Kamis, 28 Juli 2011

Puasa Membangun Mental Karakterisktik Bangsa


Puasa Membangun Mental Karakterisktik Bangsa
Oleh : DR. KH.MA. Sahal Mahfudh

Ibadah puasa adalah salah satu diantara sekian banyak bentuk syari’at. Syari’at dalam pengertian nilai-nili Islam yang merupakan bagian dari kompleksitas ajaran Islam. Artinya nilai-nilai Islam tidak bisa dibedakan dengan syari’ah dimana ia bertujuan untuk membangun kehidupan manusia berdasarkan nilai-nilai kebajikan (ma’rufat) dan membersihkan dari nilai-nilai ketidakbajikan (munkarat). Dalam hal ini syari’at memberikan bimbingan dalam bentuk ibadah sebagi ritulanya yang mencakup teknik-teknik (kaifiyyah) dan kaitan manfaat yang terakandung di dalam ibadah tersebut.
Kerena puasa merupakan syariat, maka ia memiliki kaifiyyah. Kaifiyyah itu mengatakan bahwa puasa adalah menahan diri secara dzahir dari makan minum dan bersetubuh dan menjauhkan diri secara batin diri kebohongan-kebohongan, menggunjing, sumpah palsu dan pandangan-pandangan yang diikuti oleh hawa nafsu. Dalam arti yang lebih husus puasa adalah menjaga perilaku lahir dan perilaku batin. Kesemuanya bermuara pada pencapaian satu tujuan menciptakan manusia-manusia yang taat kepada Tuhan yang ketaatannya tidak pada hal-hal ritual saja tetapi pada nilai-nilai ketuhanan itu sendiri yang berbentuk syari’ah atau nilai-nilai Islam yang berfungsi sebagai penuntun, petunjuk dan pembimbing bagi kehidupan manusia.
Dengan demikian ada dua aspek yang tidak bisa ditinggalkan dari puasa, pertama aspek mengendalikan diri yang kedua aspek teologis. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, pada satu sisi mengendalikan diri akan sulit dilakukan jika tidak ada satu motifasi yang mendorong jiwa untuk melakukannya. Dan yang mampu mendorong kearah itu adalah aspek teologis yang bermuara pada aspek-aspek transendental, kalau sekarang kita mau jujur menjaga puasa sebaik-baiknya, itu adalah pilihan, kita mau tidak puasa tanpa seorangpun tahu, itu juga mudah. Terserah kita untuk menentukannya kecuali kalau kita mampu merasakan kehadiran-Nya disetiap ruang dan waktu yang kita tempati. Di sini kita tidak punya pilihan lain kecuali harus menjaga atau melakukan amal hanya karena Allah demi keabsahan dari puasa dan amal kita itu, seperti dinyatakan dalam sebuah hadits qudsi “Kullu amali ibn adam lahu illa as-shiyam, faiinahu li wa ana ajzi bihi”.
Jika aspek-aspek puasa itu sudah dilakukan secara benar dan totalitas -dalam arti tidak sekedar melakukan ritualnya saja tetapi lebih dari itu nilai-nilai syari’ahnya- maka bukan tidak mungkin akan terbentuk mental karakteristik yang sangat mendasar dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini sangat fundamental ketika hampir semua aspek kehidupan bangsa ini baik aspek pendidikan, aspek ekonomi social, budaya dan politik sedang dilanda krisis multidimensional.
Aspek pendidikan sampai hari ini dinilai belum punya karakter, aspek ekonomi semua masyarakat sudah tahu kalau bangsa ini banyak utang untuk tidak mengatakan kolaps, aspek social semakin mengerikan karena masyarakat semakin tidak memperhatikan setandar-nilai-nilai social dan nilai-nilai social itu sendiri sekarang semakin mengarah pada kebebasan tanpa batas dan individualis maerialistis, kalau dulu mo-limo itu dianggap pelanggaran berat sekarang tidak lagi karena semakin banyak orang melakukannya, kalau dulu orang itu bisa gotong-royong tanpa pamrih sekarang diperhitungkan untung-rugi secara materi, keuntungan apa yang bisa diperoleh. Bagaimana dengan aspek politik? Sama saja, rasanya belum ada yang benar-benar memperjuangkan rakyat, yang ada adalah perjuangan kepentingan individu-individu atau golongan untuk mendapatkan posisi-posisi formal dieksekutif dan legislative.
Semua itu adalah kenyataan yang tidak dapat diingkari dan kalau kita runut dari kenyataan diatas maka banyak factor penyebabnya, antara lain adalah lemahnya kemampuan mengendalian diri, orang ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkannya secara cepat, ia lupa bahwa segala sesuatunya harus melalui proses dan tahapan-tahapan tertentu, fikirannya menjadi sempit, pandangannya tidak lagi jernih, aspek moral etika kurang diperhatikan yang ada dalam otaknya adalah bagaimana secepatnya memenuhi ambisinya itu. Penyebab lain yang paling dominan adalah lemahnya aspek teologis, meskipun kita mangatakan sebagai bangsa yang religius tetapi kenyataannya kita sering menganggap diri kita pintar, menerjang lalu berkelit dan bermain-main dari ketentuan Tuhan dengan berbagai cara seolah-olah kita yang berkuasa atas hukum dan Tuhan tidak mampu berbuat apa-apa, menganggap bahwa hari pembalasan tidak ada apa-apanya.    
Nah, Jika kita hubungkan fenomena diatas dengan ibadah puasa, maka akan kita temukan satu titik tolak dimana kita bisa memulai segala-galanya dengan filter menahan diri ala puasa artinya kalau ada rambu-rambu larangan maka jangan diterjang, kalau belum waktunya jangan ditabrak, melakukan segala sesuatunya setelah tahu betul bahwa sesuatu itu benar-benar diperbolehkan dan yang terpenting adalah satu kesadaran teologis dengan cara muraqabah yaitu satu kesadaan dimana kita merasa melihat Allah atau setidaknya selalu ada perasaan bahwa Allah selalu melihat kita dalam ahwal apapun, tidak ada yang alpa dalam pandangan-Nya, segala sesuatau pasti ada balasannya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013