Sabtu, 11 Juni 2011

Fiqh Barokah (16-20)


PARA NABI ADALAH PIMPINAN MANUSIA :

Para Nabi adalah hamba-hamba Allah pilihan yang dimuliakan Allah dengan status kenabian serta diberi kebijaksanaan, kekuatan akal, dan cara pandang yang benar. Para Nabi dipilih Allah untuk menjadi mediator antara Dia dengan makhluk-Nya. Para Nabi menyampaikan perintah-perintah Allah kepada mereka, memperingatkan mereka akan murka dan siksa Allah, dan membimbing mereka menuju jalan yang mengantar kebahagiaan dunia akhirat. Hikmah Allah menetapkan bahwa mereka dari jenis manusia agar manusia bersosialisasi dengan mereka dan meneladani perangai dan budi pekerti mereka. Kemanusiaan adalah esensi kemu’jizatan mereka. Mereka adalah manusia biasa namun memiliki perbedaan yang tidak mungkin disamai manusia manapun. Karena itu memberikan penilaian dari sisi kemanusiaan terhadap mereka tanpa melibatkan unsur-unsur lain adalah perspektif jahiliyah yang musyrik. Salah satu penilaian kemanusiaan semata adalah - Ucapan kaum Nabi Nuh terhadap Nabi Nuh sebagaimana diceritakan Allah :
فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya : "Kami tidak melihat kamu, melainkan ( sebagai )
 seorang manusia ( biasa ) seperti kami."
( Q.S.Huud : 27 )

- Ucapan kaum Nabi Musa dan Isa terhadap mereka berdua seperti diceritakan Allah :
فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ
Dan mereka berkata : "Apakah ( patut ) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita ( juga ), padahal kaum mereka ( Bani Israil ) adalah orang-orang yang menghambakan diri Kepada kita ?"
 ( Q.S.Al.Mu`minuun : 47 )

- Ucapan kaum Tsamud terhadap Nabi Shalih sebagaimana disebutkan Allah :
مَا أَنْتَ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
"Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mu`jizat, jika kamu memang
termasuk orang-orang yang benar."
( Q.S.Asy.Syu`araa` : 154 )

- Ucapan Ashabul Aikah terhadap Nabi mereka Syu’aib sebagaimana dikatakan Allah :
    قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ وَمَا أَنْتَ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَإِنْ نَظُنُّكَ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ
Mereka berkata : "Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta."
 ( Q.S.Asy.Syu`araa` : 185-186 )

– Ucapan kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad SAW yang memandang Nabi dari aspek kemanusiaan semata, seperti diceritakan Allah
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأسْوَاقِ
Dan mereka berkata : "Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar ?"
( Q.S.Al.Furqaan : 7 )

SIFAT-SIFAT PARA NABI AS :

Para Nabi, meskipun mereka juga manusia yang makan, minum, sehat, sakit, menikahi perempuan, berjalan di pasar, mengalami apa yang dialami manusia seperti lemah, lanjut usia, dan mati namun mereka memiliki perbedaan dengan berbagai keistimewaan dan memiliki sifat-sifat yang agung yang bagi mereka adalah salah satu hal yang harus melekat serta paling urgen. Sifat-sifat ini bisa diringkas sebagai berikut :
1. Jujur
2. Amanah
3. Bebas dari aib yang menjijikkan 
4. Menyampaikan
5. Cerdas
6. Terhindar dari dosa 
Di sini bukanlah tempat untuk membicarakan sifat-sifat ini secara detail. Karena pembicaraan masalah ini telah ditanggung oleh buku-buku tauhid. Di sini, kami hanya akan menyebut sebagian sifat yang membedakan Nabi Muhammad SAW dengan manusia biasa.

MAMPU MELIHAT DARI BELAKANG SEBAGAIMANA DARI DEPAN :

Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :
   هَلْ تَرَوْنَ قِبْلَتِيْ هَاهُنَا ؟ فَوَاللهِ مَا يَخْفَى عَلَيَّ رُكُوْعُكُمْ وَلاَ سُجُوْدُكُمْ
 إِنِيّْ َلأَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ .
Apakah kalian melihat qiblatku di sini ? Demi Allah, ruku’ dan sujud kalian tidak samar bagi saya. Sungguh saya bisa melihat kalian dari balik punggungku.”

 Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda :
أَيُّهَا النَّاسُِ اِنِّيْ إِمَامُكُمْ فَلاَ تَسْبِقُوْنِيْ بِالرُّكُوْعِ وَلاَ بِالسُّجُوْدِ فَاِنيِّ أَرَاكُمْ مِنْ أَمَامِيْ وَمِنْ خَلْفِيْ .
Wahai manusia, sesungguhnya saya adalah imam kalian. Maka janganlah mendahului saya dengan ruku’ dan sujud. Karena saya bisa melihat kalian dari arah depan dan belakang.

Abdurrazaq meriwayatkan dalam karyanya, dan Al Hakim serta Abu Nu’aim dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda :
إِنيِّْ َلأَنْظُرُ إِلَى مَا وَرَائِيْ كَمَا أَنْظُرُ إِلَى مَا بَيْنَ يَدَيَّ
Sesungguhnya saya mampu melihat sesuatu dari arah belakangku sebagaimana dari arah depanku.”

Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda :
إِنيِّْ أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ
“Sungguh saya mampu melihat kalian dari balik punggungku.


BELIAU MAMPU MELIHAT APA YANG TIDAK KITA LIHAT DAN MAMPU 
MENDENGAR APA YANG TIDAK KITA DENGAR :

Dari Abu Dzarr, ia berkata, “Rasulullah bersabda : 
اِ نِّيْ أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لاَ تَسْمَعُوْنَ , أَطَّتْ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئَطَّ , وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ مَا فِيْهَا مَوْضِعُ أَرْبَعَةِ أَصَابِعَ إِلاَّ وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدٌ لِلَّهِ , وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا , وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفِرَشَاتِ , وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصَّعَدَاتِ تَجْأَرُوْنَ إِلَى اللهِ .
Sungguh saya mampu melihat apa yang tidak kalian lihat dan mampu mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit bersuara dan ia memang wajib bersuara. Demi Dzat yang nyawaku berada di tangannya, tidak ada di langit tempat seluas empat jari-jari kecuali ada malaikat yang meletakkan keningnya bersujud kepada Allah. Demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang saya ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak tersenyum, tidak akan bersenang-senang dengan wanita di atas tempat tidur dan niscaya akan pergi ke tempat-tempat tinggi berlindung kepada Allah.”
Abu Dzarr berkata, “Sekiranya saya jadi pohon yang ditebang.” HR. Ahmad, Al Turmudzi dan Ibnu Majah. 

KETIAK MULIA NABI SAW :

Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah SAW berdo’a seraya mengangkat kedua tangan beliau hingga kedua ketiaknya terlihat.” 
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Jabir, ia berkata, “Nabi SAW itu jika sujud maka warna putih kedua ketiak beliau terlihat.” Dalam banyak hadits dari sekelompok sahabat terdapat keterangan yang menjelaskan putihnya kedua ketiak beliau. 
Al Muhib Al Thabari berkata, “Salah satu keistimewaan beliau SAW adalah bahwa ketiak semua orang berubah warnanya kecuali beliau.” Al Qurthubi mengemukan pendapat yang sama dengan Al Thabari. “Dan sesungguhnya ketiak beliau tidak berambut,” tambahnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013