Selasa, 06 September 2011

Gerusan Gerakan Islam Radikal


GERUSAN GERAKAN ISLAM RADIKAL
Oleh: Mashuri
(Wakil Koordinator Eksekutif YFLA Jawa Timur)

BEBERAPA KECENDERUNGAN
       “…belakangan ini suara dari kelompok Islam garis keras tampak mendominasi wacana politik, padahal jumlah pengikutnya tidaklah banyak dibanding pengikut Islam moderat. Oleh karena itu, merupakan tantangan bagi Islam moderat untuk mengambil kembali insiatif yang selama masa kritis telah terlepas” (Gus Dur:2001)
       “Wacana gerakan Islam di Indonesia nanti tidak lagi didominasi kelompok yang selama ini menjadi mainstream utama, seperti NU, Muhammadiyah, dan beberapa kelompok besar seperti ICMI, PPP, dan lainnya. Namun, gerakan Islam Indonesia akan banyak diwarnai kelompok non mainstream. Mereka akan banyak mewarnai dengan segala variannya. Misalnya, Lasykar Jihad dengan radikalnya, Hizbut Tahrir yang radikal tapi lembut, dan lainnya…Gejala bangkitnya Islam non mainstream bisa disaksikan pada era reformasi. Setelah bertahun-tahun tidak mempunyai saluran untuk bicara, mereka menunjukkan kekuatanya untuk bicara, meski dengan susah payah. “Kekuatanya juga didukung kemampuanya untuk memanfaatkan saluran komunikasi…” (Ulil Abshar Abdalla:2001)
       Gerakan Islam di Indonesia masa mendatang, paling tidak, akan menempatkan Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Syi’ah sebagai gerakan yang “paling berpotensi terus membesar” dan “menjadi saingan serius gerakan Islam local”. Sebaliknya, “gerakan Islam lokal (sunni moderat) tampaknya paling ketinggalan” (Release BIN)
       Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan contoh dari sekian varian gerakan Islam moderat di tanah air (Eliraz: 2007). Dan diakui atau tidak dalam performance yang “sesungguhnya” atau paling tidak, sedang menurun popularitasnya. Selain dalam hal dan berkaitan dengan domain politik dan kekuasaan, ruang publik justru secara determinan dipenuhi oleh semakin ekstensifnya berbagai manifest iklan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Kongres Khilafah, aksi-aksi “simpatik” HTI dan seterusnya.
       Fenomena ini, tentu saja, menarik di cermati karena bisa jadi dimasa mendatang, pendulum peta gerakan Islam akan bergeser ke corak radikal. Tidak dinafikan bahwa, hingga saat ini dukungan publik masih cukup besar terhadap Islam moderat, terutama NU dan Muhammadiyah.
       Merosotnya performa NU sebagai Islam moderat, diperparah oleh menguatnya arus migrasi kader NU ke arus Islam radikal, baik IM (PKS), HTI dan seterusnya.
       Di PKS, misalnya, sebagian besar kader partai secara kultural berlatar belakang NU dan Muhammadiyah. Hasil wawancara Machmudi (2008) dengan kader dan aktifis berpengaruh di PKS, mulai dari mereka yang menduduki jabatan sebagai ketua, sekretaris dan anggota Dewan Syariah (Sharia Council) PKS Pusat, Propinsi Jawa Timur, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan menguatkan tesis diatas.
Background
Traditionalist
Modernist
Latar keluarga
Aktifist
19
  3
53 %
  8 %
12
7
36 %
19 %

Catatan: Sebanyak 19 kader PKS di Dewan Syari’ah atau sekitar 53% memiliki latar belakang NU, dan tiga diantaranya adalah mantan aktifis NU (8%). Sementara, terdapat 12 orang atau 36 % elit Dewan Syariah memiliki latar belakang modernist (Muhammadiyah), dan tujuh diantaranya pernah menjadi aktifis Islam modernist

       Dengan demikian, mayoritas anggota Dewan Syari’ah justru memiliki ikatan cultural, histories dan bahkan ideologis dengan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU).
       Masih dari Machmudi (2008), beberapa kalangan muda yang baru pulang dari berbagai Universitas di Timur Tengah, terutama Mesir, Saudi Arabia, Yaman dan Sudan maupun perguruan tinggi di barat menjadi pendukung PKS. Misalnya, Nur Machmudi Ismail yang sekarang menjadi Walikota Depok, Yuyun Wirasaputra (NU Depok), Abdur Raqib, Surahman Hidayat (Anggota Dewan Syari’ah), Abdul Aziz Arbi (anggota DPR), Agus Purnomo (anggota DPR), Zulkieflimansyah (Anggota DPR) dan Seniman Latif (Anggota DPR). Termasuk Rahmad Abdullah yang dikenal sebagai Shaikh al-Tarbiyyah (the Grand Teacher of Jemaah Tarbiyah) juga berlatar keluarga NU, meskipun ia lebih memilih Masyumi, disusul  Muslikh Abdul Karim (pernah nyantri di Langitan Tuban yang kemudian meneruskan studi Doktornya di University of King Abdul Aziz), Kyai Bagir Said (mentornya Rahmad Abdullah dan berlatar keluarga NU di Jakarta Selatan), Hilmi Aminudin (sempat belajar di Pesantren Tebuireng Jombang dan belajar studi Islam di Arab Saudi), dan seterusnya.

PERMASALAHAN
       Perebutan kuasa antara dua kutub gerakan Islam di tanah air, Islam radikal dan Islam moderat telah menemukan bentuknya. Disatu sisi, Islam radikal cenderung ekspansif memobilisasi dukungan berbagai pihak, termasuk publik yang berlatar keluarga maupun aktifis Islam moderat. Sebaliknya, Islam moderat relative defensif sehingga akhirnya, banyak diantara aktifis maupun anggota jama’ah bermigrasi ke arus Islam radikal.
       Masih terlalu dini untuk meyimpulkan bahwa, pendulum Islam Indonesia telah bergeser dari Islam mainstream yang moderat menuju Islam non mainstream yang radikal. Namun, kecenderungan migrasi kader menjadi indikasi awal, betapa perebutan kuasa setapak demi setapak mulai dimenangkan oleh arus Islam radikal.

VARIAN ISLAM RADIKAL
       Islam radikal dapat dikatagorikan menjadi tiga arus besar: Islam politik (al-harakiyyah), Jihadist (Jihadiyyah), dan Dakwah (Ilmiah).
       Masing-masing dari ketiga arus besar berakar pada jantung tradisi yang sama (Salafisme).
       Harakiyyah (PKS dan HTI)
       Jihadiyyah (JI)
       Ilmiyah (Wahhabi)

HIZBUT TAHRIR INDONESIA (HTI)
       Didirikan oleh Taqiyuddin An-Nabhani pada tahun 1952 di al-Quds, Palestina.
       Di Indonesia, HTI mulai berkembang sejak tahun 1982 melalui Abdurrahman al-Bagdadi dan Musthofa. Bagdadi adalah pendatang dari Libanon yang memang sejak awal berasal dari keluarga aktifis HT. Al-Bagdadi kali pertama datang dan menetap di Indonesia melalui Abdullah bin Nuh --- yang juga pengasuh Pesantren al-Ghazali pada tahun 1981 untuk membantu Pesantren al-Ghazali yang diasuhnya (Mulyati:2007). Sementara, Mushtofa mulai intent berkenalan dengan HT ketika ia di kirim oleh orang tuanya  berpandangan modernis dan memiliki kedekatan dengan DDI--- belajar di Jordania (Rahmad: 2005).

POLA GERAKAN
       Rekrutmen dan Kaderisasi: Mempengaruhi individu untuk menjadi bagian dari HTI, Ideologisasi dan indoktrinasi ajaran melalui kelompok-kelompok terfokus.
       Public campaign: Tahapan interaksi dengan umat, yang dibarengi dengan perjuangan politik (kifah siyasi).
       Meraih kekuasaan: Penggunaan metode revoluesi untuk menggantikan kekuasaan yang ada (HTI tidak membolehkan partai bergabung ke dalam pemerintahan yang menerapkan hukum Islam secara parsial. HTI harus mengambil kekuasaan secara total).
       Khilafah Islamiyah: Penerapan pemerintahan dengan sistem kekhalifahan (An-Nabhani:2001; 2002; 2007).

TARBIYAH IKHWANUL MUSLIMIN (IM)
       Di Indonesia, IM bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan (PK) dan Partai Keadilan Sejaterah/PKS (sekarang).
       IM mulai menjadi bagian dari Islam Indonesia pada sekitar tahun 1970-an yang dimotori oleh Imaduddin Abdurrahim (Bandung).
       Saat ini, diperkirakan memiliki antara 394.190-500.000 kader militant yang tersebar diseluruh Indonesia.

POLA GERAKAN
       Creating Strong Cadres atau tahapan pengorganisasian (mihwar tandzimi): Merekrut anggota baru, menanamkan ideologi gerakan melalui unit-unit usroh, membinanya melalui sistem tarbiyah, membangun organisasi yang solid, mencetak kader militant dan pengembangan jaringan.
       Community organezation di medan kemasyarakatan (mihwar Sya’by): Membangun basis massa yang luas serta merata sebagai basis pendukung dakwah, termasuk melalui pencitraan.
       Penguatan medan kelembagaan (mihwar mu’assasi): membangun dan mengembangkan berbagai lembaga untuk memperkuat perjuangan gerakan (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia/KAMMI, Garda Keadilan/GK, Serikat Pekerja Keadilan/SPK, dan seterusnya).
       Mengembangkan aktifitas politik di medan kenegaraan (mihwar dauli): menjadi peserta pemilu, merebut pos kekuasaan strategis, dan seterusnya.
       Penegakan syari’at Islam (konstitusionalisasi syari’ah) dan mendirikan Negara Islam (khilafah Islamiyah) (Machmudi: 2008; Rahmat: 2008).

JAMA’AH ISLAMIYAH (JI)
       Jama’ah Islamiyah (JI) merupakan gerakan Islam radikal yang didirikan oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir pada tahun 1995 di Malaysia. Pembentukan JI disebut-sebut sebagai realisasi dari cita-cita Sungkar yang sejak tahun 1970-an “sudah mengisyaratkan perlunya organisasi baru yang dapat bekerja lebih efektif guna mencapai sebuah negara Islam, dan organisasi tersebut ia namakan Jamaah Islamiyah. Unsur-unsur kuncinya adalah perekrutan, pendidikan, ketaatan, dan jihad” (ICG:2002)
       Awalnya, penyebaran JI lebih banyak dilakukan melalui Pondok Pesantren Lukmanul Hakim di Johor-Malaysia. Setelah dibentuknya JI pada tahun 1993, Pesantren Luqmanul Hakiem menjadi pusat kendali Mantiqi I, dimana hampir seluruh anggota utamanya memiliki hubungan dengan sekolah itu. Seluruh anggota JI pelaku pengeboman yang paling dikenal seperti Hambali, Mukhlas, Amrozi, Ali Imron, Zulkarnaen, Faturrahman al- Ghozi, Dulmatin, Imam Samudra, Azhari dan juga Noordin sendiri, pernah mengajar atau belajar disitu (ICG:2006).

POLA GERAKAN
       Mengedepankan aksi-aksi kekerasan dengan target yang diyakini musuh, tanpa memandang sipil atau militer, zona perang atau damai, dan sebagainya.
       Mendayagunakan skema perang gerilya yang berarti “view, analyze and explore all aspects of life in the enemy’s body and in the environment, view carefully and honestly all our potential strengths and effective powers we possess”. Gerakan dibangun melalui empat tahapan: 1) planning; 2) execution; 3) reporting; dan 4) evaluation.
Kaderisasi lebih di  fokuskan pada,  bagaimana anggota memiliki kapasitas yang terfokus pada Intelligence Operations, Strength Building Operations, Strength Utilization Operations, and Fighting Operations (kuat mental dan pisiknya, disiplin, loyal, dan kemampuan “to use weapons, tactical and strategic thinking, and leadership development” (Abuza:2004).

SALAFI DAKWAH
          Masyarakat awam banyak menyebut Salafi Dakwah dengan istilah Wahhabi (Wahhabisme).
          Transmisi ke Indonesia sebagian besar melalui jaringan LIPIA, Alumni lembaga pendidikan yang dikelola tokoh-tokoh Wahhabi di Yaman dan perguruan tinggi ternama di Arab Saudi.
          Beberapa tokoh penting Salafi Dakwah di Indonesia, termasuk Abu Nida’, Ahmas Faiz, Asifuddin, Aunur Rafiq Ghufran, Ja’far Umar Thalib, Yazid Abdul Qadir Jawwaz, Yusuf Usman Baisa, dan lain-lain.

POLA GERAKAN
       At-Tahswiyah wa at-tarbiyyah (purifikasi/ pemurnian). Pembersihan Islam dari segala kotoran yang masuk, kemudian mendidik manusia dengan dasar Islam yang murni ini, yakni membersihkan tauhid dari segala syirik, mem-bersihkan sunnah dari bid'ah-bid'ah, dan penyimpangan (tahrif) maupun segala bentuk kesyirikan (Ali bin Hasan:1415H; Malik: 2004).
       Al-Wala’ wa al-Bara’ (kesetiaan dan permusuhan). Bersikap setia, loyal terhadap orang-orang yang beraqidah Islam dan memusuhi orang-orang yang menentangnya (Sholeh bin Fauzan al-Fauzan:2007).
       Membangun jaringan informal elit Salafi dakwah di Indonesia melalui halaqah, daurah, maupun konsolidasi antar pesantren yang didirikan dengan pembiayaan Arab Saudi.
       Beberapa pesantren jaringan Salafi dakwah, diantaranya: Pesantren Ibn al-Qayyim, Sleman Yogyakarta; Pesantren Ihya as-Sunnah Degolan, Sleman Yogyakarta; yayasan Majlis at-Turats al-Islami di Piyungan, Bantul; pesantren al-Imam al-Bukhari di Selokaton, Surakarta; Pesantren al-Madinah Solo; Minhaj as-Sunnah Magelang; Lu’lu wal Marjan Semarang; Diyaus Sunnah Cirebon;  Ihyaus Sunnah Bandung; As-Sunnah Makasar; al-Atsariyah Temanggung; Ittibaussunnah Sukoharjo dan Magetan; Al-Salafi Jember; Ta‘zimus Sunnah Ngawi; al-Bayyinah Gresik; al-Furqan Cilacap dan Pakanbaru; Ibnu Qayyim di Balikpapan;  Difa‘u ‘anis Sunnah Yogyakarta; Ibnu Taimiyyah Solo, dan sebagainya.

CATATAN AKHIR
       Munculnya fenomena PKS yang mulai mengadaptasi tradisi Islam lokal (tahlilan, istighatsah,barzanji, dan lain-lain) sangat terbuka menjadi jalan melempangkan pemenangan perebutan kuasa dengan arus Islam moderat, terutama NU (DPP PKS:2006).
       NU, dengan demikian, dituntut tanggap dan segera berbenah agar tidak semakin tergerus. Karena, jama’ah atau masyarakat nahdliyyin tidak lagi bisa membedakan antara Jam’iyyah NU dan PKS dikemudian hari.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013