Minggu, 05 Juni 2011

Fiqh Tawassul ( 26 )


TAWASSUL DENGAN FIGUR SELAIN NABI SAW

Dari ‘Utbah ibn Ghazwan dari Nabi SAW, beliau berkata :
  إِذَا أَضَلَّ أَحَدُكُمْ شَيْئًا أَوْ أَرَادَ عَوْنًا وَهُوَ بِأَرْضٍ لَيْسَ بِهَا أَنِيْسٌ فَلْيَقُلْ : يَاعِبَادَ اللهِ أَعِيْنُوْنِيْ فَإِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا لاَ نَرَاهُمْ.
Jika salah satu dari kalian kehilangan sesuatu atau mengharapkan pertolongan pada saat ia berada di tempat tak berpenghuni, maka bacalah : Wahai para hamba Allah, berilah aku pertolongan. Karena Allah memiliki para hamba yang kalian tidak mampu melihatnya.
Bacaan ini telah dibuktikan mujarab. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Thabarani. Para perawinya dikategorikan dapat dipercaya hanya saja ada sebagian dianggap lemah. Namun Yazid ibn ‘Ali tidak pernah berjumpa dengan ‘Utbah.

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda :  
إِنَّ ِللهِ مَلاَئِكَةً فِي اْلأَرْضِ سِوَى الْحَفَظَةِ يَكْتُبُوْنَ مَا يَسْقُطُ مِنْ وَرَقِ الشَّجَرِ , فَإِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ عُرْجَةً بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَلْبُنَادِ : "أَعِيْنُوْنِيْ يَاعِبَادَ اللهِ !
"“Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang bertugas mencatat daun yang jatuh dari pohon. Jika salah seorang dari kalian mengalami kepincangan di padang pasir maka berserulah : "Bantulah aku, wahai para hamba Allah."
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Thabarani dan para perawinya dapat dipercaya.

Dari Abdullah ibn Mas’ud, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :
  إِذَا انْفَلَتَتْ دَابَّة ُأَحَدِكُمْ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَلْيُنَادِ : "يَاعِبَادَ اللهِ , اَحْبِسُوْا ! يَاعِبَادَ اللهِ , اَحْبِسُوْا !" فَإِنَّ لِلَّهِ حَاضِرًا فِي اْلأَرْضِ سَيَحْبِسُهُ.
 “Jika binatang tunggangan kamu lepas di padang sahara, maka berteriaklah : Wahai para hamba Allah tangkaplah, wahai para hamba Allah tangkaplah !, karena ada malaikat Allah di bumi yang akan menangkapnya.”
HR Abu Ya’la dan Al Thabarani yang memberikan tambahan :
 وَسَيَحْبِسُهُ عَلَيْكُمْ
“Malaikat itu akan menangkapnya untuk kalian.”
Dalam hadits ini ada Ma’ruf ibn Hassan yang statusnya lemah. Majma’ul (Tersebut dalam Zawaaid wa Manba’ul Fawaaid karya Al Hafidh ibn ‘Ali ibn Abi Bakr Al Haitsami Vol. X hlm. 132.) Ini juga termasuk tawassul dengan cara memanggil.
Terdapat keterangan bahwa Nabi SAW setelah dua rakaat fajar membaca :
 الَلَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيْلَ وَاِسْرَافِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَمُحَمَّدٍ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Ya Allah, Tuhan Jibril, Israfil, Mikail, dan Muhammad, saya berlindung kepada-Mu dari api neraka.”
Al Nawawi dalam Al Adzkar mengatakan, “Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Al Sunni . Setelah melakukan takhrij Al Hafidh mengatakan, “Hadits ini adalah hadits hasan.”
Syarhul Adzkaar karya Ibnu ‘Ilaan vol. II hlm 139.
Penyebutan secara khusus Jibril, Israfil, Mikail dan Muhammad mengandung arti tawassul dengan mereka. Seolah-olah Nabi berkata, "Ya Allah, aku bertawassul kepada-Mu dengan Jibril dan seterusnya…."
Ibnu ‘Ilan telah mengisyaratkan hal ini dalam Syarh Al Adzkaar. “Tawassul kepada Allah dengan sifat ketuhanan-Nya, terhadap ruh-ruh yang agung,” katanya. Ibnu ‘Ilan dalam Syarh Al Adzkaar vol II hlm. 29 menegaskan disyari’atkannya tawassul. Ia menyatakan seraya menta’liq hadits Allaahumma Innii As’aluka bi Haqqissaailin, “Hadits ini mengandung tawassul dengan kemuliaan orang-orang baik secara umum dari para pemohon   berdoa. Disamakan dengan mereka adalah para Nabi dan rasul dalam kadar yang lebih.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013