Senin, 06 Juni 2011

Fiqh Tawassul ( 35 )


PENTAFSIRAN  (INTERPRETASI) IBNU TAIMIYYAH TERHADAP
AYAT-AYAT YANG MENERANGKAN SYAFAAT

Ibnu Taimiyyah membolehkan memohon syafaat kepada beliau di dunia , dalam Kitab Al Fataawaa, Ibnu Taimiyyah mampu memberikan analisa yang baik terhadap ayat-ayat yang berisi larangan syafaat, tidak mendapat manfaat dengannya, dan larangan untuk memintanya. Padahal ayat-ayat ini adalah yang dijadikan argumentasi oleh sebagian golongan Wahabi dalam melarang meminta syafaat kepada Nabi di dunia. Dari analisa Ibnu Taimiyyah terhadap makna dari ayat-ayat tersebut di atas, jelaslah bahwa berargumentasi dengan menggunakan ayat-ayat tersebut sebagai dasar dari pandangan-pandangan sebagian golongan Wahhabi adalah argumentasi yang salah tempat dan merupakan upaya merubah ayat dari tempatnya. Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa mereka yang mengingkari ( Mu’tazilah ) syafaat berargumentasi dengan firman Allah :
وَاتَّقُوا يَوْمًا لا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ

"Dan jagalah dirimu dari ( `azab )hari ( kiamat, yang pada hari itu ) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan ( begitu pula ) tidak diterima syafa`at Dan tebusan dari padanya."
( Q.S.Al.Baqarah : 48 )
  وَلا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ  
"Dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa\`at suatu syafa`at kepadanya." ( Q.S.Al.Baqarah : 123 )
مَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ حَمِيْمٍ وَلاَشَفِيْعٍ يُطَاعُ
"Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak ( pula )mempunyai seorang pemberi syafa`at yang diterima syafa`atnya." ( Q.S.Al.Mu`min : 18 )
فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ
"Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa`at dari orang-orang yang memberikan syafa`at." ( Q.S.Al.Muddatsir : 48 )

 Jawaban dari ahlussunnah waljama’ah adalah bahwa ayat-ayat di atas mengandung dua pengertian :
Pertama, syafaat tidak bisa dimanfaatkan oleh kaum musyrikin sebagaimana firman Allah : 
   مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

 "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar ( neraka ) ? Mereka menjawab : Kamidahulu termasuk orang-orang yang tidak mengerjakan shalat, dan kami tidak ( pula ) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian, maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa`at dari orang-orang yang memberikan syafa`at." ( Q.S.Al.Muddatsir : 42-48 )
Mereka tidak mendapat manfaat dari syafaat orang-orang yang memberi syafaat sebab mereka adalah orang-orang kafir. 

Kedua, ayat-ayat di atas menolak syafaat dalam versi orang-orang musyrik dan golongan sejenis dari kalangan ahli bid’ah, baik golongan ahlul kitab maupun kaum muslimin yang menganggap bahwa makhluk memiliki kemampuan memberi syafaat tanpa izin Allah, sebagaimana manusia saling memberi syafaat kepada yang lain, akhirnya yang dimintai syafaat menerima syafaatnya yang memberi syafaat karena ia membutuhkannya baik karena suka atau takut, dan sebagaimana makhluk bergaul dengan sesamanya dengan hubungan timbal balik. 
Orang-orang musyrik menjadikan selain Allah dari malaikat, para Nabi dan orang-orang shalih sebagai pemberi syafaat dan mereka membuat patung-patung selain Allah itu lalu memohon syafaat kepadanya seraya berkata, “Mereka ini adalah hamba-hamba Allah yang khusus.”
Saya katakan : Keterangan di atas adalah pandangan Ibnu Taimiyyah yang ditulis sesuai dengan teks aslinya. Dari pandangan beliau ini, tampak jelas esensi dari ayat-ayat yang dijadikan argumentasi oleh mereka yang menolak memohon syafaat dari Nabi SAW di dunia atau mereka yang menyatakan bahwa memohon syafaat kepada beliau adalah tindakan syirik dan sesat.
 Ringkasan dari pandangan Ibnu Taimiyyah adalah sebagai berikut :Bahwa yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah bahwa syafaat tidak berguna bagi orang musyrik. Berarti ayat-ayat itu turun dalam konteks ini. atau yang dimaksud adalah menafikan syafaat yang didefinisikan oleh orang-orang musyrik. Yaitu bahwa pemberi syafaat memiliki syafaat tanpa seizin Allah. Pandangan syaikh Ibnu Taimiyyah, berkat karunia Allah, adalah pendapat yang saya yakini. Saya katakan bahwa orang yang memohon syafaat kepada Nabi SAW jika meyakini atau menganggap bahwa Nabi mampu memberi syafaat tanpa seizin Allah maka saya yakin ia telah melakukan tindakan syirik dan sesat. Tetapi sungguh mustahil jika saya meyakini hal ini dan saya berlepas tangan kepada Allah akan hal itu.
Ketika saya memohon syafaat maka kami meyakini sepenuhnya bahwa tidak seorang pun mampu memberi syafaat tanpa seizin Allah dan tidak ada sesuatu terjadi kecuali berkat ridlo dan pertolongan Allah. 
Memohon syafaat sama dengan minta masuk sorga, minta minum dari telaga yang dikunjungi dan meminta selamat ketika melewati titian ( shirath ) yang semuanya tidak mungkin tercapai tanpa seizin Allah dan pada waktu yang telah ditakdirkan oleh Allah. Apakah orang yang berakal ragu akan hal ini atau pelajar ilmu agama paling yunior yang memiliki sedikit pengetahuan atau mampu sedikit membaca kitab-kitab salaf kabur akan hal ini ?

"YA ALLAH BUKALAH TELINGA HATI KAMI DAN SINARILAH MATA HATI KAMI."


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013