Jumat, 10 Juni 2011

Fiqh Barokah ( 06 )


MEMBUKA TOPENG DAN KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN YANG UNIK

Al Faqih Al ‘Allamah Al Syaikh Manshur ibn Yunus Al Bahuti dalam kitabnya Kisyaafu Al Qinaa’ menyebut sejumlah keistimewaan-keistimewaan Nabi SAW yang dinilai aneh oleh banyak orang yang kapasitas intelektualnya tidak mampu untuk memahami prinsip-prinsip dasar ini dan memahami kaidah-kaidah di atas.
Diantaranya adalah : 
1.      Apa yang untuk kita dikategorikan najis itu suci untuk Nabi SAW dan Nabi-Nabi yang lain.
Diperboleh berobat menggunakan urine dan darah beliau SAW, berdasarkan hadits riwayat Al Daruquthni : Sesungguhnya Ummu Aiman meminum urine Nabi.” “Perut kamu tidak akan masuk neraka,” kata Nabi Saw, namun status hadits ini dla’if,
dan juga berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dalam Al Dlu’afaa’ : “Seorang budak membekam Nabi SAW. Setelah selesai membekam ia minum darah Nabi.” “Celaka kamu, apa yang kamu lakukan dengan darah?” tanya Nabi. “Darah itu telah aku masukkan dalam perutku,” jawab budak. “Pergilah ! engkau telah menjaga dirimu dari api neraka,” suruh Nabi. 
Al Hafidl Ibnu Hajar mengatakan bahwa rahasia masuk surganya budak yang meminum darah bekam Nabi adalah karena tindakan kedua malaikat yang membasuh perutnya. 
2.      Nabi tidak memiliki bayangan di bawah terpaan sinar matahari dan bulan. Karena Nabi itu makhluk cahaya sedangkan bayangan adalah jenis dari kegelapan. Keterangan ini disebut oleh Ibnu ‘Aqil dan yang lain. Fakta ini diperkuat oleh tindakan Nabi SAW yang memohon kepada Allah agar seluruh anggota badan dan seluruh arah mata angin dijadikan cahaya. Beliau juga mengakhir do’anya dengan “jadikanlah saya cahaya”.
Bumi itu menelan kotoran-kotoran Nabi SAW, berdasarkan hadits-hadits. 
3.      Kedudukan terpuji ( almaqam almahmud ) adalah duduknya Nabi SAW di atas ‘arsy. Dari ‘Abdullah ibn Salam : di atas kursi. Kedua riwayat ini disebutkan oleh Al Baghawi. 
4.      Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah menguap. 

Dan sesungguhnya diperlihatkan kepada Nabi SAW semua makhluk mulai Nabi Adam sampai manusia sesudahnya sebagaimana Adam diajari nama-nama segala sesuatu, berdasarkan hadits riwayat Al Dailami : “Dunia dicontohkan kepadaku dengan tanah liat dan air. Maka saya mengetahui segala sesuatu seluruhnya.”
Ditampilkan kepada Nabi SAW semua ummatnya sehingga beliau bisa melihat mereka, berdasarkan hadits riwayat Al Thabarani : “Semalam di dalam kamar ditampilkan kepadaku ummatku, baik generasi awal maupun akhir. Mereka digambarkan kepadaku dengan air dan tanah liat sehingga saya mengenal salah satu dari mereka dengan temannya.”
Kepada Nabi juga ditampilkan peristiwa yang bakal terjadi pada ummatnya hingga tiba hari kiamat berdasarkan hadits riwayat Ahmad dan perawi lain, yaitu : Diperlihatkan kepadaku apa yang dialami ummatku sepeninggal diriku. Mereka saling menumpahkan darah. 

5.      Ziarah kubur Nabi SAW itu disunnahkan bagi para lelaki dan wanita, berdasarkan keumuman hadits riwayat Al Daruquthni dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَجَّ وَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ وَفَاتِيْ فَكَأَنَّمَا زَارَنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ
"Barangsiapa yang melaksanakan haji dan berziarah pada kuburanku setelah saya wafat, maka seakan-akan ia berziarah padaku saat aku masih hidup.\"
Kisyaafu Al Qinaa’ vol. V hlm. 30 yang dicetak atas instruksi raja Faisal ibn Abdul Aziz dari dinasti Sa’udi.

Keistimewaan-keistimewaan di atas yang telah disebut dan dikutip oleh para perawi ada sebagian yang shahih, ada yang dla’if dan ada yang sama sekali tidak memiliki dalil.
  Saya tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh orang yang menantang keajaiban-keajaiban yang telah dikutip para imam besar ahlussunnah di atas. Para imam ini tidak menentang malah menerima keajaiban-keajaiban itu, dan memberikan toleransi dalam pengutipannya karena berpijak pada prisnsip toleransi dalam mengutip keutamaan-keutamaan amal padahal dalam keistimewaan-keistimewaan ini ada pendapat-pendapat yang jika didengar oleh orang yang menolak atau mengingkarinya niscaya ia akan menjatuhkan vonis lebih berat dari vonis kufur kepada pihak yang mengatakannya.
 Apa yang kami sebutkan di atas belum ada apa-apanya jika dibandingkan pendapat orang yang mengatakan bahwa junjungan kita Muhammad di hari kiamat didudukkan Allah di atas ‘arsy-Nya sebagaimana dikutip oleh Al Imam Al Syaikh Ibnul Qayyim dari para imam besar generasi salaf dalam kitabnya yang populer Badaa’iul Fawaaid tanpa bukti dan dalil sahih dan marfu’, baik dari Al Qur’an maupun Al Sunnah. Keistimewaan-keistimewaan yang saya kutip tidak ada apa-apanya dengan yang tercantum dalam Kisyaaful Qinaa’ yang menyatakan bahwa Nabi SAW adalah cahaya, yang tidak memiliki bayangan dan kotoran yang dikeluarkan beliau ditelan bumi hingga tidak tersisa sedikitpun di atas permukaan tanah.
Keistimewaan-keistimewaan yang saya kutip juga tidak ada apa-apanya dengan keistimewaan-keistimewaan yang dikutip oleh Ibnu Taimiyyah. seperti ucapannya bahwa nama Nabi SAW tertulis dalam betis atau batang ‘arsy, dan pada daun, pohon, pintu, buah dan kubah surga. Di manakah mereka yang memberikan ulasan dan kajian ? Mengapa persoalan-persoalan ini tidak mendapat kritik dan koreksi. Tindakan sebagian kalangan yang membuang dan memberi tambahan pada kitab-kitab klasik agar teks sesuai dengan aspirasi mereka adalah tindakan kriminal dan pengkhianatan besar yang berhak mendapat vonis pemenggalan. Karena yang wajib dilakukan adalah menetapkan nash apa adanya betapapaun ia berlawanan dengan perspektif orang yang mengkaji dan memberikan ulasan. Selanjutnya ia bebas menulis apa saja yang sesuai dengan perspektif dan pemikirannya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013