Rabu, 08 Juni 2011

Fiqh Tawassul ( 47 )


DI SINI KAMI HANYA AKAN MENAYAKAN PERSOALAN BERIKUT

Apakah golongan Wahabi meyakini bahwa orang-orang yang mati syahid hidup di sisi Tuhan mereka sebagaimana dinyatakan Al Qur’an, atau tidak ? Jika jawaban mereka tidak, maka tidak ada lagi diskusi antara kami dan mereka sebab mereka telah mendustakan Al Qur’an, di mana kitab suci ini mengatakan :

وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ 

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, ( bahwa mereka itu ) mati; bahkan ( sebenarnya ) mereka itu hidup, tetapi kamu Tidak menyadarinya".
( Q.S.Al.Baqarah : 154 )

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya
 dengan mendapat rezki."
( Q.S.Ali Imran : 169 )
Jika mereka meyakini kehidupan orang-orang yang mati syahid, maka kami katakan kepada mereka bahwa para Nabi dan orang-orang muslim yang shalih yang tidak berstatus syuhada’ seperti sahabat-sahabat senior itu tidak diragukan lagi lebih utama dari para syuhada’.
Jika fakta menunjukkan syuhada’ itu hidup maka adanya kehidupan bagi orang-orang yang lebih utama daripada mereka lebih layak, di samping bahwa kehidupan para Nabi di alam kubur telah ditegaskan dalam hadits-hadits shahih. Jika kami katakan bahwa ketika kehidupan arwah telah dibuktikan berdasarkan dalil-dalil qath’i maka tidak ada ruang bagi kita setelah terbuktinya kehidupan arwah tersebut kecuali menetapkan spesikasi-spesikasinya. Karena adanya hal yang dilazimkan ( malzum ) menetapkan adanya yang melazimkan ( lazim ) sebagaimana meniadakan hal yang melazimkan menetapkan tidak adanya hal yang dilazimkan, sebagaimana telah diketahui. 
Secara logika, faktor apa yang menghalangi memohon pertolongan dan bantuan kepada Allah lewat arwah para Nabi sebagaimana seseorang meminta bantuan dengan malaikat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya atau sebagaimana seseorang memohon pertolongan kepada yang lain. ( Engkau disebut manusia sebab ruh bukan jasad fisik ). Aktivitas arwah sama dengan aktivitas malaikat, tidak membutuhkan sentuhan dan alat. Tidak seperti ketentuan-ketentuan dalam aktivitas kita yang telah diketahui. Karena aktivitas arwah terjadi pada alam lain.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah : "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku,Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. " ( Q.S.Al.Israa` : 85 )

Apa yang mereka fahami tentang aktivitas malaikat atau jin di alam ini ?Tidak ragu lagi bahwa arwah, dengan keterlepasan dan kebebasannya membuatnya mampu menjawab orang yang memanggilnya dan menolong orang yang meminta bantuan kepadanya persis seperti orang hidup. Kemampuan arwah justru melebihi orang hidup.
Jika golongan Wahabi tidak mengetahui kecuali hal-hal yang terindera dan tidak mengakui kecuali hal-hal yang kasat mata, maka ini adalah karakter para naturalis bukan kaum mukminin. Bagaimanapun kami mengalah mengikuti dan setuju pandangan mereka bahwa arwah setelah terlepas dari raga tidak mampu melakukan apapun, namun kami katakan kepada mereka jika diandaikan demikian dan kami setuju dalam rangka diskusi, maka kami tegaskan bahwa bantuan yang diberikan para Nabi dan wali kepada orang-orang yang memohon bantuan bukan dikategorikan aktivitas arwah di alam ini. Tetapi bantuan mereka terhadap orang-orang yang berziarah atau memohon bantuan lewat mereka dengan mendoakan sebagaimana orang shalih mendoakan orang lain. Maka yang terjadi adalah do’a dari orang yang unggul untuk orang yang diungguli atau minimal doa seorang saudara kepada saudaranya.
Dan sungguh engkau mengetahui bahwa para Nabi dan wali itu hidup, memiliki kesadaran, kepekaan dan pengetahuan. Malah kesadaran mereka lebih sempurna dan pengetahuan mereka lebih luas setelah terlepas dari raga karena lenyapnya penghalang tanah dan perselisihan-perselisihan ambisi manusiawi. Dalam sebuah hadits terdapat keterangan bahwa amal perbuatan kita disampaikan kepada beliau SAW. Jika beliau menemukan kebaikan beliau akan memuji Allah dan sebaliknya jika menemukan keburukan beliau akan memohonkan ampunan buat kita. Boleh kita katakan bahwa yang dimintakan dan dimohon bantuannya adalah Allah namun si pemohon memohon kepada Allah dengan menggunakan perantara Nabi agar keinginannya dikabulkan Allah. Berarti pelaku yang memberikan bantuan adalah Allah, namun pemohon ingin memohon kepada Allah lewat sebagian orang-orang yang dekat dan mulia di sisi-Nya. Seolah-olah pemohon mengatakan, “Saya salah satu pecinta atau pengikut orang yang dekat dan mulia di sisi-Mu maka rahmatilah aku berkat dirinya.” Dan Allah bakal memberi rahmat kepada banyak orang berkat Nabi SAW dan figur lain dari para Nabi, wali dan ulama.
Walhasil, kemuliaan yang diberikan Allah kepada para pecinta Nabi karena Nabi, juga kemuliaan yang diberikan-Nya kepada sebagian hamba karena sebagian hamba yang lain adalah hal yang telah diketahui. Sebagian dari hal di atas adalah mereka yang mensalati mayit dan memohon kepada Allah agar Dia memuliakan mayit dan mengampuninya karena mereka dengan mengatakan : Dan kami telah datang kepada-Mu sebagai pemberi syafaat maka terimalah syafaat kami.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013