Rabu, 27 Juli 2011

Puasa Saatnya Kembali pada Spiritualitas


Puasa Saatnya Kembali pada Spiritualitas
Oleh: DR. KH. MA. Sahal Mahfudh

Hidup pada masa sekarang boleh dikatakan hidup dalam peradaban masyarakat modern, dalam bahasa global disebutnya sebagai “era modernisme”. Kita boleh berbangga dengan penamaan itu karena dalam peradaban masyarakat modern selalu dicirikan dengan berbagai macam kemajuan terutama menyangkut penemuan-penemuan akal atas ilmu pengetahuan dan teknologi baru sehingga makin tampak megahlah kehudupan ini. Perstasi hebatkah? Mungkin.
Tetapi jika kita tanyakan cukupkah modernisme itu memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam eksistensinya sebagai manusia yang disamping memiliki unsur jasmani (jumleger) juga terdapat unsur ruhani? Belum tentu, bahkan saya berani katakan bahwa modernisme masih jauh dari cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia itu.
Boleh jadi modernisme dapat memenuhi semua kebutuhan fisik manusia meskipun hal ini juga masih belum tentu. Berbagai macam penemuan dan fakta membuktikan bahwa di negara-negara modern yang maju sekalipun selalu ada orang-orang yang mati di jalanan karena kelaparan atau kedinginan serta masih terdapat diskriminasi baik secara individual maupun kolegial, legal maupun ilegal terhadap orang atau kelompok-kelompok tertebtu.
Kemajuan modernisme itu akan semakin terasa jauh dari memenuhi manakala kita memperhatikan unsur manusia yang kedua yaitu ruhani. Dalam hal pemenuhan unsur ruhani, rasanya modernisme belum dapat membangun unsur ini bahkan ada kecenderungan menjadikan unsur ruhani ini sebagai unsur manusia yang kering dan tak penting. Karena seperti yang kita rasakan selama ini bahwa dunia modern lebih berpijak pada nilai-nilai sekuler, materialistik dan mekanistik sehingga disadari maupun tidak, modernisme itu pada kenyataanya dirasakan oleh manusia sebagai rangkaian dari proses dehumanisasi. Dan lebih lanjut modernisme itu sendiri telah melahirkan berbagai penyakit peradaban yang sulit disembuhkan. Pengawasan dhahir dan keuntungan materi saja yang agaknya menjadi satu-satunya pertimbangan manusia dalam berperilaku. Merasa aman dari pengawasan dhahir dan mendatangkan keuntungan materi, banyak orang melakukan korupsi, merampok, membunuh dan merampas hak-hak orang lain, kita sering menganggap diri kita pintar, menerjang melampaui batas lalu berkelit dan bermain-main dari ketentuan hukum Tuhan dengan berbagai cara seolah-olah kita yang berkuasa atas hukum dan Tuhan tidak mampu berbuat apa-apa, menganggap bahwa hari pembalasan tidak ada apa-apanya.    
Yah, kalau boleh saya katakan selama ini kita terbuai kemegahan modernisme dengan nilai nilai materialistik dan lupa pada pemenuhan kebutuhan ruhani atas nilai-nilai spiritual. Ketika beberapa hari ini kita menunaikan puasa saya jadi ingat sebuah hadits qudsi “Kullu amali ibn adam lahu illa as-shiyam, faiinahu li wa ana ajzi bihi”. Setiap amal perbuatan anak adam adalah bagi mereka sendiri kecuali puasa karena puasa adalah miliku dan (karena itu) aku yang nanti akan membalasnya. Ada nuansa yang berbeda dari ibadah puasa jika dibandingkan dengan ibadah yang lain. Puasa tidak sekedar syari’at dalam bentuk ibadah rutual-formal dan legal berupa pengendalian diri untuk meninggalkan makan-minum dari fajar sampai maghrib, tetapi lebih dari itu puasa memberikan penekanan lebih besar pada aspek ruhaniah dalam bentuk sepiritualitas. Aspek spiritualitas -dan ini yang terpenting- selalu menuntut kesadaran akan kehadiran Tuhan yang selalu meliputi semua perilaku manusia. Dalam sebuah ayat Allah berfirman “Dia senantiasa beserta kamu dimanapun kamu berada yakni di dalam keadaan keadaanmu” (QS. 57:4) bahkan dalam ayat yang lain kedekatan Tuhan dengan manusia itu melebihi kedekatan urat lehernya (habl warid).
Jika kita runut, setidaknya ada dua aspek yang tidak bisa ditinggalkan dari puasa, pertama aspek mengendalikan diri yang bersifat ritual formal, yang kedua aspek spiritualitas yang bersifat ruhaniayah. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena pada satu sisi mengendalikan diri akan sulit dilakukan jika tidak ada satu motifasi yang mendorong jiwa untuk melakukannya. Dan yang mampu mendorong kearah itu adalah aspek spiritualitas yang bermuara pada aspek-aspek transendental, kalau sekarang kita mau jujur menjaga puasa sebaik-baiknya, itu adalah pilihan, kita mau tidak puasa tanpa seorangpun tahu, itu juga mudah. Terserah kita untuk menentukannya kecuali kalau kita mampu merasakan kehadiran-Nya disetiap ruang dan waktu yang kita tempati. Di sini kita tidak punya pilihan lain kecuali harus menjaga atau melakukan amal hanya karena Allah demi keabsahan dari puasa dan amal kita itu. “Kullu amali ibn adam lahu illa as-shiyam, faiinahu li wa ana ajzi bihi”.
Jika aspek-aspek puasa itu sudah mampu diimplementasikan secara benar, totalitas dan berkelanjutan -dalam arti tidak sekedar melakukan ritual-formalnyanya saja- tetapi juga spiritualitasnya sepanjang tahun, yaitu kesadaan dimana kita merasa melihat Allah atau setidaknya selalu ada perasaan bahwa Allah selalu melihat kita dalam perilaku apapun, tidak ada yang alpa dalam pandangan-Nya dan segala sesuatau pasti ada balasannya, maka puasa bisa diharapkan dalam membangun peradaban masyarakat modern yang mampu menjalani hidupnya secara seimbang antara kehidupan dunia dan ahirat antara jasmani dan ruhani.
Saat ini puasa bukan hanya penting sebagai sebuah kewajiban yang harus ditunaikan, puasa saatnya kita semua kembali pada spiritualitas, mengolah jiwa untuk satu tujuan menciptakan manusia-manusia yang bertaqwa, taat kepada Tuhan yang ketaatannya tidak pada hal-hal ritual saja tetapi pada nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013