Selasa, 07 Juni 2011

Fiqh Tawassul ( 38 )


ABU HURAIRAH RA MENGADUKAN LUPA

Al Bukhari dan perawi lain meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia mengadu kepada Nabi SAW karena lupa terhadap hadits yang ia dengar dari beliau, sedang ia ingin penyakit lupa itu hilang. “Wahai Rasulullah, saya mendengar banyak hadits darimu namun saya lupa. Saya ingin lupa ini hilang,” Abu Hurairah mengadu.
“Bentangkan selendangmu,” perintah beliau.
Lalu Abu Hurairah membentangkan selendangnya dan beliau mengambil udara dengan tanggannya dan meletakkannya pada selendang tersebut kemudian bersabda : 

: ضُمَّهُ فَضَمَّهُ , قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ : فَمَا نَسِيْتُ شَيْئًا بَعْدُ.
Lipatlah selendangmu!” Lalu Abu Hurairah melipat selendangnya. “Sesudah peristiwa itu saya tidak pernah mengalami lupa,”
ucap Abu Hurairah.
 HR Al Bukhari dalam Kitabu Al ‘Ilmi Babu Hifdhi Al ‘Ilm hadits : 119.
Abu Hurairah meminta kepada Nabi SAW untuk tidak melupakan apapun padahal permintaan ini termasuk sesuatu yang hanya mampu dikerjakan oleh Allah. Dan beliau tidak ingkar kepada Abu Hurairah serta tidak menuduhnya telah melakukan tindakan syirik, karena setiap orang mengetahui bahwa orang yang mengesakan Allah jika memohon kepada figur-figur yang memiliki kedudukan di sisi-Nya maka ia tidak menghendaki mereka menciptakan sesuatu dan tidak meyakini mereka mampu melakukannya. Ia hanya menginginkan mereka menjadi sebab baginya dengan sesuatu yang Allah memberikan kemampuan kepada mereka dari do’a dan tindakan yang dikehendaki Allah.
 Coba Anda lihat Rasulullah SAW mengabulkan permintaan Abu Hurairah. Dalam kisah di atas, tidak ada keterangan beliau mendo’akan Abu Hurairah. Beliau hanya mengambil udara dan menjatuhkannya pada selendang Abu Hurairah. Beliau menyuruh Abu Hurairah untuk menempelkan selendang ke dadanya. Dan berkat karunia Allah, Dia menjadikan apa yang dilakukan beliau sebagai sebab terkabulkannya keinginan Abu Hurairah.
Demikian pula beliau tidak pernah mengatakan kepada Abu Hurairah : Mengapa engkau meminta kepadaku padahal Allah lebih dekat kepadamu daripada aku? Karena hal yang sudah dimaklumi oleh siapapun bahwa yang dijadikan sandaran dalam pemenuhan kebutuhan dari Dzat yang di tangan-Nya kunci-kunci semua urusan hanyalah faktor kedekatan pemohon dengan Allah dan kesempurnaan kedudukannya di sisi Allah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013