Rabu, 08 Juni 2011

Fiqh Tawassul ( 42 )


MEMOHON PERTOLONGAN DAN BANTUAN KEPADA ALLAH SWA
LEWAT NABI DALAM MENGATASI MUSIBAH

Nash-nash yang shohih  yang mutawatir menyatakan bahwa para sahabat jika mengalami paceklik dan hujan tidak lagi turun mereka datang kepada Rasulullah seraya memohon syafaat, bertawassul, meminta dan memohon bantuan lewat beliau kepada Allah. Mereka menjelaskan kondisi yang dialami dan mengadukan musibah serta penderitaan yang menimpa mereka. Seorang a’rabi memanggil Rasulullah saat beliau berkhutbah pada hari Jum’at : 

 يَارَسُوْلَ الله! هَلَكَتِ اْلأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يُغِيْثَنَا فَدَعَا اللهَ وَجَاءَ الْمَطَرُ إِلَى الْجُمْعَةِ الثَّانِيَةِ , فَجَاءَ وَقَالَ : يَارَسُوْلَ الله ! تَهَدَّمَتِ الْبُيُوْتُ وَتَقَطَّعَتِ السُّبُلُ وَهَلَكَتِ الْمَوَاشِيْ...يَعْنِى مِنْ كَثْرَةِ الْمَطَرِ فَدَعَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْجَابَ السَّحَابُ وَصَارَ الْمَطَرُ حَوْلَ الْمَدِيْنَةَ.
 “Wahai Rasulullah, harta benda rusak parah dan jalan-jalan terputus. Berdo’alah engkau kepada Allah agar Dia menurunkan hujan.” Beliau kemudian berdo’a dan turunlah hujan pada hari kedua. Berikutnya a’robi tadi datang lagi kepada beliau. “Wahai Rasulullah, rumah-rumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binatang ternak mati…” yakni karena derasnya hujan. Akhirnya beliau berdo’a dan mendung pun hilang. Hujan terjadi di sekitar Madinah.”
HR Al Bukhari dalam Kitaabul Istisqaa’ Babu Suaalinnaas Al Imaam Al Istisqaa’ Idzaa Qahithu. 
Abu Dawud meriwayatkan hadits dengan sanad baik dari ‘Aisyah, ia berkata, “Orang-orang mengadu kepada beliau SAW atas hujan yang tidak juga turun.” HR Abu Dawud fi kitaabishsholat Abwaabalistisqaa’.
Al Baihaqi meriwayatkan dari Anas dalam Dalailunnubuwwah dengan rangkaian perawi yang tidak figur yang layak dicurigai. Lihat Fathul Baari vol. II hlm. 495.
Dari Anas ibn Malik bahwa seorang a’rabi datang kepada Nabi SAW. “Wahai Rasulullah SAW, “katanya, “Tidak ada hewan ternak kami yang bisa bersuara dan tidak ada bayi kami yang bisa tidur lelap.” Lalu ia mengucapkan :

أَتَيْنَاكَ وَالْعَذْرَاءُ يُدْمِىْ لَبَانَهَا     وَقَدْ شَغَلَتْ أُمُّ الصَّبِيِّ عَنِ الطِّفْلِ 
وَأَلْقَى بِكَفَّيْهِ الْفَتَى اِسْتِكَانَةً       مِنَ الْجُوْعِ ضُعْفًا مَا يَمُرُّ وَلاَ يَحْلُوْ
لاَ شَيْءَ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ عِنْدَنَا   سِوَى الْحَنْظَلِ الْعَامِي وَالْعِلْهِزِ الْغَسْلِ
وَ لَيْسَ لَنَا إِلاَّ إِلَيْكَ فِرَارُنَا        وَ أَيْنَ فِرَارُ النَّاسِ إِلاَّ إِلَى الرُّسُلِ

·         Kami datang kepadamu saat gadis teteknya berdarah
Ibu bayi melupakan bayinya 
·         Pemuda menjatuhkan kedua telapak tangannya pasrah
Akibat lapar ia lemah, tidak mengganggu dan tidak berguna
·         Tidak ada makanan yang kami miliki
Hanya ada sejenis labu dan makanan waktu kelaparan yang tidak dicuci
·         Hanya padamu aku berlari datang
Dimanakah larinya manusia jika tidak kepada para rasul
Nabi langsung bangkit menyeret selendangnya lalu naik ke atas mimbar dan mengangkat tangannya berdo’a :  

  اَلَّلهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئَا مَرِيْعًا غَدَقًا طَبَقًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلاً غَيْرَ رَائِثٍ تَمْلأَ ُبِهِ الضَّرْعُ , وَتَنْبُتُ بِهِ الزَّرْعُ , وَتَحْيَى بِهِ اْلأَرْضُ بَعْدَ مَوْتِهَا , قَالَ : فَمَا رَدَّ رَسُوْلُ اللهِ يَدَيْهِ حَتَّى أَلْقَتْ السَّمَاءُ بِأَرْدَافِهَا , وَجَاءَ ا لنَّاسُ يَضُجُّوْنَ الْغَرَقَ , فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   :حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا
“Ya Allah turunkan buat kami hujan deras yang menimbulkan kebaikan, membuat subur, banyak, merata, bermanfaat tidak membawa petaka, segera tidak lamban, yang membuat penuh ambing, menumbuhkan tanaman, dan menghidupkan bumi setelah ia mati.” Anas berkata, “Rasulullah tidak mengembalikan tangannya hingga mendung menjatuhkan muatannya dan orang-orang datang meneriakkan suara tenggelam.” “Turunkan hujan di sekitar kami jangan menimpa kami,” lanjut Rasulullah. Mendung pun hilang dari Madinah. 
Renungkanlah bagaimana Nabi SAW menyandarkan memohon bantuan, memberi manfaat dan sebagainya pada hujan secara majaz ? Dan bagaimana beliau menetapkan kalimat penyair : 
Hanya padamu aku berlari datang 
Dimanakah larinya manusia jika tidak kepada para rasul
Dan beliau tidak menilainya telah musyrik. Alasannya adalah karena pembatasan dalam bait itu bersifat relatif. Apakah samar bagi beliau firman Allah :
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ  
"Maka segeralah kembali kepada ( menta`ati ) Allah".
( Q.S.Adz.Dzaariyaat : 50 )
Padahal ayat ini telah diturunkan kepada beliau. Maksud dari lari yang ada dalam bait-bait syair di atas adalah bahwa lari yang diharapkan memberi manfaat adalah kepadamu bukan kepada yang lain dan lari kepada para rasul bukan kepada yang lain. Karena para rasul adalah figur tertinggi, orang yang dijadikan media tawassul kepada Allah dan figur paling agung yang lewat tangan mereka Allah mengabulkan keinginan orang-orang yang datang memohon bantuan kepada mereka.
Perhatikanlah dengan serius betapa beliau SAW sangat terpengaruh oleh apa yang diucapkan penyair a’rabi itu dan begitu cepatnya respons beliau untuk menolong dan membantu manusia di mana beliau bangkit menuju mimbar seraya menyeret selendangnya. Beliau tidak menunggu untuk membereskan selendang terlebih dahulu karena bersegera untuk mengabulkan permohonan orang yang memohon kepadanya dan membantu orang yang memanggilnya. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013