Senin, 13 Juni 2011

Fiqh Barokah (63-65)


TABARRUK DENGAN PENINGGALAN-PENINGGALAN ORANG-ORANG 
SHALIH DAN PARA NABI DAHULU

Dari Nafi’ bahwa Abdullah ibnu ‘Umar menceritakan kepadaku bahwa para sahabat bersama Rasulullah singgah di Al Hijr, tanah kaum Tsamud. Mereka mengambil air dari sumur-sumur kaum Tsamud dan membuat adonan roti dengan air tersebut. Kemudian Rasulullah menyuruh mereka untuk menumpahkan air yang mereka ambil dan memberikan adonan roti kepada unta serta menyuruh mereka mengambil air dari sumur yang didatangi unta Nabi Shalih.
HR Muslim dalam Kitabuzzuhdi bab Al Nahyi ‘an Al Dukhul ‘ala Ahli Al Hijr.

 Al Imam Al Nawawi berkata, “Hadits ini mengandung banyak faidah di antaranya tabarruk dengan peninggalan-peninggalan orang-orang shalih.

TABARRUK DENGAN TABUT ( PETI )
Dalam Al Qur’an Allah menyebutkan keutamaan tabut : 
 وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ  
Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka : "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat kemenangan dari Tuhanmu dan  sisa dari peninggalan keluarga Musa dan Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat "
( Q.S.Al.Baqarah :248 )
Ringkasan cerita : Tabut asalnya berada di tangan bani Israil. Mereka memohon kemenangan dengan perantaraan tabut dan bertawassul kepada Allah dengan isinya yaitu peninggalan-peninggalan Nabi Musa dan Nabi Harun. Hal ini adalah yang saya maksudkan dengan tabarruk dalam arti sesungguhnya. Allah SWT telah menjelaskan isi tabut :
  وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ
Peninggalan-peninggalan ini adalah peninggalan
Nabi Musa dan Harun.
Yaitu tongkat Musa, sedikit pakaian Nabi Musa dan Nabi Harun, sandal keduanya, papan-papan Taurat dan baskom sebagaimana disebutkan para mufassir dan pakar sejarah seperti Ibnu Katsir, Al Qurthubi, Al Suyuthi, dan Al Thabari. Silahkan lihat buku-buku mereka. Ayat di atas menunjukkan banyak kesimpulan. Di antaranya tawassul dengan peninggalan-peninggalan orang-orang shalih, merawat peninggalan-peninggalan tersebut dan memohon keberkahan dengannya.

TABARRUK DENGAN MASJID ‘ASYSYAR
(WILAYAH DEKAT BASHRAH )

Dari Shalih ibnu Dirham, ia berkata, “Kami pergi melaksanakan haji. Kebetulan kami bertemu seorang lelaki yang berkata kepadaku, “Di dekat kalian ada desa yang disebut Ubullah.” “Betul,” jawab kami.
“Siapakah di antara kalian yang bisa memberi jaminan kepadaku agar aku bisa disholatkan di masjid ‘Asysyar dua atau empat roka’at ,” lanjutnya.
 Shalih ibnu Dirham berkata : “Ini untuk Abu Hurairah : Saya mendengar orang yang saya cintai, Abu Al Qasim SAW bersabda : 
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْعَثُ مِنْ مَسْجِدِ الْعَشَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُهَدَاءَ لاَ يَقُوْمُ مَعَ شُهَدَاءِ بَدْرٍ غَيْرَهُمْ  

Sesungguhnya Allah SWT membangkitkan dari masjid ‘Asysyar pada hari kiamat para syuhada’ yang tidak berdiri bersama para syuhada’ Badar kecuali mereka.”
HR Abu Dawud.
Menurut Al Qari masjid ini berdiri di dekat sungai Furat. ( Misykatul Mashabih vol. III hlm. 1496 ).
 Dalam kitabnya Badzlul Majhud syarh Sunan Abi Dawud, Al ‘Allamah Al Kabir Al Syaikh Khalil Ahmad Al Saharnapuri mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa ketaatan-ketaatan fisik pahalanya bisa disampaikan kepada orang lain dan bahwa peninggalan-peninggalan para wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah dapat diziarahi dan dimohon keberkahannya.
( Badzlul Majhud vol. XVII hlm. 225 ).
Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Syaikh Abu Al Thayyib penyusun ‘Aunul Ma’bud mengatakan bahwa masjid ‘Asysyar adalah masjid terkenal yang dimintakan berkah dengan sholat di dalamnya.
( ‘Aunul Ma’bud vol. XI hlm. 422 ). 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013