Minggu, 19 Juni 2011

Fiqh Ziarah ( 49 )


KUBAH HIJAU DALAM PANDANGAN SYAIKH MUHAMMAD
IBNU ABDIL WAHHAB

Adapun mengenai perihal kubah hijau, maka sebagian kalangan Wahabi menisbatkan kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab pendapat untuk menghilangkan dan merobohkannya. Namun ternyata Syaikh menolak keras pandapat ini dan lepas tangan darinya. Dalam beberapa bagian dari risalah-risalahnya, Dia menampik pandangan ini. Dalam bagian pertama dari risalahnya untuk warga Al Qashim, dia berkata, "
Inilah aqidah singkat yang saya tulis dalam suasana hati yang   kacau agar kalian bisa melihat pandangan saya. Kepada Allah saya berserah diri atas apa yang saya ucapkan."
Diantara kebohongan Sulaiman adalah : bahwa saya menganggap sesat semua kitab madzhab empat; bahwa manusia semenjak 600 tahun yang silam tidak menganut agama yang benar; saya mengklaim mampu berijtihad dan lepas dari taqlid; perbedaan para ulama adalah bencana dan saya mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang shalih, dan saya mengkafirkan Imam Al-Bushoiri karena ucapannya : wahai makhluk paling mulia; seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Rasulullah Saw maka saya akan melakukannya dan jika mampu mengmbil talang ka`bah yang terbuat dari emas maka saya akan menggantinya dengan talang kayu; saya mengharamkan ziarah ke makam Nabi Saw dan mengingkari ziarah ke makam kedua orang tua dan makam orang lain; saya mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah, mengkafirkan Ibnu Faridl dan Ibnu `Araby, dan bahwasanya saya membakar kitab Dalailul Khairaat dan Raudlul Rayaahin yang kemudian saya namakan Raudlul Syayaathiin.
Jawaban saya atas tuduhan telah mengucapkan perkataan-perkataan di atas adalah :
سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ
"Maha suci engkau, ini ( apa yang ditiduhkan Sulaiman ) adalah kebohongan yang besar" (Q.S.An Nur : 16)

Dikutip dari kumpulan karya Syaikh Muhammad ibnu `Abdil wahhab, bagian kelima, risalah pertama dari Al Rasaail Al Syakhshiyyah hlm. 12 dan Al Durar Al Saniyyah vol. I hlm. 28.

Bagian kedua dari suratnya yang ia kirimkan kepada warga Iraq adalah yang dikirimkan kepada Al Suwaidi salah seoran ulama Iraq. Al Suwaidi sebelumnya mengirimkan buku kepada Syaikh menanyakan komentar orang terhadap buku tersebut. Syaikh pun menjawabnya dengan surat di atas yang di dalamnya saat menolak ucapan yang dinisbatkan kepadanya dan menegaskan kebohongannya, ia berkata, "Di antara masalah-masalah tersebut adalah : Menyebarkan kebohongan adalah salah satu yang memalukan untuk diceritakan bagi orang yang berakal apalagi melakukannya; apa yang kalian sebutkan bahwa saya mengkafirkan semua orang kecuali pengikutku dan saya menilai bahwa pernikahan mereka tidak sah. Sungguh aneh, bagaimana pandangan-pandangan semacam ini masuk ke dalam akal seseorang yang berakal. Apakah ada orang muslim, kafir, orang yang pintar atau orang gila yang mengatakannya?. Demikian pula ucapan mereka bahwa Syaikh mengatakan : "Seandainya saya mampu menghancurkan kubah Nabi Saw maka saya akan melakukannya. Adapun menyangkut Dalailul Khairat maka ada penyebabnya, yaitu saya memberi saran kepada salah seorang teman yang menerima nasehatku agar di dalam hatinya jangan sampai kedudukan Dalailul Khairat lebih agung dari Al Qur`an serta menganggap bahwa membacanya lebih utama dari pada membaca Al Qur`an. Adapun perintah untuk membakar Dalailul Khairat dan melarang membaca shalawat untuk Nabi dengan menggunakan ungkapan apapun maka hal ini adalah sebuah kebohongan."
(Kumpulan karya Syaikh Muhammad ibnu `Abdil Wahhab bagian kelima dalam Al Rasaail Al Syakhshiyyah hlm. 37, risalah kelima yang tercantum dalam Al Durar Al Saniyyah vol. I hlm. 54).

Sikap Syaikh Muhammad ibnu `Abdil Wahhab ini adalah kebijaksanaan dan kebenaran sesungguhnya. Sikap ini adalah siasat syar`i yang wajib menghiasi perilaku ulama, para pembimbing, dan para guru dalam menyuruh, melarang, memberi petuah dan memberi petunjuk.
Almarhum Syaikh adalah figur yang sangat antusias menepis anggapan para pendusta dan membantah ucapan penebar fitnah yang menisbatkan pandangan negatif kepadanya. Anda bisa melihat dalam beberapa kesempatan ia menolak pandangan-pandangan negatif itu karena pentingnya persoalan ini dan karena bisa berdampak buruk, terjadi fitnah dan kejelekan yang bisa menimbulkan bencana dan malapetaka yang tidak kita inginkan.Lalu dimanakah posisi Syaikh dari orang yang ilmu pengetahuan itu sempit dalam pandangan kedua matanya dan tidak menemukan persoalan yang ia tulis atau kajian yang ia persembahkan kecuali masalah kubah hijau. Sungguh betapa sempitnya akal seseorang yang batas pengetahuannya hanya mencapai merobohkan kubah hijau dan betapa dungunya ilmu seseorang yang kajian di atas adalah hasilnya.

 Kami memiliki kajian khusus menyangkut tema di atas dan memohon kepada Allah agar dimudahkan untuk menyelesaikannya dan menerbitkannya dengan pertolongan dan karunia-Nya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013