Sabtu, 11 Juni 2011

Fiqh Barokah (11-15)


NABI MENJUAL SURGA DAN ‘UTSMAN MEMBELINYA

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : 

 
اِشْتَرَى عُثْمَانُ الْجَنَّةَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّتَيْنِ بَيْعَ الْحَقِّ حَيْثُ حَفَرَ بِئْرَ مَعُوْنَةَ وَحَيْثُ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ
 .
’Utsman melakukan pembelian surga dengan sesungguhnya dua kali dari Nabi SAW ; saat menggali sumur ma’unah dan saat memberikan akomodasi untuk pasukan yang dikirim ke medan perang Tabuk ( jaisul ‘usrah ).”
HR Al Hakim dalam Al Mustadrak vol. III hlm. 107. Al Hakim menilai hadits ini shahih.

Setiap orang berakal pasti mengerti bahwa surga itu milik Allah semata. Siapa saja tidak bisa memiliki dan mengaturnya, betapapun tinggi nilai dan kedudukannya, baik ia malaikat, Nabi atau Rasul. Tetapi Allah memberi para rasul sesuatu yang membedakan mereka dengan orang lain, karena kedudukan mereka yang mulia dan ketinggian derajat mereka di sisi-Nya. Akhirnya apa yang diberikan Allah dinisbatkan kepada mereka dan pengaturannya juga dikaitkan dengan mereka. Hal ini diberikan semata-mata karena memuliakan, mengagungkan, menghargai dan persembahan terhadap mereka. Berangkat dari pandangan ini muncul ungkapan menyangkut keistimewaan-keistimewaan Nabi SAW, seperti beliau membagi-bagi tanah surga, memberi jaminan surga, menjual surga atau memberi kabar dengan surga. Padahal tidak ada yang ragu bahwa surga itu milik Allah semata, kecuali orang bodoh yang tidak memilki pengetahuan minimal terhadap luasnya persoalan keilmuan.

"Ya Allah sinarilah penglihatan kami, bukalah telinga kami dan perlihatkanlah kebenaran sebagai kebenaran serta karuniailah aku untuk mengikutinya." 

APA YANG DIMAKSUD DENGAN MALAM KELAHIRAN YANG DIUTAMAKAN

Dalam keistimewaan-keistimewaan kenabian, sebagian ulama menyebut malam kelahiran Nabi lebih utama daripada lailatul qadr dan mereka membuat komparasi menyangkut mana yang lebih utama antara dua malam ini. Yang ingin kami sampaikan di sini adalah bahwa yang dimaksud dengan malam kelahiran adalah malam sesungguhnya di mana kelahiran Nabi terjadi. Malam ini telah lewat semenjak ratusan tahun silam dan tidak ragu lagi terjadi sebelum dikenal atau munculnya lailatul qadr. Yang dimaksud malam kelahiran di sini bukan malam kelahiran yang terulang setiap tahun dan merupakan waktu yang sama dari hari kelahiran sesungguhnya.
 Sebenarnya mengkaji persoalan ini tidak memberikan faidah besar dan tidak ada konsekuensi negatif jika mengingkari atau mengakui. Juga tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah apapun. Para ulama sendiri telah mengkaji banyak persoalan sepele dan menyusun risalah-risalah khusus tentang persoalan itu padahal persoalan-persoalan itu tidak berarti apa-apa dibanding persoalan yang sedang kita kaji ini. Walhasil, kami meyakini bahwa komparasi ini terjadi antara malam kelahiran Nabi sesungguhnya dengan lailatul qadr dan bahwa malam dimana kelahiran Nabi terjadi yang menjadi bahan kajian perbandingan dan komparasi itu telah lewat dan selesai, dan sekarang malam itu tidak lagi berwujud. Sedang lailatul qadr itu masih eksis dan berulang setiap tahun dan merupakan malam paling utama berdasarkan firman Allah : 

  إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? , malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."( Q.S.Al.Qadr : 1-3 )

Polemik tentang persoalan ini dan sejenisnya berlangsung antar ulama dan menjadi bahan diskusi ulama-ulama besar generasi salaf. Al Syaikh Al Imam Ibnu Taimiyyah membicarakan persoalan komparasi antara lailatul qadr dan lailatul isra’ ( malam diisra’kannya Nabi SAW ) dengan detail dan mendalam padahal tidak ada fakta bahwa salah seorang imam generasi salaf dan generasi awal apalagi para sahabat dan lebih-labih lagi Nabi SAW, mengkaji atau membicarakannya. 

FATWA IBNU TAIMIYYAH TENTANG PERSOALAN INI

Al Imam Al Syaikh Ibnu Al Qayyim mengatakan, “Syaikh Ibnu Taimiyyah ditanya tentang seorang lelaki yang mengatakan lailatul isra’ lebih utama daripada lailatul qadr. Yang lain menjawab justru lailatul qadr lebih utama. Siapakah yang benar di antara keduanya ?
Syaikh menjawab, “Alhamdulillah, adapun orang yang mengatakan bahwa lailatul isra’ lebih utama daripada lailatul qadr maka jika maksudnya adalah bahwa malam di mana Nabi diisra’kan dan malam-malam yang sama setiap tahunnya itu lebih utama untuk ummat Muhammad daripada lailatul dengan pengertian bahwa shalat malam dan berdo’a pada malam isra’ itu lebih utama dilakukan dari pada pada malam lailatul qadr maka ini adalah pendapat keliru yang tidak dikatakan oleh seorang muslim pun dan jelas pasti salah dari sudut pandang Islam. Jika maksudnya adalah malam tertentu pada saat Nabi SAW diisra’kan dan memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh pada malam lain tanpa harus melakukan shalat dan do’a secara khusus maka pendapat ini benar.
Lihat Muqaddimatu Zadi al-Ma’aadi karya Ibnu Al Qayyim. 

JANGAN MEMUJIKU SECARA BERLEBIHAN

Sebagian kalangan memahami sabda Nabi SAW :
لاَ تَطْرُوْنِي كَمَا أَطَرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ
Janganlah kalian memujiku sebagimana pujian yang diberikan kaum nashrani kepada ‘Isa ibn Maryam,”
sebagai larangan memuji beliau SAW dan mengkategorikan pujian kepada beliau sebagai sanjungan berlebihan yang bisa mengarah pada kemusyrikan dan memahami bahwa orang yang memuji beliau, melebihkan derajatnya di atas manusia biasa, menyanjung dan mensifati beliau dengan sifat-sifat yang berbeda dari yang lain, telah melakukan praktik bid’ah dalam agama Islam dan melanggar sunnah sayyidil mursalin Muhammad SAW. 

Persepsi di atas adalah sebuah kesalahfahaman dan mengindikasikan dangkalnya pandangan orang yang memiliki persepsi demikian. Mengapa ? Karena Nabi SAW melarang pujian kepada beliau sebagaimana ummat nashrani memuji ‘Isa ibn Maryam saat mereka mengatakan : Isa adalah anak Allah. Makna dari hadits di atas adalah sesungguhnya orang yang memuji Nabi dan mensifatinya dengan sifat yang diberikan ummat nashrani kepada Nabi mereka berarti orang tersebut sama dengan mereka.

Adapun orang yang memuji dan mensifati beliau dengan karakter yang tidak mengeluarkan beliau dari substansi kemanusiaan seraya meyakini bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah serta menjauhi keyakinan ummat nashrani maka pasti ia adalah sebagian dari orang yang paling sempurna ketauhidannya.

 دَعْ مَا اِدَّعَتْهُ النَّصَارَى فِيْ نَبِيِّهِمْ      وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيْهِ وَاحْتَكِمْ
فَاِنَّ فَضْلَ رَسُوْلِ اللهِ لَيْسَ لَهُ      حَدٌّ فَيُعَرِّبُ عَنْهُ نَاِطقٌ بِفَمٍّ
فَمَبْلَغُ الْعِلْمِ فِيْهِ أَنَّهُ بَشَرٌ      وَ أَنَّهُ خَيْرُ خَلْقِ اللهِ كُلِّهِمْ

·         Buanglah keyakinan ummat nashrani terhadap Nabi mereka.
Berilah beliau pujian sesukamu
·         Karena keutamaan Rasulullah tidak memiliki batas
Hingga mampu diungkapkan dengan lisan
·         Batas pengetahuan kita adalah beliau manusia.
Dan beliau adalah paling mulianya mahluk

Alloh SWT sendiri telah memuji Nabi Muhammad SAW dalam firman-Nya
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung"
.( Q.S.Al.Qalam : 4 )

Alloh menyuruh bersikap sopan dalam berbicara dan memberi jawaban terhadap Rosul:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih darisuara Nabi".
( Q.S.Al.Hujuraat : 2 )

Alloh juga melarang kita bersikap kepada beliau sebagaimana sikap sebagian kita kepada sebagian yang lain, atau memanggil beliau sebagaimana sebagian kita memanggil sebagian yang lain. Allah berfirman :
لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian ( yang lain )."
( Q.S.An.Nuur : 63 )

Allah juga mengecam mereka yang menyamakan Nabi dengan orang lain dalam interaksi sosial dan tata cara pergaulan :
إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar ( mu ) kebanyakan mereka tidak mengerti."
( Q.S.Al.Hujuraat : 4 )

Para sahabat yang mulia adalah orang-orang yang menyanjung Nabi SAW.Hassan ibn Tsabit membacakan syairnya :
أَغَرُّ عَلَيْهِ لِلنُّبُوَّةِ خَاتَمٌ     مِنَ اللهِ مَشْهُوْدٌ يَلُوْحُ وَ يُشْهَدُ
وَضَمَّ اْلإِلَهُ اِسْمَ النَّبِيِّ اِسْمَهُ    إِذَا قَالَ فِي الْخَمْسِ الْمُؤَذِّنُ أَشْهَدُ
وَشَقَّ لَهُ مِنِ اسْمِهِ ليجله    فَذُو الْعَرْشِ مَحْمُوْدٌ وَ هَذَا مُحَمَّدٌ
نَبِيٌّ أَتَانَا بَعْدَ يَأْسٍ وَفَتْرَةٍ     مِنَ الرُّسُلِ وَاْلأَوْثَانُ فِي اْلأَرْضِ تُعْبَدُ
فَأَمْسَى سِرَاجًا مُسْتَنِيْرًا وَهَادِيًا     يَلُوْحُ كَمَا لاَحَ الصَّقِيْلُ الْمُهَنِّدُ
فَأَنْذَرَنَا نَارًا وَ بَشَّرَ جَنَّةً      وَ عَلَّمَنَا اْلإِسْلاَمَ فَلِلَّهِ نَحْمَدُ

·         Orang yang bersinar wajahnya dan ada cap kenabian
  dari Allah yang terlihat cemerlang.
·         Allah menggabungkan nama beliau dengan nama-Nya
Ketika muadzin mengumandangkan Asyhadu, lima kali dalam sehari
·          Sebagai penghormatan, dari nama-Nya Tuhan memberikan kepada Nabi
 Maka Tuhan pemilik ‘arsy itu Dzat yang dipuji dan beliau orang yang banyak dipuji.
·         Beliau adalah Nabi yang datang setelah masa kekosongan
dari para rasul, pada saat arca-arca disembah di muka bumi.
·         Beliau adalah pelita yang menyinari dan petunjuk
yang mengkilap bak pedang India.
·         Beliau mengancam dengan neraka dan memberi kabar bahagia dengan sorga
dan mengajarkan Islam kepada kami, maka hanyalah untuk Allah segala pujian.
Selanjutnya Hassan juga mengatakan :


يَا رُكْنَ مُعْتَمِدٍ وَعِصْمَةَ لاَئِذٍ     وَمَلاَذَ مُنْتَجِعٍ وَجَارَ مُجَاوِرٍ
يَا مَنْ تَخَيَّرَهُ اِْلإَلهُ لِخَلْقِهِ       فَحَبَاهُ بِالْخُلُقِ الزَّكِيِّ الطَّاهِرِ
أَنْتَ النَّبِيُّ وَ خَيْرُ عَصَبَةِ آدَمَ      يَا مَنْ يَجُوْدُ كَفَيْضِ بَحْرٍ زَاخِرٍ
مِيْكَالَ مَعَكَ وَجِبْرَئِيْلَ كِلاَهُمَا     مَدَدٌ لِنَصْرِكَ مِنْ عَزِيْزٍ قَادِرٍ

·         Wahai pilar penyangga dan pelindung
orang yang berlindung, tempat orang meminta bantuan dan tetangga bagi yang berdampingan
·         Wahai orang yang dipilih Tuhan untuk makhluk-Nya
Allah telah memberimu perilaku yang bersih dan suci
·         Engkau adalah Nabi dan sebaik-baik keturunan Adam
 Wahai orang yang berderma laksana limpahan samudera yang pasang
·          Mikail dan Jibril senantiasa bersamamu
sebagai bantuan dari Dzat Yang Maha Perkasa dan Kuasa untuk menolongmu

 Shafiyyah binti ‘Abdil Muththallib meratapi dan menyebut-nyebut kebaikan Rasulullah SAW :
أَلاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ كُنْتَ رَجَاءَنَا    وَ كُنْتَ بِنَا بَرًّا وَلَمْ تَكُ جَافِيًا
وَكُنْتَ رَحِيْمًا هَادِيًا وَمُعَلِّمًا     لَبَّيْكَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ مَنْ كَانَ بَاكِيًا
صَدَقْتَ وَبَلَغْتَ الرِّسَالَةَ صَادِقًا   رَمْتَ صَلِيْبَ الْعُوْدِ أَبْلَجَ صَافِيًا
فِدًى لِرَسُوْلِ اللهِ أُمِّيْ وَخَالَتِيْ    وَ عَمِّىْ وَ آباَئِيْ وَ نَفْسِيْ وَمَالِيَا
لَعَمْرُكَ مَا أَبْكِى النِّبِيَّ لِفَقْدِهِ    وَلَكِنْ لَمَّا أَخْشَى مِنَ الْهَرَجِ آتِيًا
كَأَنَّ عَلَى قَلْبِيْ لَذِكْرُ مُحَمَّدِ    وَ مَا خِفْتُ بَعْدَ النَّبِيِّ مُطَاوِيًا
فَلَوْ أَنَّ رَبَّ النَّاسِ أَبْقَى نَبِيَّنَا    سَعِدْنَا وَ لَكِنْ أَمْرُهُ كَانَ مَاضِيًا
عَلَيْكَ مِنَ اللهِ السَّلاَمُ تَحِيَّةً    وَاُدْخِلْتَ جَنَّاتٍ مِنَ الْعَدْنِ رَاضِيًا
أَفَاطِمُ صَلَّى الله ُرَبُّ مُحَمَّدٍ     عَلَى جَدَثٍ أَمْسَى بِطَيْبَةَ ثَاوِيًا

·         Wahai Rasulullah, engkau adalah harapan kami
 Engkau baik pada kami dan tidak kasar
·         Engkau pengasih, pembimbing dan pengajar
Hendaklah menangis sekarang orang yang ingin menangis
·         Engkau jujur, engkau telah menyampaikan risalah dengan jujur
Engkau telah melemparkan kayu salib yang mengkilap
·         Ibu, bibi, paman, ayah,
diriku dan hartaku menjadi tebusan untuk Rasulullah
·         Sungguh, aku tak menangisi kematian Nabi
Namun aku khawatir akan datangnya kekacauan
·         Di hatiku seolah-olah ada ingatan Muhammad
.Sesudah kematian beliau, aku tak takut pada kesusahan yang terpendam
·         Jika Allah mengekalkan Nabi kami
Kami akan bahagia, tapi urusan beliau telah berlalu
·         Salam dari Allah untukmu, sebagai ungkapan penghormatan
Engkau telah dimasukkan ke surga ‘Adn dengan suka cita
·         Wahai Fathimah, Allah Tuhan Muhammad telah menyampaikan shalawat
Atas kuburan yang berada di Thaibah

Ibnu Sa’d dalam Al Thabaqaat menyatakan bahwa bait-bait Shofiah ini adalah milik ‘Urwa binti Abdil Muththallib.
Ka’b ibn Zuhair menyanjung Nabi dalam qasidah populernya yang prolognya Sebagai berikut :

بِاَنْتِ سُعَادُ فَقَلْبِيْ الْيَوْمَ مَتْبُوْلٌ    مُتَيَّمٌ إِثْرَهَا لَمْ يُفِدْ مَكْبُوْلٌ
أُنْبِئْتُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ أَوْعَدَنِيْ    وَالْعَفْوُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ مَأْمُوْلٌ
إِنَّ الرَّسُوْلَ لَنُوْرٌ يُسْتَضَاءُ بِهِ    مُهَنِّدٌ مِنْ سُيُوْفِ اللهِ مَسْلُوْلٌ
فِيْ عَصَبَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَالَ قَائِلُهُمْ     بِبَطْنِ مَكَّةَ لَمَّا أَسْلَمُوْا زَوَلُوْا
يَمْشُوْنَ مَشَى الْجَمَاِل الزَّهْرُ يَعْصِمُهُمْ      ضَرْب إذا عود السود التنابيل
·         Su’ad telah bercerai maka hatiku kini merasa sedih,
 diperbudak dan terbelenggu.Pengaruhnya tak bisa ditebus
·          Aku dikabari bahwa rasulallah menjanjikanku
Ampunan dapat diharapkan di sisi Rasulullah
·         Sungguh Rasulullah adalah cahaya yang menyinari
 Laksana pedang India dari beberapa pedang Allah, yang terhunus
·         Dalam kelompok suku Qurays di mana salah satu mereka berkata
Di dalam Makkah saat masuk Islam mereka berhijrah
·          Mereka berjalan seperti unta yang berkemilau. Mereka terlindungi
 oleh pukulan saat orang-orang negro yang pendek berusia lanjut.

Dalam riwayat Abu Bakar ibn Hanbali bahwasanya saat Zuhair sudah datang pada bait :

إِنَّ الرَّسُوْلَ لَنُوْرٌ يُسْتَضَاءُ بِهِ       مُهَنِّدٌ مِنْ سُيُوْفِ اللهِ مَسْلُوْلٌ

·         Sungguh Rasulullah adalah cahaya yang menyinari 
Laksana pedang India dari beberapa pedang Allah, yang terhunus
Maka, Rasulullah melemparkan selimut yang melekat pada badannya kepada Ka’ab dan bahwa Mu’awiyah menawarkan 10.000 dirham kepada Ka’ab untuk memiliki selimut tersebut. “Saya tidak akan memprioritaskan siapapun dengan Rasulullah,” kata Ka’ab. Waktu Ka’ab meninggal dunia Mu’awiyah mengambil selimut tersebut dari ahli warisnya dengan memberi 20.000 dirham kepada mereka. 
Rasulullah juga memuji dirinya sendiri.
Beliau berkata :
أَنَا خَيْرُ أَصْحَابِ الْيَمِيْنِ
“Saya adalah sebaik-baik kelompok kanan ( Ashabul Yamin )”
أَنَا خَيْرُ السَّابِقِيْنَ
“Saya adalah sebaik-baik orang dahulu.

أَنَا أَثْقَى وَلَدِ آدَمَ وَأَكْرَمُهُمْ عَلَى اللهِ وَلاَ فَخْرَ
Saya adalah anak cucu Adam yang paling bertaqwa dan paling mulia di sisi Allah, namun saya tidak merasa angkuh.”
HR Al Turmudzi dan Al Baihaqi dalam Al Dalaail.

أَنَا أَكْرَمُ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ وَلاَ فَخْرَ
Saya adalah orang paling mulia dari generasi awal dan akhir, namun aku tidak merasa angkuh.”
HR. AL Turmudzi dan Al Darimi.

لَمْ يَلْتَقِ أ َبَوَىَّ عَلَى سِفَاحٍ قَطُّ    
Kedua orang tuaku sama sekali tidak pernah melakukan perzinahan.”
HR Ibnu ‘Umar Al ‘Adani dalam Musnadnya.

Jibril berkata, “Saya telah menelusuri wilayah timur dan barat bumi. Saya tidak melihat seorang lelaki yang lebih utama melebihi Muhammad dan tidak melihat anak cucu seorang ayah yang lebih utama melebihi anak cucu Hasyim.”
HR Al Baihaqi, Abu Nu’aim dan Al Thabarani dari ‘Aisyah RA. 

Dari Anas RA, bahwasanya Nabi SAW didatangi buraq pada malam beliau diisra’kan. Buraq itu sulit untuk dinaiki Nabi. “Kepada Muhammad kamu bersikap demikian ?” tanya Jibril, “Tidak ada yang menaiki kamu seseorang yang lebih mulia di sisi Allah daripada Muhammad.” Akhirnya keringat Buraq itu keluar dengan deras.
HR Al Bukhari dan Muslim.

Dalam hadits Abi Sa’id, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda : 
 أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ , وَبِيَدِيْ لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ , وَمَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ- آدَمَ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَائِيْ , وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ اْلأَرضُ وَلاَ فَخْرَ

Saya adalah junjungan anak Adam pada hari kiamat namun aku tidak merasa angkuh. Di tanganku ada panji pujian ( liwaa’ul hamdi ) namun aku tidak merasa angkuh. Tidak ada seorang Nabi pun pada hari itu - Nabi Adam dan Nabi lain - kecuali di bawah panjiku. Saya adalah orang pertama yang bumi terbelah karenanya namun aku tidak merasa angkuh.” HR Al Turmudzi yang menilainya sebagai hadits hasan shahih.

Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW berkata : 
  أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ خُرُوْجًا إِذَا بُعِثُوْا , وَأَنَا قَائِدُهُمْ إِذَا وَفَدُوْا , وَأَنَا خَطِيْبُهُمْ إِذَا اَنْصَتُوْا , وَأَنَا شَفِيْعُهُمْ إِذَا حُبِسُوْا , وَأَنَا مُبَشِّرُهُمْ إِذَا يَئِسُوْا , اَلْكَرَامَةُ وَالْمَفَاتِيْحُ يَوْمَئِذٍ بِيَدِيْ وَلِوَاءُ الْحَمْدِ يَوْمَئِذٍ .
وَأَنَا أَكْرَمُ وَلَدِ آدَمَ عَلَى رَبِّيْ  يَطُوْفُ عَلَيَّ أَلْفُ خَادِمٍ كَأَنَّهُمْ بِيْضٌ مَكْنُوْنٌ أَوْ لُؤْلُؤٌ مَنْثُوْرٌ ."
Saya adalah orang pertama yang keluar ketika manusia dibangkitkan. Saya adalah penuntun mereka ketika mereka menghadap Allah. Saya adalah yang berbicara ketika mereka bungkam. Saya adalah orang yang memberi syafaat ketika mereka ditahan. Saya adalah pemberi kabar gembira tatkala mereka merasa putus asa. Kemuliaan dan kunci-kunci di hari itu ada ditanganku juga panji pujian.” 
Saya adalah anak cucu Adam paling mulia di sisi Tuhanku. Seribu khadim laksana permata terpendam atau intan yang bertaburan mengelilingiku.”
 HR. Al Turmudzi dan Al Darimi.

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau berkata : 

 أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ اْلأَرْضُ فَأُكْسِىَ حُلَّةً مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ أَقُوْمُ عَلَى يَمِيْنِ الْعَرْشِ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ الْخَلاَئِقِ يَقُوْمُ ذَلِكَ الْمَقَامَ غَيْرِيْ .
Saya adalah orang pertama yang bumi terbelah karenanya. Aku diberi busana surga kemudian aku berdiri di sebelah kanan ‘arsy. Tidak ada makhluk lain yang berdiri di tempat itu kecuali aku.”
HR Al Turmudzi. “Hadits ini hasan sekaligus shahih.

PARA NABI ADALAH MANUSIA, TETAPI….!

Sebagian orang menganggap bahwa para Nabi sama dengan manusia lain dalam segala kondisi dan karakter. Asumsi ini jelas keliru dan kebodohan yang nyata yang ditolak oleh dalil-dalil sahih dari Al Kitab dan Al Sunnah. Para Nabi, meskipun mereka sama dengan semua manusia dalam substansi dasar yang nota bene sebagai manusia berdasarkan firman Allah :
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ
Katakanlah : "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu." ( Q.S.Al.Kahfi : 110 )

 hanya saja mereka berbeda dalam banyak sifat dan karateristik insidental. Jika tidak demikian lalu apa keistimewaan mereka ? dan bagaimana bisa terlihat buah terpilihnya mereka mengalahkan orang lain ?Dalam bahasan ini kami akan menjelaskan sedikit sifat-sifat mereka di dunia dan keistimewaan-keistimewaan mereka di alam barzakh yang ditetapkan berdasarkan Al Kitab dan Al Sunnah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013