Selasa, 30 Agustus 2011

Idul Fitri Bukan Sekedar Lebaran


Idul Fitri Bukan Sekedar Lebaran
Oleh: KH. MA. Sahal Mahfudh

     Selama sebulan kita menyelami berbagai keutamaan dan lipat ganda amal dalam beribadah sehari-hari dan ibadah-ibadah yang hanya khusus pada Bulan Ramadhan. Rangkaian amaliah perjuangan melawan hawa nafsu  dan mengendalikan diri selama bulan suci. Selanjutnya, setelah itu semua selesai kita memasuki tahapan baru yang dinamakan dengan Idul Fitri atau dalam istilah di Indonesia di sebut juga lebaran
     Id bermakna hari raya, sedangkan fitri atau fitrah  sebagaimana asumsi banyak orang berarti suci. Idul Fitri berarti hari merayakan kembalinya kesucian diri. Dalam bahasa yang lebih awam, dimaknai sebagai hari kemenangan melawan hawa nafsu selama ramadhan. Dalam pengertian ini, idul fitri merupakan hasil dari proses panjang Ramadhan, ditandai dengan meningkatnya kualitas kita sebagai hamba Allah. Laysa al-id li man labisa al-jadid, wa lakinna al-id li man tha’atuhu yaziid (hari raya bukan untuk orang yang memakai pakaian baru, tepai hari raya untuk orang yang bertambah keta’atannya).
     Asumsi Idul fitri bermakna suci ini didasarkan pada orang yang berpuasa Ramadhan akan dihapus dosa-dosanya sehingga kembali menjadi suci, seperti bayi yang baru lahir yang pada fitrahnya adalah suci. Kata  fithr juga berarti bentuk mashdar dari fathara-yufthiru-fithr. Kata fithr memiliki banyak arti di antaranya merobek, membelah, menciptakan, makan pagi, dan berbuka puasa. Sehingga, dinamakan Idul Fitri karena kita sudah tidak  perlu lagi berpuasa, setiap orang diperbolehkan untuk melakukan hal-hal yang membatalkan puasa yang selama satu bulan dilarang.
     Jadi, pemaknaan Idul Fitri tidak hanya kembali  kepada kesucian, karena Idul Fitri bukanlah suatu klimaks atas ibadah puasa kita selama satu bulan dalam rangka menahan hawa nafsu dan beribadah. Ramadhan adalah rutinitas tahunan, dan masih ada sebelas bulan lainnya yang harus kita hadapi dengan mengendalikan hawa nafsu dan beribadah.
     Kesucian juga bukan hanya berdasar kepada terhapusnya  segala dosa. Pertanda menjadi manusia yang fitri, berarti setelah Ramadhan ketakwaan kita kepada Allah SWT meningkat. Dalam aspek sosial, manusia yang fitri adalah manusia yang suci kemanusiaannya. Kemanusiaan yang suci dari segala bentuk dosa sosial dan tindakan-tindakan yang merugikan orang di sekitarnya, masyarakat dan bangsa. Aspek sosial yang lain dalam Idul Fitri adalah dimana kita diwajibkan mengeluarkan zakaat fitrah, mempererat silaturrahim dengan saling berma’afan satu sama lain ataupun halal bi halal. Apabila dua makna kesucian tersebut telah kita gapai, maka kita telah menggapai kemenangan yang sebenarnya dalam Idul Fitri.
     Kemenangan dalam Idul Fitri hendaknya ketika dirayakan tidaklah bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan pada puasa Ramadhan. Kemenangan dalam Idul Fitri bukanlah kemenangan dengan terbebasnya kita untuk makan dan minum sepuasnya setelah selama sebulan merasa terpaksa berpuasa. 
     Kemenangan Idul Fitri di negara kita biasa disebut dengan istilah  lebaran. Akar kata lebaran adalah lebar, selesai dan  bebas. Memiliki konotasi makna terlepas atau terbebas dari Ramadhan, seolah Ramadlan adalah suatu kungkungan yang berhasil dilalui, kemudian dirayakan. Lebaran sendiri menciptakan tradisi-tradisi yang tidak berhubungan secara langsung dengan agama (mudik, baju baru, ketupat dan lain-lain). Tradisi-tradisi ini kemudian justru menjadi lebih besar dan lebih gegap-gempita daripada makna Idul Fitri itu sendiri
     Semisal, yaitu tradisi mudik yang dimaksudkan untuk silaturahim ini telah tercampuri dengan budaya demonstratif. Di mana para pemudik ketika pulang ke daerah asal menunjukkan gaya  hidup dari cara berpakaian dan tingkat konsumsi mereka untuk menunjukkan peningkatan status sosialnya. Tradisi pemakaian baju baru yang menandakan kesucian juga tidak lebih dari budaya demonstratif dan hasil dari upaya lebaran yang diperdagangkan menjadi komoditi yang menjanjikan.
     Perayaan idul fitri yang makin bertolak belakang lagi dengan agama dan makna Idul Fitri adalah merayakan lebaran dengan foya-foya. Perayaan seperti ini bukan menjadikan kita semakin suci tapi malah menjauhkan kita dari kesucian itu sendiri.
     Marilah kita gapai makna Idul fitri dengan melakukan amal yang meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Menjadi manusia yang suci bukan hanya saat berakhirnya Ramadhan saja, tapi berlanjut ke bulan-bulan selanjutnya. Merayakan Idul Fitri dengan bertambahnya ta’at, bukan merayakan lebaran yang seolah-olah bahagia dengan berakhirnya Ramadhan. Taqabbalallahu minnaa waminkum taqabbal yaa kariim

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013