Selasa, 07 Juni 2011

Fiqh Tawassul ( 37 )


MEMOHON PERTOLONGAN DAN PERMINTAAN KEPADA NABI SAW

Di muka telah kami sebutkan bahwa kami meyakini dengan sepenuhnya bahwa pada dasarnya dalam memohon pertolongan, meminta, memanggil dan memohon hanya pada Allah semata. Dialah Dzat yang memberikan pertolongan, bantuan dan yang mengabulkan. Allah berfirman :
 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Tuhanmu berfirman : "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu".( Q.S.Al.Mu`min : 60 )
 Siapapun yang memohon pertolongan kepada makhluk, memohon bantuan kepadanya, memanggilnya atau memohon dan meminta kepadanya baik makhluk itu masih hidup atau sudah mati dengan meyakini bahwa makhluk itu sendiri secara independen bisa memberi manfaat dan bahaya tanpa izin Allah berarti ia telah musyrik. Namun Allah memperbolehkan makhluk untuk saling memohon pertolongan dan bantuan. Allah juga menyuruh orang yang diminta pertolongan untuk memberikan pertolongan, orang yang diminta bantuan untuk memberikan bantuan dan orang yang dipanggil untuk mengabulkan. Hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini sangat banyak, yang seluruhnya menunjukkan membantu orang yang menderita, menolong orang yang membutuhkan, dan menghilangkan kesusahan. Dan Nabi SAW adalah figur paling agung yang menjadi media untuk memohon pertolongan kepada Allah dalam menghilangkan kesusahan dan memenuhi kebutuhan. 
Penderitaan apakah yang melebihi penderitaan di hari kiamat, saat berada di mahsyar dalam waktu lama, berdesak-desakan, suhu sangat panas dan keringat menyelimuti orang yang dikehendaki Allah. Dalam situasi yang sangat berat semua manusia memohon pertolongan kepada Allah lewat makhluk terbaik-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
وَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ اِسْتَغَاثُوْا بِآدَمَ
Ketika mereka dalam situasi sangat menderita di hari kiamat, mereka memohon bentuan kepada Adam..dst.
 Dalam hadits ini beliau menggunakan kata istighotsah ( memohon bantuan ). Dalam shahih Al Bukhari juga menggunakan kata yang sama. 
 Para sahabat memohon pertolongan dan bantuan kepada Nabi SAW, memohon syafaat kepada beliau dan mengadukan kondisi mereka dari kefakiran, penyakit, musibah, hutang dan kegagalan kepada beliau. Mereka juga mendatangi beliau ketika ditimpa kesengsaraan dan memohon kepada beliau dengan tetap meyakini bahwa beliau cuma mediator dan penyebab dalam memberi manfaat dan bahaya sedang pelaku sejati adalah Allah SWT.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013