Selasa, 14 Juni 2011

Fiqh Ziarah ( 05 )


KESEMPURNAAN KEHIDUPAN MEREKA AS

Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa kehidupan barzakh adalah kehidupan nyata dan bahwa mayit mampu mendengar, merasakan, dan mengenal baik ia mu’min atau kafir. Telah kami sebutkan pula bahwa hidup, rizqi dan masuknya para arwah ke surga tidak hanya berlaku untuk orang yang mati syahid sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash yang ada. Pandangan ini adalah pandangan shahih yang dipegang oleh para imam dan mayoritas ahlussunnah. Berangkat dari fakta ini maka mengatakan para nabi hidup itu termasuk terlalu banyak berbicara karena hal ini sudah jelas sebagaimana keberadaan matahari, yang tidak memerlukan penetapan. Justru yang benar adalah kita menetapkan bahwa kehidupan para nabi lebih lengkap, lebih agung, lebih sempurna dan lebih mulia. Demikian pula kehidupan manusia di atas permukaan bumi ini yang memiliki derajat, status, dan level yang berlainan. Sebagian mereka ada yang hidup tetapi seperti mayat. Allah telah berfirman dalam menggambarkan golongan ini :
    لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
     ."….mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( ayat-ayat Allah ) dan mereka mempunyai mata ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan Allah ) dan mereka mempunyai telinga ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk mendengar ( ayat-ayat Allah ). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai. " (Q.S.Al.A`raaf : 179 )
 Sebagian disebutkan Allah sebagai berikut :
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali llah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak ( pula ) mereka bersedih hati. " ( Q.S.Yunus : 62)
Sebagian lagi :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ


“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman." ( Q.S.Al.Mu minuun : 1 )


Sebagian lagi :
  إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
"Sesungguhnya mereka sebelum itu ( di dunia ) adalah orang-orangyang berbuat baik; mereka sediki sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun ( kepada Allah ). " ( Q.S.Adz.Dzaariyaat : 16-18 )
Demikianlah kehidupan barzakh yang memilki derajat, level dan status yang bervariasi.
وَمَنْ كَانَ فِيْ هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيْلاً
"Dan barangsiapa yang buta ( hatinya ) di dunia ini, niscaya di akhirat ( nanti ) ia akan lebih buta ( pula ) dan lebih tersesat dari jalan ( yang benar )."
 Adapun para nabi AS maka sesungguhnya kehidupan, rizqi, pengetahuan, pendengaran, persepsi, dan perasaan mereka lebih sempurna,lebih lengkap dan lebih tinggi melebihi yang lain. Dalilnya adalah firman Allah tentang orang-orang yang mati syahid :
وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." ( Q.S.Ali Imran : 169)
Jika arti kehidupan adalah kekekalan nyawa yang tidak sirna dan tidak hancur maka tidak ada kelebihan yang layak disebut dan dipopulerkan untuk orang mati syahid. Karena semua nyawa anak cucu Adam itu kekal tidak akan sirna dan hancur. Ini adalah pandangan yang benar yang menjadi pegangan para ulama muhaqqiqun sebagaimana dijelaskan secara mendalam oleh Al Syaikh Ibnu Al Qayyim dalam Kitaburruh. Berarti harus ada keistimewaan menonjol yang membuat para syuhada’ mengungguli selain mereka. Jika tidak demikian, maka menyebutkan kehidupan mereka tidak ada gunanya sama sekali. Apalagi Allah sendiri melarang kita mengatakan bahwa mereka telah mati :
وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, ( bahwa mereka itu ) mati; bahkan ( sebenarnya ) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. "
( Q.S.Al.Baqarah : 154 )
Karena itu kami katakan bahwa kehidupan mereka harus lebih sempurna dan lebih mulia dari pada yang lain. Pandangan ini adalah pandangan yang didukung oleh nash-nash literal. Arwah para syuhada’ itu mendapat rizqi bisa mendatangi sungai-sungai surga dan menyantap buah-buahan surga sebagaimana dijelaskan Allah :
عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ
Perasaan mereka terhadap makanan, minuman dan kenikmatan adalah perasaan yang sempurna dengan kesadaran sempurna dan kelezatan yang juga sempurna serta kesenangan yang sesungguhnya sebagaimana disebutkan dalam hadits :
“Ketika mereka merasakan enaknya makanan dan minuman mereka serta bagusnya tempat istirahat mereka, mereka berkata, “Mudah-mudahan saudara-saudara kami mengetahui perlakukan Allah terhadap kami.” Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad.
Arwah para syuhada’ memiliki aktivitas yang lebih besar dan luas dibanding arwah lain. Arwah tersebut bebas menjelajahi surga sesuka mereka kemudian pulang untuk tinggal di dalam lampu-lampu yang terletak di bawah ‘arsy. ( Demikian dikutip dari Hadits Shahih ).
Arwah para syuhada’ mampu mendengar ucapan dan memahami pembicaraan. Dalam Hadits Shahih disebutkan :
 “Sesungguhnya Allah bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian inginkan ?” Mereka menjawab ingin ini dan itu. Pertanyaan pun diajukan kembali yang dijawab mereka lagi. Selanjutnya mereka meminta untuk bisa kembali ke dunia untuk berjihad kemudian meminta agar Allah menyampaikan pesan dari mereka untuk saudara-saudara mereka, yang berisi informasi mengenai penghormatan yang diberikan Allah untuk mereka. “Aku akan menyampaikannya dari kalian.” Jawab Allah. 
Jika kehidupan semacam ini dialami para syuhada’ maka secara otomatis dialami pula oleh para nabi dilihat dari dua aspek :
 Pertama, kehidupan seperti di atas adalah level mulia yang diberikan kepada orang yang mati syahid sebagai bentuk kemuliaannya padahal tidak ada level yang lebih tinggi dari level para nabi. Tidak disangsikan lagi bahwa keadaan para nabi lebih tinggi dan sempurna dari pada keadaan semua syuhada’. Maka mustahil jika kesempurnaan diperoleh para syuhada’ tapi tidak didapat oleh para nabi. Lebih-lebih kesempurnaan kehidupan seperti ini yang menetapkan bertambahnya kedekatan, kenikmatan dan kesenangan dengan Dzat Yang Maha Tinggi. 
Kedua, level ini diperoleh para syuhada’ sebagai balasan dari jihad mereka dan pengorbanan jiwa mereka kepada Allah SWT sedang nabi adalah orang yang menetapkan kita untuk berjihad, mengajak dan membimbing kita untuk melakukannya atas izin dan taufik Allah. Beliau bersabda :

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menetapkan perilaku yang baik maka ia memperoleh pahala darinya dan pahala orang yang melakukannya sampai hari kiamat.”

Beliau bersabda

 
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلَ أُجُوْرِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لاَ يَنْقُصُهُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ
شَيْئًا , وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلاِثْمِ مِثْلَ آثَامِ مَنْ يَتَّبِعُهُ لاَ يَنْقُصُهُ ذَلِكَ مِنْ آثَاِمِهَم شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya. Pahala itu tidak mengurangi sedikitpun pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa mengajak menuju kesesatan maka ia menanggung dosa seperti dosa-dosa orang yang menirunya. Dosa itu itu tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.”
 Hadits-hadits shahih tentang kedua hal ini ( kandungan dua hadits di atas ) banyak dan populer. Setiap pahala yang diraih oleh orang yang mati syahid otomatis diraih oleh nabi karena melakukan apa yang dilakukan orang yang mati syahid. Kehidupan barzakh yang khusus untuk orang yang mati syahid adalah menambah memuliakannya dengan pahala seperti ini sebagai imbalan dari amal perbuatannya di bawah panji Nabi Saw dan kematiannya secara syahid di jalan Allah dan Nabi. Maka nabi juga memperoleh kehidupan seperti yang didapat orang yang mati syahid. Malah kehidupan yang diperoleh nabi lebih agung karena keunggulannya atas orang yang mati syahid.
            Kehidupan barzakh yang hakiki yang dialami para nabi khususnya Nabi Muhammad Saw terlalu tinggi dan sempurna untuk dibayangkan orang yang bodoh atau tolol. Yaitu kita membayangkan mereka hidup sebagaimana kita. Mereka makan dan minum karena membutuhkan makanan dan minuman, dan mereka kencing dan berak karena terdesak untuk melakukannya, dan keluar dari kuburan mereka untuk menghadiri majlis-majlis dzikir dan tempat-tempat berkumpul untuk membaca Al Qur’an serta berpartisipasi beserta ummat dalam kebahagiaan, kesedihan, dan perayaannya lalu mereka kembali ke dalam kuburan mereka yang berada di dalam bumi pada liang sempit yang di atasnya adalah tanah itu. Jika kehidupan para nabi dideskripsikan seperti ini maka tidak ada sedikitpun kemuliaan atau keutamaan malah deskripsi semacam ini adalah penghinaan sesungguhnya yang seseorang tidak rela hal itu melekat untuk pengikut atau pelayannya lebih-lebih jika Allah memberikannya kepada makhluk terbaik dan hamba-Nya yang paling agung. Hal ini jelas mustahil seribu kali mustahil.
            Kehidupan barzakh hakiki adalah kesadaran sempurna, persepsi sempurna dan pengetahuan yang benar. Kehidupan barzakh hakiki adalah kehidupan yang suci dan shalih : berdo’a, bertasbih, mengesakan Allah, mengumandangkan pujian dan sholat. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013