Minggu, 05 Juni 2011

Fiqh Tawassul ( 28 )


KISAH AL ‘UTBI DALAM TAWASSUL

Al Imam Al Hafidh Al Syaikh ‘Imadu Al Din Ibnu Katsir mengatakan, “Sekelompok ulama, diantaranya Syaikh Abu Al Manshur Al Shabbagh dalam kitabnya Al Syaamil menuturkan sebuah kisah dari Al ‘Utbi yang mengatakan;
 “Saya sedang duduk di samping kuburan Nabi SAW. Lalu datanglah seorang A’rabi ( penduduk pedalaman Arab ) kepadanya, “Assalamu’alaika, wahai Rasulullah saya mendengar Allah berfirman : 

  وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
"Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
 ( Q.S.An.Nisaa` : 64 )

Dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan atas dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.” Kata A’rabi.
Selanjutnya A’rabi tersebut mengumandangkan bait-bait syair :
يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ    فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ الْقَاعُ وَاْلأَكَمُ
نَفْسِيْ الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ      فِيْهِ الْعَفَافُ وَفِيْهِ الْجُوْدُ وَالْكَرَمُ

·         Wahai orang yang tulang belulangnya dikubur di tanah datar
Berkat keharumannya, tanah rata dan bukit semerbak mewangi
·         Diriku jadi tebusan untuk kuburan yang Engkau tinggal di dalamnya
Di dalam kuburmu terdapat sifat bersih dan kedermawanan.

Kemudian A’rabi tadi pergi. Sesudah kepergiannya saya tertidur dan bermimpi bertemu Nabi SAW, “Kejarlah si A’rabi dan berilah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”Kisah ini diriwayatkan oleh Al Nawawi dalam kitabnya yang populer Al Idhaah pada bab VI hlm. 498. juga diriwayatkan oleh Al Hafidh ‘Imadu Al Din Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang masyhur ketika menafsirkan ayat :
  وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
  "Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon Ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
( Q.S.An-Nisaa )

Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al Mughni vol III hlm. 556. Syaikh Abu Al Faraj ibnu Qudamah dalam kitabnya Al Syarh Al Kabir vol. III hlm. 495, dan Syaikh Manshur ibn Yunus Al Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaafu Al Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hanbali vol. V hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di atas. 
Al Imam Al Qurthubi, pilar para mufassir menyebutkan sebuah kisah serupa dalam tafsirnya yang dikenal dengan nama Al Jaami’. Ia mengatakan, “Abu Shadiq meriwayatkan dari ‘Ali yang berkata, “Tiga hari setelah kami mengubur Rasulullah datang kepadaku seorang a’rabi. Ia merebahkan tubuhnya pada kuburan beliau dan menabur-naburkan tanah kuburan di atas kepalanya sambil berkata, “Engkau mengatakan, wahai Rasulullah !, maka kami mendengar sabdamu dan hafal apa yang dari Allah dan darimu. Dan salah satu ayat yang turun kepadamu adalah :

  وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
  
Saya telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan untukku.” Kemudian dari arah kubur muncul suara : “Sesungguhnya engkau telah mendapat ampunan.”
Tafsir Al Qurthubi vol. V hlm. 265.

Kisah di atas adalah kisah Al ‘Utbi dan para ulama di muka-lah yang telah mengutipnya . Baik kisah ini dikategorikan shahih atau dlo’if dari aspek sanad yang dijadikan pijakan para pakar hadits dalam menentukan hukum hadits apa saja, maka kami bertanya-tanya dan berkata : apakah para ulama di muka telah mengutip kekufuran dan kesesatan ? atau mengutip keterangan yang mendorong menuju penyembahan berhala dan kuburan ?Jika faktanya memang demikian, lalu dimanakah kredibilitas mereka dan kitab-kitab karya mereka ? Subhaanaka Haadzaa Buhtaanun ‘Aadhiim.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013