Jumat, 17 Juni 2011

Fiqh Ziarah ( 30 )


BERULANG-ULANG MENUJU / BOLAK-BALIK KE LOKASI-LOKASI PENINGGALAN KENABIAN, TEMPAT-TEMPAT
KEAGAAMAAN DAN MEMOHON BERKAH
DENGAN MENZIARAHINYA

Dalam topik ini Al Syaikh Ibnu Taimiyyah menulis pandangan yang sangat positif yang saya kutip dari tulisan faidah-faidah pentingnya di bawah ini :
Adapun maqaamatul Anbiyaa’ washshoolihin yaitu lokasi-lokasi di mana para nabi dan orang-orang shalih pernah menetap, tinggal atau beribadah kepada Allah di dalamnya namun mereka tidak menjadikannya sebagai masjid maka ada dua pendapat dari para ulama ternama yang sampai kepada saya :
Pertama,
 larangan dan kemakruhan merencanakan datang ke lokasi-lokasi tersebut dan sesungguhnya tidak disunnahkan mendatangi sebuah tempat untuk beribadah kecuali jika tujuan ke tempat itu untuk beribadah sesuai dengan ajaran syara’ seperti Nabi Saw pernah sengaja datang ke sebuah tempat untuk beribadah semisal tujuan untuk sholat di maqam Ibrahim dan sebagaimana beliau sengaja untuk sholat di dekat tiang. Juga seperti beliau sengaja datang ke masjid untuk sholat dan menempati shaf awal dan lain sebagainya.

Kedua,
tidak apa-apa melakukan sedikit dari hal-hal di atas sebagaimana dikutip dari Ibnu ‘Umar bahwasanya ia sengaja mendatangi tempat-tempat yang pernah dilewati Nabi meskipun beliau Saw melewatinya cuma kebetulan bukan kesengajaan.

 Al Sanadi Al Khawatimi berkata, “Saya bertanya kepada Abu Abdillah ( Ahmad ibnu Hanbal ) perihal seorang lelaki yang pergi mendatangi lokasi-lokasi yang diharapkan mendapat keberkahan. “Apa pendapatmu ?” tanyaku. “Adapun sesuai dengan hadits Ibnu Ummi Maktum bahwasanya ia memohon kepada Nabi agar beliau sholat di rumahnya hingga tempat sholat beliau dijadikan musholla dan sesuai dengan tindakan Ibnu ‘Umar mengamati tempat-tempat yang pernah didatangi Nabi dan jejak-jejak peninggalan beliau maka mendatangi tempat-tempat yang diharapkan memberi keberkahan tersebut tidak apa-apa. Hanya saja orang-orang telah bersikap melewati batas dan terlalu banyak melakukannya,” jawab Abu Abdillah.
Sebagaimana Al Sanadi, Ahmad ibnu Al Qasim juga mengutip dari Abu Abdillah bahwasanya Abu Abdillah ditanya perihal seorang lelaki yang pergi mendatangi lokasi-lokasi yang diharapkan mendapat keberkahan di atas yang berada di Madinah Munawwarah dan sebagainya. Abu Abdillah menjawab, “Adapun sesuai dengan hadits Ibnu Ummi Maktum bahwasanya ia memohon kepada Nabi agar datang ke rumahnya dan sholat di tempat tersebut hingga tempat itu dijadikan musholla atau sesuai dengan tindakan Ibnu ‘Umar yang mengamati tempat-tempat yang dilewati beliau hingga terlihat ia menumpahkan air di tempat berair lalu ia ditanya tentang tindakannya ini. “Dulu Nabi Saw pernah menumpahkan air di tempat ini,” jawab Ibnu ‘Umar. “Adapun sesuai dengan tindakan Ibnu ‘Umar maka mendatangi tempat-tempat yang diharapkan mendapat keberkahan di atas maka hal ini tidak apa-apa,” jawab Abu Abdillah.
Kata Al Sanadi Abu Abdillah memperbolehkan mendatangi tempat-tempat yang diharapkan memberi keberkahan. “Hanya saja orang-orang bersikap terlalu berlebihan dan terlalu sering melakukan hal ini,” lanjut Abu Abdillah. Kemudian Abu Abdillah menyebut kuburan Al Husain dan aktivitas yang dilakukan orang-orang di tempat itu. Kedua hadits di atas diriwayatkan oleh Al Khallaal dalam Kitabul Adab.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013