Jumat, 10 Juni 2011

Fiqh Barokah ( 04 )


IBNU TAIMIYYAH DAN KAROMAH :

Keistimewaan dan karomah itu identik dilihat dari aspek hukum, pengutipan, dan tidak diperlukannya upaya ketat sebagaimana upaya ketat dalam mengutip hukum-hukum dari halal dan haram. Keistimewaan dan karomah berada dalam wilayah sikap-sikap terpuji dan keutamaan-keutamaan. 
Berangkat dari fakta ini, sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyangkut karomah para wali sama persis dengan sikapnya mengenai keistimewaan-keistimewaan para Nabi. Dalam kitab-kitabnya beliau mengutip sejumlah karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal.
Jika kita kaji status, isnad dan jalur ketetapan periwayatannya maka kita akan menemukan bahwa sebagian dari karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi dalam generasi awal ada yang berstatus shahih, hasan, dla’if, diterima, ditolak, munkar dan syadz. Meskipun demikian semuanya diterima dalam masalah ini dan dibawa serta ditransfer dari ulama. Di antara kutipan-kutipan dari Ibnu Taimiyyah tentang karomah sebagian sahabat adalah sebagai berikut :

·         Ummu Aiman pergi berhijrah tanpa membawa bekal dan air hingga ia hampir mati karena kehausan. Saat tiba waktu berbuka – ia sedang berpuasa – ia mendengar di atas kepalanya ada suara halus. Lalu ia mendongakkan kepalanya. Ternyata ada timba menggantung. Kemudian ia minum dari timba tersebut sampai merasa segar dan tidak merasakan haus dalam sisa hidupnya.
·         Sebuah perahu mantan budak Rasulullah SAW memberitahu kepada seekor singa bahwa ia adalah utusan Rasulullah. Akhirnya singa tersebut berjalan bersamanya sampai mengantarkan menuju tempat tujuannya.
·         Al Bara’ ibn Malik jika bersumpah atas Allah maka Allah akan merealisasikan sumpahnya. Jika dalam situasi perang memberatkan kaum muslimin dalam berjihad, mereka akan berteriak, “Wahai Bara’ ! bersumpahlah atas Tuhanmu.” “Ya Rabbi, aku bersumpah atas-Mu , berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami,” sumpah Bara’. Akhirnya musuh pun mengalami kekalahan.
Ketika berlangsung perang Qadisiyyah, Bara’ bersumpah, “Aku bersumpah atas-Mu, ya Rabbi, berikanlah bahu-bahu orang-orang kafir kepada kami dan jadikan aku orang pertama yang mati syahid.” Akhirnya kaum muslimin diberi bahu-bahu orang-orang kafir dan Bara’ sendiri terbunuh sebagai syahid.

·          Khalid ibn Al Walid mengepung sebuah benteng yang kokoh. “Kami tidak akan menyerah sampai kamu minum racun,”kata orang-orang kafir. Akhirnya Khalid minum racun dan racun itu tidak menimbulkan efek apa-apa. 
·          Ketika mengirimkan bala tentara, ‘Umar ibn Al Khatthab mengangkat seorang lelaki bernama Sariyah sebagai pemimpin pasukan. Ketika sedang berkhutbah di atas mimbar tiba-tiba ‘Umar berteriak, “Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung. Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung.” Saat utusan bala tentara datang, ‘Umar bertanya kepadanya, yang kemudian dijawab, “Wahai Amirul Mu’minin !, Kami bertemu musuh dan mereka berhasil mengalahkan kami. Tiba-tiba ada suara orang berteriak : “Wahai Sariyah !, tetaplah berada di gunung.” Akhirnya kami pun tetap berada di gunung, hingga Allah mengalahkan mereka

·         ‘Ala’ ibn Al Hadlrami adalah gubernur Rasulullah untuk wilayah Bahrain. Dalam do’a yang dipanjatkannya ia berkata, “Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Sabar, wahai Dzat Yang Maha Tinggi, wahai Dzat Yang Maha Agung.” Maka do’anya pun dikabulkan.
Ia juga pernah berdo’a agar orang-orang diberi hujan dan bisa berwudlu ketika mereka mengalami ketiadaan air dan hujan untuk sesudah mereka lalu do’anya pun dikabulkan.
Waktu bala tentara muslimin terhalang oleh laut dan tidak mampu menyeberangkan kuda-kuda mereka, ia berdo’a hingga akhirnya mereka bisa melewati laut dengan pelana kuda yang tidak basah oleh air. Ia juga berdo’a agar ketika mati jasadnya tidak bisa dilihat orang. Akhirnya ketika mati orang-orang tidak menemukan jasadnya di liang lahat.

·         Karomah seperti di muka juga terjadi pada Abu Muslim Al¥ Khaulani saat ia diceburkan ke dalam api.
Ceritanya ketika ia bersama teman-teman pasukannya berjalan di atas sungai Tigris. Dari bentangannya sungai itu melemparkan lalu Abu Muslim menoleh kepada teman-temannya. “Periksalah barang-barang kalian hingga aku berdo’a kepada Allah !” perintahnya. “Saya kehilangan keranjang rumput,” kata sebagian temannya. “Ikuti saya,” kata Abu Muslim. Teman yang kehilangan keranjang rumput pun mengikutinya dan menemukan keranjang itu menyangkut pada sesuatu lalu memungutnya.
Al Aswad Al ‘Ansi ketika mengklaim sebagai Nabi, mencari Abu Muslim. “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah ?” tanya Al Aswad kepada Abu Muslim.
 “Saya tidak bisa mendengar,” jawab Abu Muslim
“Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah ?”
“Betul.”
Akhirnya Al Aswad menyuruh Abu Muslim dimasukkan ke dalam api. Ia akhirnya dimasukkan kedalam api namun mereka melihat Abu Muslim sedang shalat di tengah kobaran api itu. Api telah menjadi dingin dan menyelamatkan baginya.
Setelah Nabi wafat Abu Muslim datang ke Madinah. “Umar menyuruhnya duduk antara dirinya dan Abu Bakar Al Shiddiq. “Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku sampai aku melihat dari ummat Muhammad seseorang yang diperlakukan sebagaimana Ibrahim kekasih Allah.” Kata ‘Umar. 
Seorang budak wanita memasukkan racun pada makanannya dan racun itu tidak membahayakannya. Seorang perempuan menipu istrinya. Akhirnya perempuan itu ia kutuk dan akhirnya menjadi buta. Perempuan itu lalu datang dan bertaubat. Abu Muslim pun akhirnya mendo’akannya hingga Allah mengembalikan kembali   penglihatannya. 
·         Sa’id ibn Al Musayyib dalam peperangan pada era Yazid ibn Mu’awiyah mendengar adzan dari kuburan Rasulullah pada waktu-waktu shalat padahal masjid telah sepi tidak ada orang lain selain dirinya. 
·         ‘Umar ibn ‘Uqbah ibn Farqad suatu hari shalat di siang hari yang sangat panas lalu mendung pun memayunginya. Binatang buas melindunginya saat ia mengawasi kereta-kereta teman-temannya, karena ia disyaratkan untuk membantu mereka waktu perang. 
·          Mutharrif ibn ‘Abdillah ibn Syikhkhir jika masuk rumah maka wadah-wadah miliknya ikut bertasbih bersamanya. Ia dan temannya pernah berjalan berdua dalam kegelapan kemudian ujung cambuknya menerangi keduanya. 
Dikutip dari Al Fataawaa Al Kubraa karya Syaikh Ibnu Taimiyyah vol. XI hlm. 281.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013