Kamis, 11 Agustus 2011

Menguatkan Asawaja di Bulan Ramadhan

Menguatkan Asawaja di Bulan Ramadhan


NU Jombang Online,
Ketika sholat taroweh selesai dikerjakan, dari berbagai tempat di wilayah Jombang, sekitar 100-an orang secara berangsur mendatangi sebuah rumah tua ber-arsitektur kolonial yang terletak di Jalan K.H. Wahid Hasyim, sebuah jalan utama tengah kota yang cukup terkenal di kabupaten Jombang. Rumah tersebut adalah warisan Kiyai Nawawi, salah satu tokoh NU di Jombang.

Satu persatu dari mereka memilih posisi duduk di lantai yang digelar karpet hijau di atasnya. Rumah yang tinggi plafonnya sekitar 5 meter tersebut terdiri dari beberapa ruang, dan yang ditempati untuk berkumpulnya orang-orang yang datang berada di ruang tengah, ruang depan dan teras yang memiliki pintu yang cukup lebar untuk dibuka, jadi orang yang berada di teras rumah bisa melihat secara langsung orang berada di ruang tengah.

Sebagaian dari mereka duduk bersandar di dinding memutar mengikuti dinding ruangan, sebagian memilih duduk sambil menikmati suasana udara yang lebih segar di teras, bahkan sebagian ada yang duduk di atas dudukan teras sambil menikmati asap rokok, kopi dan suguhan kue.

Orang-orang yang memiliki latar belakang pekerjaan yang beragam tersebut: guru, pedagang pasar, sales, petani, dan pemuda sedang mengikuti pengajian, yang dilaksanakan setiap hari Rabu malam Kamis dan Minggu malam Senin dengan bahasan yang beragam.

Kitab yang dikaji secara khusus selama bulan Ramadhan ini adalah Mafahim Yajibu An Tushohah (Doktrin-doktrin yang harus diluruskan, red) karya Sayid Muhammad Bin Alwi Almaliki. Kitab tersebut telah diterjemahkan oleh LTN-NU Cabang Jombang menjadi 4 buku. Buku pertama diberi judul Kafirnya Tuduhan Kafir, buku kedua diberi judul Fiqh Tawassul, buku ketiga Fiqh Barokah dan buku keempat Fiqh Ziarah.
Jika jam’ah pengajian sebagain besar berada di ruangan depan dan teras, pengasuh pengajian, KH. Abd. Nashir Fattah, Rais Syuriah PCNU Jombang, yang juga murid langsung Sayid Alwi Almaliki, duduk di ujuang ruang tengah menghadap ke jama’ah pengajian. Kiyai Nashir selama bulan Ramadhan ini selalu didampingi oleh Ustadz Sholihudin Sofwan, pengurus LTN-NU Jombang.

Kiyai Nashir, dalam setiap pengajian selalu membuka bahasan dengan menjelaskan materi dalam kitab Mafahim serta memberikan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian secara lebih terperinci Ustadz Sholihudin, yang sekaligus sebagai editor buku terjemahannya, membahas materi dalam buku hasil diterjemahan. Setelah itu, dibuka forum tanya jawab. Berbagai persoalan terkadang ditanyakan dalam forum tanya jawab ini, meskipun porsi terbesar sesuai dengan tema bahasan malam itu.

Pada Rabu malam Kamis (3/8/2011) dan Minggu malam Senin (7/8/2011) pertama bulan Ramadhan, pengajian dimulai dengan materi Kafirnya Tuduhan Kafir, bahasan pertama dalam kitab Mafahim. Pada Rabu malam Kamis (10/8/2011) yang kedua bulan Ramadhan dilanjutkan pembahasan materi selanjutnya yaitu Fiqh Tawassul. Pengajian akan terus dilanjutkan pada hari-hari tersebut di Bulan Ramadhan dengan bahasan selanjutnya yaitu: Fiqh Barokah dan Fiqh Ziarah.

Dalam pembahasan materi yang kedua (Fiqh Tawassul), Kiyai Nashir menjelaskan tentang hakikat tawassul. Bahwa sesungguhnya hakikat tawassul itu adalah kepada Allah meskipun melalaui perantaraan Nabi atau orang alim. Kiyai Nashir mengambil contoh tentang seseorang yang akan menemui bos-nya. Lebih lanjut dia mengatakan ”Kita bisa mengambil contoh. Jika ada seseorang yang akan menemui bos-nya akan lebih mudah diterima jika bersama seorang kiyai yang dipercaya oleh bos tersebut, begitu juga kita akan lebih mudah diterima Allah jika kita bersama dengan seorang yang dipercaya Allah”.

”Bahkan orang sekelas Mbah Abdullah Salam Kajen Pati masih melakukan tawassul kepada Mbah Mutamakkin. Dalam tawassulnya, Mbah Abdullah Salam mengatakan: berkat keramat (karamoh) panjenengan (anda) saya bertawassul kepada Allah SWT” tambah Kiyai pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.

Lebih lanjut dalam pengajian tersebut Ustadz Sholih menambahkan bahwa, Sayid Alwi Almaliki pengarang kitab Mafahim ini banyak menggunakan dalil-dalil yang digunakan oleh panutan utama kalangan salafy yaitu Imam Ibnu Taimiyyah dalam menyangkalkan tuduhan-tuduhan kafir kalangan salafy, misalnya dalam masalah syafa’at, Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fataawaa membolehkan memohon syafaat kepada Nabi Muhammad di dunia. (mus)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013