah malam penentuan sekaligus penghapusan ajal dan rezeki adalah seperti di bawah ini. Hanya saja, perlu penulis sampaikan bahwa hadits-hadits tersebut umumnya dhaif dan ada beberapa hadits yang belum sempat penulis lacak perawinya. Namun demikian, hadit-hadits yang berbicara seputar hal itu sangat banyak dan beragam sehingga, hemat penulis, masih boleh kita pakai, paling tidak sebagai fadhailul 'amal (keutamaan Amal), agar kita lebih dapat memanfaatkan malam Nishfu Sya'ban ini untuk beribadah kepada Allah.
     عن عثمان ين مغيرة بن الأخنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((تقطع الآجال من شعبان إلى شعبان حتى إن الرجل ينكح ويولد له ولقد خرج اسمه فى الموتى)) رواه الطبرانى, والبيهقى وقال ابن كثير فى تفسيره: والحديث مرسل
     Artinya: "Dari Utsman bin Mugirah bin al-Akhnas, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: "Jatah umur, ajal seseorang itu dapat dihapus dari bulan Sya'ban ke bulan Sya'ban yang lain, sehingga seseorang bisa menikah, melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang dicabut nyawanya (orang-orang mati)" (HR. Thabrani, Baihaki. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits Mursal).
     عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ليلة النصف من شعبان تنسخ فيها الآجال والأرزاق)) ذكره فى الفردوس
     Artinya: "Dari Aisyah, Rasulullah saw bersabda: "Malam Nishfu Sya'ban itu dapat menghapus ketentuan ajal dan rezeki" (Hadits tersebut terdapat dalam kitab al-Firdaus).
     عن عائشة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم شعبان كله حتى يصله برمضان, ولم يكن يصوم شهرا تاما إلا شعبان, فإنه كان يصومه كله فقلت: يا رسول الله إن شعبان لمن أحب الشهور إليك أن تصومه. فقال: نعم يا عائشة, إنه ليس من نفس تموت فى سنة إلا كتب أجلها فى شعبان, فأحب أن يكتب أجلى وأنا فى عبادة ربي وعمل صالح. ذكره ابن الجوزى فى التبصرة.
     Artinya: "Siti Aisyah berkata: "Adalah Rasulullah saw berpuasa pada bulan Sya'ban satu bulan penuh sehingga beliau menyambungnya dengan bulan Ramadhan. Beliau tidak melakukan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Sya'ban, beliau melakukannya satu bulan penuh. Saya lalu berkata: "Wahai Rasulullah saw, apakah bulan Sya'ban adalah bulan yang paling anda sukai untuk melakukan puasa?" Rasulullah saw menjawab: "Ya betul wahai Aisyah, tidak ada satupun jiwa yang akan mati pada satu tahun ke depan kecuali ditentukan terlebih dahulu umurnya pada bulan Sya'ban. Dan aku sangat menginginkan seandainya ketika umurku ditulis dan ditentukan, aku dalam keadaan beribadah dan beramal shaleh kepada Tuhanku"
(Dikutip dari buku at-Tabshirah karya Ibnul Jauzi).

Demikian di antara hadits-hadits yang berbicara bahwa ajal dan rezeki seseorang ditentukan kembali setiap tahun. Bahkan, ketentuan tahunan itu dapat berubah dan diubah dengan ibadah yang dilakukan pada malam Nishfu Sya'ban ini.
Barangkali di antara pembaca ada yang bertanya, bagaimana mungkin ajal dan rezeki dapat dirubah, bukankah dia telah ditetapkan jauh-jauh hari, yakni ketika masih dalam perut ibu berusia 120 hari? Apakah betul qadha dapat dirubah?
Untuk menjawab pertanyaan ini penulis terlebih dahulu akan menyampaikan sebuah hadits shahih di mana Rasulullah saw bersabda:
     عن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((من أحب أن يمد الله قى عمره ويزيد فى رزقه فليصل رحمه))  [رواه البخارى ومسلم]
     Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang hendak dipanjangkan umurnya dan ditambah rezekinya oleh Allah, maka perbanyaklah silaturahim" (HR. Bukhari Muslim).
Dalam hadits di atas pun Rasulullah saw mengatakan bahwa umur seseorang dapat lebih lama dan rezeki seseorang juga dapat lebih banyak, dengan jalan memperbanyak silaturahmi. Mengapa Rasulullah saw mengatakan demikian, bukankah beliau sendiri telah mengatakan dalam hadits Shahih lainnya bahwa umur dan rezeki sudah ditetapkan sejak di perut ibu? Bahkan dalam al-Qur'an sudah ditentukan bahwa umur tidak dapat dipajukan atau dipundurkan sedikitpun (QS. Al-Araf: 34)? Ini semua menunjukkan bahwa seseorang, dengan idzin Allah, dapat merubah ajal dan rezekinya apabila dia melakukan petunjuk dari Rasulullah saw di atas, di antaranya dengan jalan memperbanyak silaturahmi dan berdoa pada malam Nishfu Sya'ban.
Kini, mari kita ikuti bagaimana pendapat para ulama tentang hal ini. Dalam kitab karya Imam Nawawi, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi (8/356,357) juga Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/510, 511), disebutkan bahwa Qadha atau ketentuan Allah itu ada dua; mubram (yang sudah tentu) dan mu'allaq (yang tergantung).
Qadha mubram adalah ketentuan Allah yang bersifat pasti, tidak dapat berubah dan tidak dapat diubah. Sedangkan qadha mu'allaq adalah ketentuan Allah yang sifatnya masih tergantung, belum pasti. Misalnya, Allah menetapkan bahwa umur si fulan adalah 60 tahun, namun apabila ia melakukan silaturahim dan melakukan ibadah secara sungguh-sungguh pada malam Nishfu Sya'ban, maka umurnya akan mencapai 100 tahun. Jadi ketentuan Allah bahwa usia si fulan 60 tahun adalah qadha mubram, sedangkan ketentuan Allah yang 100 tahun adalah qadha mu'allaq.
Ayat yang mengatakan bahwa Allah telah menentukan umur seseorang sebagaimana disebutkan di atas, maksudnya adalah qadha mubram. Namun ini tidak berarti bahwa hal tersebut tidak dapat dirubah melalui silaturahim dan ibadah serta berdoa pada malam Nishfu Sya'ban karena masih ada qadha yang satu lagi yaitu qadha mu'allaq. Oleh karena itu, orang yang melakukan ibadah dan berdoa sebanyak dan dengan sungguh-sungguh pada malam Nishfu Sya'ban ini juga sering melakukan silaturahim akan dipanjangkan umurnya dalam pengertian betul-betul dipanjangkan umurnya, yakni melalui qadha mu'allaq ini. Wallahu 'alam.

MENGHIDUPKAN MALAM NISHFU SYA'BAN
Di atas telah sama-sama kita bahas secara panjang lebar mengenai keutamaan malam Nishfu Sya'ban serta beberapa hal yang erat kaitannya dengan persoalan di atas. Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara mengisi malam Nishfu Sya'ban ini agar tidak berlalu begitu saja? Dengan bahasa lebih mudah, amalan ibadah apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengisi malam Nishfu Sya'ban tersebut?
Sebelum membahas persoalan di atas, perlu penulis sampaikan bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya'ban dengan serangkaian ibadah adalah dianjurkan oleh Rasulullah saw. Bahkan, dalam haditsnya Rasulullah saw mengatakan, agar pada malam tersebut, kalau bisa, jangan tidur sekalipun sekejap. Mengapa? Semua ini sekali lagi lantaran kemuliaan dan keistimewaan malam tersebut yang tidak boleh berlalu begitu saja. Plus malam Nishfu Sya'ban ini datang setahun sekali, yang boleh jadi pada tahun depan kita belum tentu dapat bertemu dengannya. Oleh karena itu, sambut dan isilah dengan serangkaian ibadah sebanyak dan sebaik mungkin. Dalam haditsnya Rasulullah saw bersabda:
     عن علي بن إبي طالب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا كان ليلة نصف شعبان فقوموا ليلها, وصوموا نهارها, فإن الله تعالى ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا, فيقول: ألا مستغفر فأغفرله, ألا مسترزق فأرزقه, ألا مبتلى فأعافيه, ألا كذا ألا كذا, حتى يطلع الفجر  [رواه ابن ماجه والحديث ضعفه الألبانى]
Artinya: "Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda: "Apabila sampai pada malam Nishfu Sya'ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah akan turun ke dunia pada malam tersebut sejak matahari terbenam dan Allah berfirman: "Tidak ada orang yang meminta ampun kecuali Aku akan mengampuni segala dosanya, tidak ada yang meminta rezeki melainkan Aku akan memberikannya rezeki, tidak ada yang terkena musibah atau bencana, kecuali Aku akan menghindarkannya, tidak ada yang demikian, tidak ada yang demikian, sampai terbit fajar" (HR. Ibnu Majah dan hadits tersebut dinilai Hadits Dhaif oleh Syaikh al-Albany)

MEMBACA SURAT YASIN TIGA KALI
Para ulama shaleh dahulu menyarankan, sebagaimana dikutip oleh Imam Abdul Ghani bin Ismail an-Nablusy dalam bukunya Fadhail al-Ayyaam wasy-Syuhuur (hal 38), membaca surat Yasin pertama hendaknya diniatkan untuk panjang umur dalam keadaan sehat wal a'fiyat, membaca surat Yasin kedua niatkan untuk terhindar dari malapetaka atau bencana di tahun depan, dan membaca surat Yasin ketiga niatkan agar lebih dimudahkan rizki, tidak bergantung kepada manusia.
Kemudian, para ulama shaleh juga menganjurkan, setiap selesai membaca surat Yasin (baik yang pertama, kedua maupun ketiga), hendaknya diselingi dengan membaca doa di bawah ini:
بسم الله الرحمن الرحيم
     اللهم إذا طلعت ليلة النصف من شعبان على خلقك فعد علينا بمنك وعتقك, وقدر لنا من فضلك, وواسع رزقك, واجعلنا ممن يقوم لك فيها ببعض حقك. اللهم من قضيت فيها بوفاته فاقض مع ذلك رحمتك, ومن قضيت طول حياته فاجعل مع ذلك نعمتك, وبلغنا ما لا تبلغ الآمال إليه, يا خير من وقفت الأقدام بين يديه يا رب العالمين, برحمتك يا أرحم الراحمين, وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين.
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alloohumma idzaa thola'ta lailatan nishfi min sya'baan 'alaa kholqika, fa'ud 'alainaa bimannika wa 'itqik, wa qoddir lanaa min fadhlika, wa waasi'i rizqik, waj'alnaa mimman yaquumu laka fiihaa bi'badhi haqqik.
Alloohumma man qadhoita fiihaa biwafaatihii faqdhi ma'a dzaalika rahmatak, waman qadhaita thuula hayaatihii faj'al ma'a dzaalika ni'matak, waballighnaa maa laa tablughul aamaalu ilaih, ya khoira man waqofatil aqdaam baina yadaiih, yaa robbal 'aalamiin, birohmatika yaa arhamar roohimiin, wa shollolloohu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihii wa shohbihii ajma'iin.
Artinya: "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Ya Allah, apabila Eukau telah mendatangkan malam Nishfu Sya'ban (malam pertengahan Bulan Sya'ban) kepada makhlukMu, maka curahkanlah kepada kami karunia dan pembebasanMu (pembebasan dari api neraka), dan tentukanlah kami sebagai orang-orang yang mendapatkan karuniaMu, kelimpahan rizkiMu, serta jadikanlah kami sebagai orang-orang yang melaksanakan di antara hakMu.
Ya Allah, siapapun yang Eukau tetapkan untuk meninggal dunia pada malam Nishfu Sya'ban ini, maka tetapkanlah bersamanya kasih sayangMu, dan siapapun yang Eukau tetapkan pada malam Nishfu Sya'ban ini panjang umur, maka tetapkanlah bersamanya curahan nikatMu, serta sampaikan kami kepada sesuatu yang tidak dapat diraih oleh cita-cita dan keinginan, ya Allah Tuhan sebaik-baik Pemberi orang-orang yang memohon, ya Allah Tuhan pemelihara alam semesta, hanya karena kasih sayangMu (doa dan harapan terpenuhi) ya Allah Tuhan sebaik-baik Pemberi rahmat. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat kepada Nabi Muhammad saw dan seluruh para sahabatnya".
Atau boleh juga selesai membaca doa di atas, (setelah membaca surat Yasin pertama), kita juga mendoakan keluarga kita yang sudah meninggal dunia. Minta kepada Allah agar diampuni dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya, serta doa-doa lainnya khusus untuk yang telah meninggal dunia.
Sedangkan setelah membaca doa di atas selesai membaca surat Yasin kedua, kita juga mendoakan orang-orang yang dekat dengan kita yang masih hidup, seperti orang tua, kakak, atau siapa saja. Doakan agar Allah memanjangkan umur mereka dalam keadaan sehat dan taat, serta agar lebih dimudahkan rezekinya juga diberkahi rizkinya. Jangan lupa juga doakan mereka agar diampuni segala dosa dan kesalahannya. Di samping tentunya doa-doa lainnya.
Setelah membaca doa di atas selesai membaca surat Yasin ketiga, kita juga berdoa untuk diri sendiri dan keluarga (Suami dan Anak-anak). Ungkapkan apa saja dan semuanya kepada Allah. Hanya, jangan lupa berdoa untuk panjang umur dalam keadaan sehat dan taat, juga lebih dimudahkan dalam hal rezeki dan diampuni segala dosa dan kesalahan, serta dihindarkan dari segala bencana dan malapetaka yang akan menimpa. Curhatlah kepada Allah dan ungkapkan semua persoalan yang dihadapi. Semakin lama dan banyak berdoa, tentu semakin baik dan utama (selain itu, pada lampiran penulis juga mengetengahkan doa-doa yang juga dapat dibaca selesai membaca surat Yasin, atau pada saat apa saja selama masih pada malam Nishfu Sya'ban).

REFERENSI
  1. Kitab كنز النجاح والسرور في الأدعية التي تشرح الصدور (Kanzun Najah Wassurur Fil Ad'iyah allati Tasyrohush Shudur halaman 57 s/d 64 karya : Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali Kudus, Pengajar dan Imam di Masjidil Haram tahun 1280 s/d 1334 Hالشيخ عبد الحميد محمد علي قدس  المدرس والإمام بالمسجد الحرام  1280هـ - 1334هـ,
Berikut teks arabnya dari kitab tersebut:
     وقد جمع دعاء مأثور مناسب للحال خاص بليلة النصف من شعبان مشهور، يقرؤه المسلمون تلك الليلة الميمونة فرادى وجمعا في جوامعهم وغيرها، يلّقنهم أحدهم ذلك الدعاء، أو يدعو وهم يؤمّنون، كما هو معلوم.
     وكيفيته: تقرأ أولا قبل ذلك الدعاء بعد صلاة المغرب سورة يس (ثلاثا): الأولى بنية طول العمر، والثانية بنية دفع البلاء، والثالثة بنية الإستغناء عن الناس. وكلما تقرأ السورة مرة تقرأ بعدها الدعاء مرة. وهذا هو الدعاء المبارك:
     (بسم الله الرحمن الرحيم، وصلّى الله على سيدّنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، اللهم يا ذا المنّ ولا يمنّ عليه يا ذا الجلال والإكرام يا ذا الطول والإنعام، لا إله إلا أنت ظهر اللاجين، وجار المستجيرين، ومأمن الخائفين. اللهم إن كنت كتبتني عندك في أمّ الكتاب شقّيا أو محروما أو مطرودا أو مقتّرا علّي في الرزق فامح اللهم بفضلك شقاوتي وحرماني وطردي وإقتار رزقي، وأثبتني عندك في أمّ الكتاب سعيدا مرزوقا موفقا للخيرات، فإنّك قلت وقولك الحق في كتابك المنزّل، على لسان نبيك المرسل: {يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أمّ الكتاب} إلهي بالتجلّي الأعظم، في ليلة النصف من شعبان المكرّم، التي يفرق فيها كل أمر حكيم ويبرم، أسألك أن تكشف عنّا من البلاء ما نعلم وما لا نعلم، وما أنت به أعلم، إنك أنت الأعزّ الأكرم، وصلّى الله تعالى على سيدّنا محمد وعلى آله وصحبه وسلّم) انتهى.

2. Kitab شهر شعبان ماذا فيه ؟ (Syahru Sya'baana Maadzaa Fiih ?) karya Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki السيد محمد الحسن بن علوي بن عباس بن عبد العزيز المالكي
Berikut teks arabnya dari kitab tersebut:
دعاء مشهور ومجّرب
     وقد جرت العادة بقراءة هذا الدعاء مع ترتيب سورة (يس ) وهو : ( بسم الله الرحمن الرحيم ، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم . اللهم يا ذا المن ولا يمن عليه يا ذا الجلال والإكرام يا ذا الطول والإنعام ، لا إله إلا أنت ظهر اللاجئين ، وجار المستجيرين ، ومأمن الخائفين . اللهم إن كنت كتبتني عندك ( في أم الكتاب ) شـقـياً أو محـرومـاً أو مطروداً أو مقتراً عليّ في الرزق فامح اللهم بفضلك شقاوتي وحرماني وطردي وإقتار رزقي وأثبتني عندك في أم الكتاب سعيداً مرزوقاً موفقاً للخيرات، فإنك قلت وقولك الحق في كتابك المنزل على لسان نبيك المرسل: ﴿ يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب ﴾ (1) سورة الرعد آية 39
     إلهي بالتجلي الأعظم في ليلة النصف من شهر شعبان المكرم التي يفرق فيها كل أمر حكيم ويبرم، أسألك أن تكشف عنا من البلاء ما نعلم وما لا نعلم، وما أنت به أعلم ، إنك أنت الأعز الأكرم .
     وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم . انتهى .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013