Senin, 13 Juni 2011

Fiqh Barokah (60-62)


TABARRUK DENGAN MIMBAR NABI SAW

Al Qadli ‘Iyadl berkata, “Ibnu ‘Umar pernah diketahui meletakkan tangannya di atas bagian mimbar yang diduduki Nabi lalu mengusapkan tangannya pada wajah. 
Dari Abu Qusai dan Al ‘Utba : Jika masjid sepi, para sahabat Nabi meraba-raba dengan tangan kanan mereka pusat mimbar yang berdekatan dengan kuburan kemudian mereka menghadap kiblat untuk berdoa.
Dari Al Syifaa’ karya Al Qadli ‘Iyadl.
 Al Mala Al Qari pensyarah kitab Al Syifaa’ menyatakan, “Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Abdurrahman ibnu Abdul Qari vol. III hlm. 518.
Hal di atas juga diriwayatkan oleh Ibnu Taimiyyah dari Al Imam Ahmad bahwasanya Imam Ahmad memberi dispensasi dalam mengusap mimbar dan pusat mimbar Nabi Saw. Disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar, Sa’id ibnu Al Musayyib, Yahya ibnu Sa’id dari kalangan pakar fiqh Madinah melakukan hal ini.
( Iqtidlaai Al Shirath Al Mustaqim hlm. 367 ). 

TABARRUK DENGAN KUBURAN BELIAU YANG MULIA

Saat ajalnya menjelang tiba, Amirul Mu’minin ‘Umar ibnu Al Khaththab menyuruh anaknya, Abdullah, “Pergilah kepada Ummul Mu’minin ‘Aisyah Ra dan katakan “ ‘Umar menyampaikan salam untukmu. Janganlah kamu mengatakan : amirul mu’minin karena sekarang saya bukan amirul mu’minin. Katakan ‘Umar ibnu Al Khaththab meminta izin untuk dikubur bersama kedua sahabatnya. di samping makam beliau SAW.
Kebetulan ‘Aisyah menyatakan keinginan yang sama.
“Dulu saya ingin tempat itu menjadi kuburanku, dan saya akan memprioritaskan Umar untuk menempatinya,” kata ‘Aisyah.
Abdullah pun pulang memberi kabar suka cita yang besar kepada ayahnya. “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melebihi hal itu,” ucap Umar.
 Kisah ini secara detail bisa dilihat di Shahih Al Bukhari. Lalu apa arti keinginan besar dari ‘Umar dan ‘Aisyah ? Perawi berkata, “Lalu Abdullah meminta izin dan memberi salam. Kemudian ia masuk menemui ‘Aisyah yang sedang menangis. “Umar menyampaikan salam untukmu dan meminta izin untuk dikubur bersama kedua sahabatnya,” kata Abdullah. “Dulu saya ingin tempat itu menjadi kuburanku, dan saya akan mengalah dengan memprioritaskan Umar untuk menempatinya,” kata ‘Aisyah. Ketika tiba, ada yang mengatakan : “Abdullah ibnu ‘Umar telah tiba.
“Angkatlah saya,’ kata ‘Umar.
Seorang lelaki lalu memberikan sandaran kepada ‘Umar.
“Apa hasilnya,” tanya ‘Umar .
“Tercapai apa yang engkau harapkan, wahai Amirul Mu’minin,” jawab Abdullah.
Abdullah pun pulang memberi kabar suka cita yang besar kepada ayahnya. “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melebihi hal itu,” ucap Umar
. Jika saya telah meninggal, pikullah saya lalu berikan salam dan katakan : “Umar meminta izin. Jika ‘Aisyah memberi izin, masukkan saya. Jika ia menolak, kembalikan saya ke pemakaman kaum muslimin,” lanjut ‘Umar.
 Hadits ini secara panjang lebar disebutkan Al Bukhari dalam Kitabul Janaa’iz Babu Ma Jaa’a fi Qabrinnabi dan dalam Kitabu Fadlailu Al Shahabat Babu Qishshatul Bai’ah.

TABARRUK DENGAN KUBURAN NABI DALAM MADZHAB HAFIDHUL ISLAM DAN IMAMU AIMMATIL MUSLIMIN AL DZAHABI

Al Imam Syamsuddin Muhammad ibnu Ahmad Al Dzahabi : Bercerita kepadaku Ahmad ibnu ‘Abdil Mun’im tidak hanya sekali, bercerita kepadaku Abu Ja’far Al Shaidalani – secara tertulis – bercerita kepadaku Abu ‘Ali Al Haddad – dengan kehadirannya – bercerita kepadaku Abu Nu’aim Al Hafidh, bercerita kepadaku Abdullah ibnu Ja’far, bercerita kepadaku Muhammad ibnu ‘Ashim, bercerita kepadaku Abu Usamah dari ‘Ubaidillah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar : Sesungguhnya Ibnu ‘Umar tidak suka menyentuh kuburan Nabi Saw.
Menurut saya : “Ia tidak suka hal ini karena memandang sebagai perbuatan kurang sopan.”
 Ahmad ibnu Hanbal ditanya mengenai menyentuh dan mencium kuburan Nabi, ia menjawab tidak apa-apa. Diriwayatkan dari Ahmad ibnu Hanbal oleh putranya sendiri,
 Abdullah ibnu Ahmad. Apabila ditanyakan, “Apakah ada sahabat yang melakukan itu ( menyentuh dan mencium kuburan Nabi ) ?” Pertanyaan ini bisa dijawab bahwa karena mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri waktu beliau masih hidup, bergembira bersama beliau dalam waktu lama, mencium tangan beliau, nyaris berkelahi berebut sisa wudlu beliau, dan meminta bagian rambut suci beliau pada hari haji akbar serta jika beliau mengeluarkan dahak maka dahak itu hampir tidak jatuh kecuali di tangan salah seorang sahabat kemudian ia mengusapkan ke wajahnya dahak itu.
Sedang kita, karena tidak mungkin melakukan perbuatan sangat indah semisal ini maka kita melampiaskannya di atas kuburan beliau yang mulia dengan memelihara, memuliakan, mengusap dan mencium kuburan beliau.
Lihatlah apa yang dilakukan Tsabit Al Bunani ! Ia mencium tangan Anas ibnu Malik dan menempelkan tangan itu ke wajahnya sambil berkata, “Tangan (milik Anas) yang telah menyentuh tangan Rasulullah.” Tindakan-tindakan di atas yang dilakukan seorang muslim semata-mata digerakkan oleh rasa cinta yang mendalam kepada Nabi. Karena ia diperintah untuk mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi cintanya kepada dirinya, anak dan semua manusia dan juga melebihi harta bendanya, surga dan bidadari yang ada di dalamnya. Malah banyak juga orang mu’min yang mencintai Abu Bakar dan ‘Umar melebihi cinta mereka kepada diri sendiri.
 Diceritakan kepada kami bahwa Jundar sedang berada di gunung Al Biqa’ lalu ia mendengar seorang lelaki mengumpat Abu Bakar. Jundar lalu menghunus pedangnya dan memenggal kepala orang yang mengumpat tersebut. Seandainya Jundar mendengar lelaki itu mengumpat dirinya atau orang tuanya niscaya ia tidak akan menghalalkan darah si pengumpat. Lihatlah betapa dalamnya rasa cinta sahabat kepada Nabi Saw. Mereka berkata,” Tidakkah kami bersujud kepadamu ?” “Tidak boleh, ‘ jawab beliau. Seandainya Nabi mengizinkan mereka sujud, niscaya mereka akan melakukannya dalam bentuk sujud penghormatan bukan sujud ibadah sebagaimana sujudnya saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf.
Demikian pula sujud seorang muslim pada kuburan Nabi dalam bentuk sujud penghormatan sama sekali ia tidak dianggap kafir, hanya masuk kategori melakukan tindakan maksiat. Ia harus diberitahu bahwa tindakan ini dilarang. Begitu pula sholat menghadap kuburan beliau.
( Mu’jamu Al Syuyukh karya Al Dzahabi vol. I hlm. 73 – 74 )


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013