Selasa, 14 Juni 2011

Fiqh Ziarah ( 06 )


SHALAT PARA NABI DI DALAM KUBURAN MEREKA DAN AKTIVITAS IBADAH LAIN
Salah satu buah kehidupan hakiki dalam alam barzakh adalah para nabi melakukan sholat di dalam kuburan mereka dengan shalat yang sesungguhnya bukan bersifat fantasi atau imajinasi. Ada beberapa hadits mengenai topik ini : 

Dari Anas ibnu Malik, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda :

َاْلأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ

“Para nabi itu hidup dalam kuburan mereka dalam keadaan mengerjakan sholat.”
HR Abu Ya’la dan Al Bazzaar. Para perawi Abu Ya’la tsiqat. Demikian dalam Majma’ Al Zawaaid vol. VIII hlm. 211.

Dalam bagian khusus menyangkut topik ini Al Imam Al Hafidh Al Baihaqi berkata :
Dalam salah satu riwayat dari Anas ra dari Nabi Saw, beliau bersabda : 

 
إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لاَ يُتْرَكُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ بَعْدَ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً , وَلَكِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ تَعَالَى حَتَّى  يُنْفَخُ فِي الصُّوْرِ
 .
“Sesungguhnya para nabi tidak dibiarkan dalam kuburan mereka setelah empat puluh malam. Namun mereka melaksakan shalat menghadap Allah sampai sangkakala ditiup.” 

            Al Baihaqi mengatakan bahwa jika hadits ini shahih dengan redaksi demikian maka yang dimaksud adalah – wallahu a’lam – tidak dibiarkan tidak mengerjakan sholat kecuali selama masa 40 malam kemudian selanjutnya mereka shalat menghadap Allah. Menurut Al Baihaqi banyak bukti dari hadits-hadits shahih yang menunjukkan para nabi itu hidup sesudah kematian mereka.
            Kemudian Al Baihaqi menyebutkan sebuah hadits dengan sanad-sanadnya yang shahih :

مَرَرْتُ بِمُوْسَى وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّيْ فِي قَبْرِهِ

“Saya melewati Musa saat ia berdiri mengerjakan sholat di dalam kuburannya.”
Dan hadits :

 
قَدْ رَأَيْتُنِيْ فِيْ جَمَاعَةٍ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ فَإِذًا مُوْسَى قَائِمٌ يُصَلِّى وَإِذًا رَجُلٌ ضَرْبٌ جَعْدٌ كَأَنَّهُ مِنَ رِجَالِ شَنُوْءَةَ , وَإِذًا عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَائِمٌ يُصَلِّى أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شِبْهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُوْدٍ الثَّقَفِيْ , وَإِذًا إِبْرَاهِيْمُ قَائِمٌ يُصَلِّى أَشْبَهُ النَّاسِ بِهِ صَاحِبُكُمْ - يَعْنِىْ نَفْسَهُ - فَحَانَتِ الصَّلاَةُ فَأَمَّمْتُهُمْ فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنَ الصَّلاَةِ قَالَ قَائِلٌ لِيْ : يَامُحَمَّدُ ! هَذَا مَالِكٌ صَاحِبُ النَّارِ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ , فَاْلتَفَتُّ إِلَيْهِ فَبَدَأَنِيْ بِالسَّلاَمِ

“Sungguh saya telah melihat diri saya dalam rombongan para nabi. Tiba-tiba bertemu Nabi Musa yang sedang berdiri mengerjakan sholat dan ternyata ia seorang lelaki berbadan kurus ( dlorbun ) dan berambut keriting seperti lelaki Arab. Tiba-tiba bertemu Nabi Isa yang sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah ibnu Mas’ud Al Tsaqafi. Dan tiba-tiba bertemu Nabi Ibrahim yang sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling mirip dengannya adalah teman kalian – maksudnya beliau sendiri -. Saat waktu sholat tiba saya menjadi imam mereka. Ketika saya selesai sholat seseorang berkata kepadaku, “Wahai Muhammad !, ini adalah malaikat Malik penjaga nereka. Berilah salam kepadanya ! Saya pun menoleh kepadanya namun ia mendahului saya memberikan salam.”
Saya katakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Anas vol. II hlm. 268 dan oleh Abdul Razq dalam Al Mushannaf vol. III hlm. 577.

Kata dlorbun dalam hadits berarti berbadan kurus.
Dalam Dalaa’ilu Al Nubuwwah Al Baihaqi mengatakan bahwa dalam hadits shahih dari Sulaiman Al Taimi dan Tsabit Al Bunani dari Anas ibnu Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda :
 
أَتَيْتُ عَلَى مُوْسَى لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِيْ عِنْدَ الْكَثِيْبِ اْلأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِيْ قَبْرِهِ
 “Saya datang menemui Musa pada malam saat aku diisra’kan di dekat bukit pasir merah. Saat itu ia sedang berdiri melakukan sholat di dalam kuburnya.”

Saya katakan bahwa hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Muslim vol. II hlm 268.
            Adalah fakta yang tidak bisa disangkal bahwa faktor diringankannya shalat yang diwajibkan kepada kita dari 50 shalat menjadi 5 shalat adalah Nabi Musa yang nota bene seorang mayit yang telah menyampaikan risalah Tuhannya dan telah berada di sisi-Nya dalam golongan Rafiq A’la ( sahabat yang memiliki derajat yang tinggi, Syuhada’, shalihin dan shiddiqin). Meskipun demikian, ia menjadi penyebab sampainya kebaikan terbesar untuk ummat Muhammad saat ia meminta agar Nabi Muhammad memohon pertimbangan kepada Tuhannya.
“Mintalah keringanan pada Tuhanmu karena ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya,” saran Musa.
Apakah permintaan pertimbangan ini hal yang nyata atau cuma imajinasi ? Apakah dilakukan saat terjaga atau di waktu tidur ? Apakah permintaan pertimbangan ini fakta yang benar atau kebohongan ? Apakah Musa sudah wafat atau beliau masih hidup hingga waktu permintaan pertimbangan itu ? 

Al Hakim meriwayatkan sebuah hadits dan menilainya sebagai hadits shahih, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: 

 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى ثَنِيَةٍ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قَالُوْا : ثَنِيَّةُ كَذَا وَكَذَا , قَالَ :كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى يُوْنُسَ عَلَى نَاقَةٍ خُطَامُهَا لَيْفٌ وَعَلَيْهِ جُبَّةُ مِنْ صُوْفٍ وَهُوَ يَقُوْلُ : لَبَّيْكَ الَّلهُمَّ لَبَّيْكَ

“Sesungguhnya Rasulullah Saw melintasi jalan di bukit. “Jalan apakah ini ? “ tanya beliau. “Jalan ini dan ini, “ jawab para sahabat. “Saya seperti melihat Yunus sedang naik unta yang tali kekangnya terbuat dari sabut dan ia mengenakan jubah dari bulu sembari berkata, “Aku sambut panggilan-Mu dan siap menerima perintah-Mu ya Allah.”
( Al Durr Al Mantsur vol. IV hlm. 234 ). 

Dalam sebuah hadits lain sebagai berikut : 

 
أَرَانِيْ لَيْلَةً عِنْدَ الْكَعْبَةِ فَرَأَيْتُ رَجُلاً آدَمَ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاءٍ مِنْ آدَمِ الرِّجَالِ , لَهُ لَمَّةٌ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاءٍ مِنَ اللَّمَمِ قَدْ رَجَّلَهَا فَهِيَ تُقَطِّرُ مَاءً مُتَّكِئًا عَلَى رَجُلَيْنِ أَوْ عَلَى عَوَاتِقِ رَجُلَيْنِ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ فَسَأَلْتُ مَنْ هَذَا فَقِيْلَ : هَذَا الْمَسِيْحُ بْنُ مَرْيَمَ .

 “Suatu malam ketika berada di dekat Ka’bah saya melihat seorang lelaki berkulit sawo matang. Sepertinya ia adalah lelaki berkulit sawo matang yang pernah engkau lihat. Ia memiliki rambut yang panjang sampai melewati cuping telinga. Sepertinya rambut itu adalah rambut yang panjang sampai melewati cuping telinga yang paling indah yang pernah engkau lihat. Ia menyisir rambut yang panjang sampai melewati cuping telinga tersebut. Rambut itu seperti tetesan-tetesan air. Ia mengelilingi ka’bah ( thawaf ) dengan bersandar pada dua orang lelaki atau pada pundak dua orang lelaki. “Siapakah ia,” tanyaku. Terdengar sebuah jawaban “Ia adalah Al Masih ibnu Maryam.” 

Dalam salah satu hadits :  

 إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ مَرَّ بَوَادِيَ اْلأَزْرَقِ فَقَالَ : كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى مُوْسَى هَابِطًا مِنَ الثَّنِيَّةِ , وَلَهُ جُؤَارٌ إِلَى اللهِ بِالتَّلْبِيَّةِ ثُمَّ أَتَى عَلَى ثَنِيَّةِ هَرْشَى فَقَالَ : كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى يُوْنُسَ بْنِ مَتَى عَلَى نَاقَةٍ حَمْرَاءَ جَعْدَةٍ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوْفٍ خطام ناقته خلبة وهو يلبي .

Nabi melintasi jurang Al Azraq lalu berkata, “Sepertinya saya melihat Musa turun dari jalan bukit. Ia membaca talbiah dengan keras. Kemudian Nabi mendatangi jalan bukit Harsya lalu berkata, ”Sepertinya saya melihat Nabi Yunus bin Mata naik diatas unta merah, ia mengenakan jubah dari bulu, tali kekang untanya…, dan ia membaca talbiyyah ”

Dalam hadits yang lain;
َأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى مُوْسَى وَاضِعًا أُصْبُعَيْهِ فِيْ أُدُنَيْهِ
" Sepertinya saya melihat Nabi Musa meletakkan kedua jarinya pada kedua telinganya"

 Semua hadits di atas termaktub dalam Al Shahih dan hadits mengenai Nabi Musa, Nabi ‘Isa, dan shalat para nabi dengan berdiri dengan diimami oleh nabi Muhammad telah disebutkan sebelumnya. Tidak bisa dikatakan bahwa apa yang dialami Nabi Saw cuma sebuah mimpi dan bahwa kalimat " Araanii " menunjukkan terjadi pada saat tidur. Karena peristiwa israa’ dan kejadian yang terjadi dalam peristiwa itu menurut pendapat yang shahih yang menjadi acuan jumhur salaf dan khalaf terjadi pada saat terjaga bukan tidur. Seandainya peristiwa israa’ terjadi pada saat tidur pun maka mimpi para nabi adalah sebuah kebenaran. Kalimat Araanii tidak menunjukkan terjadi pada saat tidur dengan bukti kalimat “Raaitunii fi Al Hajar” yang terjadi pada saat terjaga sebagaimana ditunjukkan oleh rangkaian kalimat berikutnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013