Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

Menguatkan Asawaja di Bulan Ramadhan

Menguatkan Asawaja di Bulan Ramadhan


NU Jombang Online,
Ketika sholat taroweh selesai dikerjakan, dari berbagai tempat di wilayah Jombang, sekitar 100-an orang secara berangsur mendatangi sebuah rumah tua ber-arsitektur kolonial yang terletak di Jalan K.H. Wahid Hasyim, sebuah jalan utama tengah kota yang cukup terkenal di kabupaten Jombang. Rumah tersebut adalah warisan Kiyai Nawawi, salah satu tokoh NU di Jombang.

Satu persatu dari mereka memilih posisi duduk di lantai yang digelar karpet hijau di atasnya. Rumah yang tinggi plafonnya sekitar 5 meter tersebut terdiri dari beberapa ruang, dan yang ditempati untuk berkumpulnya orang-orang yang datang berada di ruang tengah, ruang depan dan teras yang memiliki pintu yang cukup lebar untuk dibuka, jadi orang yang berada di teras rumah bisa melihat secara langsung orang berada di ruang tengah.

Sebagaian dari mereka duduk bersandar di dinding memutar mengikuti dinding ruangan, sebagian memilih duduk sambil menikmati suasana udara yang lebih segar di teras, bahkan sebagian ada yang duduk di atas dudukan teras sambil menikmati asap rokok, kopi dan suguhan kue.

Orang-orang yang memiliki latar belakang pekerjaan yang beragam tersebut: guru, pedagang pasar, sales, petani, dan pemuda sedang mengikuti pengajian, yang dilaksanakan setiap hari Rabu malam Kamis dan Minggu malam Senin dengan bahasan yang beragam.

Kitab yang dikaji secara khusus selama bulan Ramadhan ini adalah Mafahim Yajibu An Tushohah (Doktrin-doktrin yang harus diluruskan, red) karya Sayid Muhammad Bin Alwi Almaliki. Kitab tersebut telah diterjemahkan oleh LTN-NU Cabang Jombang menjadi 4 buku. Buku pertama diberi judul Kafirnya Tuduhan Kafir, buku kedua diberi judul Fiqh Tawassul, buku ketiga Fiqh Barokah dan buku keempat Fiqh Ziarah.
Jika jam’ah pengajian sebagain besar berada di ruangan depan dan teras, pengasuh pengajian, KH. Abd. Nashir Fattah, Rais Syuriah PCNU Jombang, yang juga murid langsung Sayid Alwi Almaliki, duduk di ujuang ruang tengah menghadap ke jama’ah pengajian. Kiyai Nashir selama bulan Ramadhan ini selalu didampingi oleh Ustadz Sholihudin Sofwan, pengurus LTN-NU Jombang.

Kiyai Nashir, dalam setiap pengajian selalu membuka bahasan dengan menjelaskan materi dalam kitab Mafahim serta memberikan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian secara lebih terperinci Ustadz Sholihudin, yang sekaligus sebagai editor buku terjemahannya, membahas materi dalam buku hasil diterjemahan. Setelah itu, dibuka forum tanya jawab. Berbagai persoalan terkadang ditanyakan dalam forum tanya jawab ini, meskipun porsi terbesar sesuai dengan tema bahasan malam itu.

Pada Rabu malam Kamis (3/8/2011) dan Minggu malam Senin (7/8/2011) pertama bulan Ramadhan, pengajian dimulai dengan materi Kafirnya Tuduhan Kafir, bahasan pertama dalam kitab Mafahim. Pada Rabu malam Kamis (10/8/2011) yang kedua bulan Ramadhan dilanjutkan pembahasan materi selanjutnya yaitu Fiqh Tawassul. Pengajian akan terus dilanjutkan pada hari-hari tersebut di Bulan Ramadhan dengan bahasan selanjutnya yaitu: Fiqh Barokah dan Fiqh Ziarah.

Dalam pembahasan materi yang kedua (Fiqh Tawassul), Kiyai Nashir menjelaskan tentang hakikat tawassul. Bahwa sesungguhnya hakikat tawassul itu adalah kepada Allah meskipun melalaui perantaraan Nabi atau orang alim. Kiyai Nashir mengambil contoh tentang seseorang yang akan menemui bos-nya. Lebih lanjut dia mengatakan ”Kita bisa mengambil contoh. Jika ada seseorang yang akan menemui bos-nya akan lebih mudah diterima jika bersama seorang kiyai yang dipercaya oleh bos tersebut, begitu juga kita akan lebih mudah diterima Allah jika kita bersama dengan seorang yang dipercaya Allah”.

”Bahkan orang sekelas Mbah Abdullah Salam Kajen Pati masih melakukan tawassul kepada Mbah Mutamakkin. Dalam tawassulnya, Mbah Abdullah Salam mengatakan: berkat keramat (karamoh) panjenengan (anda) saya bertawassul kepada Allah SWT” tambah Kiyai pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.

Lebih lanjut dalam pengajian tersebut Ustadz Sholih menambahkan bahwa, Sayid Alwi Almaliki pengarang kitab Mafahim ini banyak menggunakan dalil-dalil yang digunakan oleh panutan utama kalangan salafy yaitu Imam Ibnu Taimiyyah dalam menyangkalkan tuduhan-tuduhan kafir kalangan salafy, misalnya dalam masalah syafa’at, Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Al Fataawaa membolehkan memohon syafaat kepada Nabi Muhammad di dunia. (mus)

Selasa, 09 Agustus 2011

Mbah Mun: Budi dan Pekerti Jangan Dipisah


NASEHAT ULAMA
Mbah Mun: Budi dan Pekerti Jangan Dipisah
 
Rembang, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Anwar, Sarang-Rembang, KH Maemun Zubair (84) mengatakan budi dan pekerti jangan dipisah, karena keduanya satu kesatuan.
“Budi itu perbuatan dohir, badani. Sedangkan pekerti itu dalam. Dalam itu artinya ilmu yang menuntun. Penuntunnya Kanjen Nabi Muhammad. Nah, Nabi itu, khuluquhu Al-Qur’an. Al-Qur’an ya Allah kan? Jadi, Budi Pekerti itu ujung-ujungnya Allah,” jelas KH Maemun Zubari, seusai ngaji kitab Tambihul Ghofilin karya Abu Laits as-Samarqandiy.
“Siapa yang budi pekertinya tidak seperti nabi, itu berarti meninggalkan Allah?” lanjut Mbah Mun, demikian panggilan KH Maemun Zubari, saat ditemui NU Online di kediamannya, kompleks pesantren Sarang, Rembang, pekan lalu.
Ia mengingatkan, orang pesantren harus memakai istilah budi pekerti, bukan akal budi. “budi pekerti itu ada tuntunan yang jelas, ada ilmunya. Ya Al-Qur’an tadi,” tegasnya.
Saat ditanya tentang kitab akhlak yang dikagumi, Mbah Mun tidak menyebutkan kitab secara khusus. Ia menyatakan semua kitab akhlak atau tasawuf karya ulama disukainya.
“Saya tidak mengunggulkan kitab tertentu. Saya membaca semuanya. Lalu saya kawinkan antara kitab satu dengan yang lainnya, mana yang cocok dengan keadaan. Ada yang cocok di sini, ada yang tidak cocok di sana. Ada yang cocok untuk sekarang, ada yang cocok untuk hari yang lain. Silih berganti,” terangnya.
Mbah Mun, kiai yang lahir di Sarang-Rembang 28 Oktober 1928, masih aktif menjalankan rutinitas sebagai ulama. Ngaji di pesantren, ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren. “Semuanya saya jalani untuk ibadah,”ujarnya.
“Mbah Mun sangat semangat. Bulan puasa ini jaduanya penuh. Dari waktu dhuha sampai jam 12 malam beliau ngaji untuk santrinya,” kata Mukhlisin, santri asal Purwodadi, Jawa Tengah.

Sewaktu muda, Mbah Mun dikenal sebagai santri yang suka mengembara untuk mencari ilmu, singgah dari satu daerah ke daerah lain. Di antara gurunya adalah KH. Baidlowi Lasem (mertua sendiri), KH. Ma'shum Lasem. Pernah juga ngaji pada KH. Ali Ma'shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah di Jombang, KH. Mushlih Mranggen di Demak, KH. Abbas di Buntet Cirebon, KH. Abul Fadhol, Senori, dan lain-lain.
Saat berusia 21 tahun, ia keliling Mekkah, ngangsu kaweruh selama dua tahun. Di temani kakeknya sendiri, KH. Ahmad bin Syu'aib, Mmbah Mun ngaji pada Sayyid 'Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani dan masih banyak lagi.
Penulis: Hamzah Sahal

Minggu, 07 Agustus 2011

Kang Said: Hentikan Penyebaran SMS Kabar Wafatnya Kiai Sahal


07/08/2011 22:35
Kang Said: Hentikan Penyebaran SMS Kabar Wafatnya Kiai Sahal

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj kembali menegaskan, kabar yang beredar dimasyarakat dan menyebutkan Rais Am PBNU KH. MA. Sahal Mahfudh wafat adalah tidak benar. Selain meminta masyarakat, khususnya warga NU untuk tidak mempercayainya, Kang Said, demikian Kiai Said biasa disapa, juga meminta agar penyebarluasan SMS tersebut dihentikan.
"Sampai hari ini Kiai Sahal masih sehat wal afiat. Bahkan sejak pertama puasa, termasuk hari ini sudah aktif mengajar di pesantrennya di Kajen, Pati," tegas Kang Said di PBNU, Minggu, 7 Agustus 2011.
Kang Said meminta agar penyebarluasan SMS kabar wafatnya Kiai Sahal dihentikan, sehingga tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. "Yang sudah  terima SMS bisa saya jawab isi SMS itu tidak benar dan tolong jangan disebarluaskan," lanjutnya.
SMS yang mengabarkan wafatnya Kiai Sahal beredar dalam dua hari terakhir. Isinya adalah 'Lelayu. Telah berpulang ke Rahmatullah, Simbah KH. Sahal Mahfudh, Rais Syuriah PBNU. Mohon disebarluaskan dan mohon bantuan Fatihah'. Versi lain SMS tersebut juga menulis 'Innalilahi, telah berpulang ke Rahmatullah ulama kita KH. Sahal Mahfudh (Rais Am PBNU), Al Fatihah. Tolong disebarkan'.
"Dari isi SMS saja sudah tidak benar. Kiai Sahal bukan Rais Syuriah, tapi Rais Am.   Yang menyebarkan SMS itu sepertinya orang yang tidak paham NU, yang sudah semestinya tidak dipercaya," tandas Kang Said.
Penulis: Emha Nabil Haroen

Minggu, 31 Juli 2011

Lajnah Falakiyah NU Rukyatul Hilal di 90 Titik


PENENTUAN AWAL RAMADHAN 1432 H

Lajnah Falakiyah NU Rukyatul Hilal di 90 Titik

Jakarta, NU Online
Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama akan mengadakan rukyatul hilal atau pengamatan bulan sabit secara langsung untuk penentuan tanggal 1 Ramadhan 1432 H di sedikitnya 90 titik rukyat yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kami akan terus mengembangkan kegiatan rukyat. Jumlah 90 titik itu kemungkinan akan bertambah, karena Indonesia adalah negara kepulauan. Banyak pulau kecil-kecil seperti di Kepulauan Riau sangat strategis untuk pelaksanaan rukyat,” kata Ketual Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A. Ghazalie Masroeri kepada NU Online di Jakarta, Sabtu (30/7).
Rukyatul hilal dilaksanakan pada saat Matahari terbenam pada hari Ahad, tanggal 29 Sya’ban 1432 H, atau 31 Juli 2011. Penentuan tanggal pelaksanaan rukyat ini juga berdasarkan hasil rukyat sebelumnya atau awal Sya’ban.
Menurut Kiai Ghazalie Masroeri, rukyat awal Sya’ban kemarin tidak berhasil melihat hilal sehinggal bulan Rajab digenapkan menjadi 30 hari. Maka tanggal 1 Sya’ban baru dimulai pada Ahad, 3 Juli 2011, sehingga 29 Sya’ban baru jatuh pada Ahad besok, 31 Juli 2011. “Pelaksanaan rukyat juga tetap harus berdasar pada hasil rukyat juga, tidak cukup hanya dengan hisab,” katanya menegaskan.
Ditambahkannya, pelaksanaan rukyat di 90 titik akan dikoordinasikan dari kantor Lajnah Falakiyah PBNU di lantai 4 gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164, Jakarta.
“Pelaksanaan rukyat dan pelaporannya akan berada di bawah komando saya bersama tim Lajnah Falakiyah PBNU. Sementara Ketua Pelaksananya Pak Nahari (Sekretaris Umum Lajnah Falakiyah PBNU, red) yang berada di kantor Lajnah Falakiyah,” tambahnya.
Hasil rukyat ini akan dilaporkan dalam sidang itsbat di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta. Kiai Ghazali sendiri akan mewakili NU dalam sidang itsbat tersebut.

Penulis : A. Khoirul Anam


PWNU Jatim: Hebatnya NU, Bisa Menghitung tapi Tetap Tawadlu'


PENENTUAN AWAL RAMADHAN 1432 H
PWNU Jatim: Hebatnya NU, Bisa Menghitung tapi Tetap Tawadlu'

Surabaya, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur akan melakukan standar kegiatan rukyatul hilal penentuan awal Ramadhan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Rukyat kali ini akan diselenggarakan di sedikitnya 11 titik. Ke-11 titik itu berada di Surabaya, Gresik, Lamongan, Blitar, Bangkalan, Malang, Probolinggo dan Pamekasan.
Observasi lapangan sudah dilakukan sejak Sabtu (30/7), sedangkan pelaksanaan rukyat dilakukan Ahad sore. “Ini sudah kegiatan rutin tahunan, mereka yang di lapangan sampai hafal dengan lokasi itu,” kata H Masyhudi Mukhtar, Sekretaris PWNU Jawa Timur kepada NU Online di kantornya.
Menurut Pak Hudi, sapaan akrabnya, tiap tim terdiri dari ahli falak, ahli fiqih dan operator peralatan rukyat. Di lapangan biasanya mereka akan menyatu dengan tim dari departemen agama. Untuk yang daerah pantai biasanya juga melibatkan para nelayan setempat yang sudah terbiasa dengan alam, sekadar sebagai pemandu arah tempat munculnya bulan.
“Alhamdulillah, cabang-cabang kita umumnya sudah memiliki perangkat untuk ‘mengintip’ bulan, meski ukurannya tidak semua sama, ada yang panjang, ada pula yang pendek,” tutur Pak Hudi.
Soal adanya Ormas lain yang telah mengumumkan kepastian awal Ramadlan tanggal 1 Agustus lusa, Pak Hudi tampak tenang-tenang saja. “Insya Allah (awal puasa) kita juga tanggal 1 Agustus, tapi menunggu rukyat dulu,” jawabnya enteng.
Menurut alumnus Pesantren Tebuireng itu, memang banyak ahli falak yang menyatakan, kemungkinan besar awal Ramadlan adalah tanggal 1 Agustus. Tapi itu baru menurut hitungan, masih menunggu pembuktian lebih lanjut. “Di sinilah hebatnya orang NU, meski juga sudah dapat menghitung, namun masih tetap menunggu pembuktian. Ada tawadlu’nya (rendah hati. red),” ujarnya sambil terkekeh.
Menurut rencana, sikap PWNU Jawa Timur akan diumumkan besok usai shalat maghrib, setelah dilaporkan terlebih dahulu kepada PBNU.

Redaktur : A. Khoirul Anam
Kontributor : Muhammad Subhan

Lajnah Falakiyah: Secara Teoritis Hilal Sudah Bisa Dirukyat


PENENTUAN AWAL RAMADHAN 1432 H
Lajnah Falakiyah: Secara Teoritis Hilal Sudah Bisa Dirukyat

Jakarta, NU Online
Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A. Ghazalie Masroeri menegaskan, penentuan awal bulan dalam penanggalan bulan (qamariyah) harus berdasarkan rukyatul hilal bil fi’li atau pengamatan bulan sabit secara langsung di lapangan. Rukyat dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu.
“Rukyat bisa menggunakan peralatan yang paling tradisional sampai yang paling modern. Lajnah Falakiyah PBNU sendiri sudah telah mengembangkan NUMO (NU Mobile Observatory) untuk menunjang pelaksanaan rukyat. Peralatan yang dimiliki NUMO tidak hanya dapat mendeteksi hilal tetapi juga benda laingit lainnya,” katanya kepada NU Online di Jakarta, Sabtu (30/7).
Ditegaskannya, penentuan awal bulan qamariyah tidak cukup hanya berdasar pada hisab atau perhgitungan astronomis. Data hisab hanya berfungsi sebagai pemandu pelaksanaan rukyat agar lebih akurat.
Hal ini disampaikannya terkait pelaksanaan rukyatul hilal untuk penentuan tanggal 1 Ramadhan 1432 H. Menurutnya, pada saat diadakan rukyatul hilal pada hari Ahad, tanggal 29 Sya’ban 1432 H, 31 Juni 2011, menunjukkan bahwa hilal sudah sangat mungkin dirukyat.
“Secara teoritis hilal sudah bisa dirukyat. Namun teori saja atau hisab saja belum cukup, harus dibuktikan di lapangan,” tambahnya.
Data hisab dalam Almanak PBNU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah untuk markaz Jakarta menunjukkan bahwa ijtima’ awal bulan atau konjungsi terjadi pada Ahad, pukul 01.36. Tinggi hilal atau bulan sabit pada saat pelaksanaan rukyatul hilal sudah mencapai 6 derajat di atas ufuk dalam posisi miring ke utara, dan hilal akan berada di atas ufuk selama 33 menit. Berdasarkan hisab, hilal sudah sangat mungkin dilihat dan tanggal 1 Ramadhan akan jatuh pada Senin, 1 Agustus 2011.

Penulis : A. Khoirul Anam

Jumat, 29 Juli 2011

Menag: Satu Ramadhan Tunggu Hasil Rukyat


28/07/2011 14:28
Menag: Satu Ramadhan Tunggu Hasil Rukyat

Kendari, NU Online
Menteri Agama, Surya Dharma Ali, mengatakan jatuhnya satu Ramadhan 1432 Hijriah masih menunggu hasil rukyat atau pengamatan bulan yang dilakukan pemerintah pada malam 31 Juli 2011.
"Mudah-mudahan pada malam tanggal 31 Juli 2011 ini langit dalam keadaan cerah sehingga bulan bisa terlihat dengan jelas," katanya di Kendari, Rabu.
Menurut Menag, pemerintah akan melakukan rukyat bulan pertama Ramadhan di 14 titik lokasi di Indonesia.
Jika dalam proses rukyat itu telah terlihat posisi bulan pertama kali, kata dia, maka pemerintah akan segera menggelar sidang Hizbat untuk mengumumkan kepastian tentang awal Ramadhan.
"Sidang Hizbat untuk menetapkan awal 1 Ramadhan 1432 Hijriah nanti akan dihadiri seluruh ormas Islam," katanya.
Menurut Menteri Agama, Muhammadiyah di Indonesia telah menetapkan jatuhnya awal Ramadhan pada 1 Agustus 2011.
Diharapkan kata dia, hasil rukyat yang akan dilakukan pemerintah pada 31 Juli 2011 di 14 titik lokasi di tanah air, tidak lagi terdapat perbedaan jatuhnya awal Ramadhan versi pemerintah dengan kelompok Muhammadiyah.
"Kalau pun nanti jatuhnya awal puasa atau lebaran terdapat perbedaan lagi antara pemerintah dengan ormas Islam yang lain, semua pihak harus saling menghormati perbedaan itu," katanya.
Toh ujar Menteri Agama, selama ini perbedaan itu sudah seringkali terjadi dan selama itu pula tidak pernah ada masalah.
"Sepanjang kita saling menghormati dalam perbedaan, apa pun perbedaan di antara kita tidak akan menjadi masalah bagi yang lain," katanya.
Yang terpenting kata dia di kalangan umat beragama harus selalu menjaga harmonisasi sehingga bisa hidup rukun damai dalam perbedaan.

Redaktur: Mukafi Niam
Sumber   : Antara

Minggu, 03 Juli 2011

KONSEKUENSI ISTIKMAL RAJAB 1432H


NU Online: 03/07/2011 13:22
Hilal Ramadhan

KONSEKUENSI ISTIKMAL RAJAB 1432H
 “Laporan dari daerah-daerah menyatakan bahwa ru’yah jum’at petang 1 Juli 2011 tidak berhasil melihat hilal. Maka atas dasar istikmal, awal sya’ban 1432H jatuh pada ahad 3 Juli 2011. Trmksh atas partisipasi Nahdliyyin sekalian." (LFPBNU)

ISTIKMAL RAJAB DAN RUKYAT AWAL SYA’BAN 1432H
Informasi di atas merupakan sebuah pesan singkat dari KH. Ghozalie Masrurie selaku ketua Lajnah Falakiyyah PBNU (LFPBNU) yang mengabarkan hasil pelaksanaan rukyat yang dilaksanakan oleh warga Nadhliyyin diberbagai pelosok Indonesia yang tidak dapat menyaksikan kemunculan hilal.  Sehingga, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, rajab digenapkan (istikmal)  menjadi 30 hari dan 1 Sya’ban bertepatan dengan hari Ahad, 3 Juli 2011. Pelaksanaan Rukyat Awal Sya’ban memiliki posisi penting karena bulan setelah Sya’ban adalah Bulan Suci Ramadhan dimana umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
Pada dasarnya, Istikmal pada akhir Rajab 1432H sudah dapat diperkirakan dengan pasti melalui perhitungan  (Hisab) posisi bulan pada tanggal 29 Rajab 1432H (bertepatan dengan tanggal  1 Juli 2011). Pada tanggal 1 Juli 2011 Ijtima’ diperkirakan terjadi pada jam 15:54 LT dan matahari tenggelam pada jam 14:54 LT. Hal ini berarti Ijtima’ terjadi setelah matahari tenggelam sehingga hilal dikatakan belum wujud sehingga dapat dipastikan hilal tidak dapat dirukyat.  Oleh karenanya, berdasar ketentuan NU maupun Muhammadiyah, bulan Rajab digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Jika hilal belum wujud pada tanggal 1 Juli 2011, maka hilal Sya’ban 1432H baru akan bisa dilihat untuk pertama kalinya pada tanggal 2 Juli 2011. Dari data hisab posisi hilal diperoleh ketinggian hilal pada saat matahari tenggelam pada tanggal 2 Juli 2011 sebesar +12°:41':07". Dengan Ketinggian tersebut, Hilal sering dikatakan pasti dan mudah terlihat, JIKA tidak tertutup awan.  Karena jika tertutup awan, Bulan Purnama dan Mataharipun tidak akan dapat dilihat. Namun apakah hilal dengan posisi tersebut memang mudah terlihat?
Dengan kondisi cuaca berawan, Tim rukyat PBNU dan PWNU DKI Jakarta telah melakukan pengujian data hisab dan perangkat rukyat yang ada di NUMO (Nahdlotul Ulama’ Mobile Observatory) .  Hal ini ditujukan untuk lebih memantapkan jatuhnya awal Sya’ban  1432H meskipun hasil yang diperoleh tidak mempunyai implikasi hukum pada penetapan awal bulan Sya’ban.  Dari pelaksanaan rukyat tersebut diperoleh kesaksian  4 perukyat dapat mengenali keberadaan hilal melalui teleskop tersebut. Meskipun menggunakan sistem teleskop yang memiliki kemampuan robotic yang dapat mengarah dan mengikuti gerak bulan secara otomastis tersebut hilal dapat dikenali untuk pertama kalinya pada jam 18:02 WIB pada ketinggian sekitar  8 derajat. Hal ini berarti hilal baru dapat dilihat sekitar 12 menit setelah matahari tenggelam atau turun sekitar 4 derajat dari ketinggian semula.  Dan tidak satupun dari perukyat yang hadir dapat mengenali hilal tersebut secara langsung dengan mata telanjang.  Sehingga hilal dengan ketinggian diatas 10 derajat meskipun dapat dipastikan dapat dilihat ternyata hilal tidak mudah untuk dirukyat. Sayang seklai karena kendala masalah teknis di lapangan penampakan hilal tersebut tidak dapat didokumentasikan melalui kamera yang ada.

KONSEKUENSI AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL 1432H
Baik dari hasil istikmal ataupun hasil rukyat yang telah dilaksanakan dapat dipastikan dengan haqul yakin, 1 Sya’ban 1432H bertepatan dengan tanggal 3 Juli 2011. Hal ini akan menjadikan tanggal 31 Juli 2011 bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1432H. Sehingga kewajiban melaksanakan rukyat Syar’i juga dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2011 tersebut.
Tabel 1 menunjukkan data hisab posisi bulan pada tanggal 31 Juli 2011 yang dihitung untuk markaz Jakarta.  Dari table tersebut dapat dilihat bahwa posisi hilal pada tanggal 31 Juli 2011 memenuhi  kriteria penanggalan yang digunakan oleh MABIMS. Sehingga berdasar kriteria tersebut hilal pada posisi MEMUNGKINKAN untuk dapat dilihat . Terlebih jika posisi hilal tersebut dibandingkan dengan posisi ‘rekor hilal’ yang dapat terekam oleh penulis ketika melakukan pengamatan hilal bersama TIM SIHIRU DPEKOMINFO-ITB  maka posisi hilal pada tanggal 31 Juli 2011 mempunyai peluang untuk dapat diamati, tentunya jika hilal tidak tertutup awan. Meskipun demikian, dari pengalaman merukyat hilal pada tanggal 2 Juli 2011 tentunya hilal penentu awal ramadhan 1432H akan lebih sulit untuk dikenali dengan teleskop terlebih jika menggunakan mata telanjang.
Dengan kondisi cuaca yang tidak dapat dipastikan tersebut masih memberikan kemungkinan hilal akan tertutup oleh awan. JIkalau hal ini yang terjadi, apakah  ketetapan Istikmal yang akan diikbarkan? Berdasar kriteria MABIMS, kemungkinan besar Pemerintah melalui kemenag  akan menetapkan awal Ramadhan jatuh pada tanggal 1 Agustus 2011. Tentunya kita berharap, hilal dapat dirukyat pada akhir rajab 1432H sehinga pelaksanaan puasa Ramadhan 1432H dapat dilaksanakan secara serentak di Indonesia.
Hal yang lebih rentan akan perbedaan justru  dimungkinkan terjadi  pada pelaksanaan rukyat hilal akhir Ramadhan 1432H. Berdasar data hisab yang terdapat pada tabel1 dapat dilihat posisi hilal untuk markaz Jakarta tidak semuanya memenuhi kriteria MABIMS. Bahkan dalam penanggalan NU, ketinggian hilal masih di bawah 2 derajat. Hal ini dapat berimplikasi kesaksian yang ada akan ditolak oleh Lajnah Falakiyyah PBNU sebagaimana kasus Bangkalan dikarenakan awal bulan MABIMS merupakan kriteria minimal untuk dapat menerima kesaksian hilal. Jika hal ini yang terjadi maka dimungkinkan bulan Ramadhan 1432H akan diistikmalkan menjadi 30 hari dan Iedul Fitri 1432H akan bertepatan dengan tanggal  31 Agustus 2011.
Pada dasarnya ketinggian 2 derajat masih merupakan posisi yang sangat sulit (kalau boleh dibilang mustahil) untuk dapat dirukyat. Terlebih mengingat pengalaman hilal awal sya’ban 1432 yang baru dapat dikenali 10 menit setelah matahari tenggelam dengan menggunakan alat bantu Teleskop.  JIka dilakukan asumsi yang sama, dimana hilal baru dapat dikenaliu 10 menit setelah matahari tenggelam maka Hilal awal syawal akan tenggelam terlebih dahulu sebelum menampakkan wujudnya pada mata para perukyat. Terlebih jika rukyat tersebut dilaksanakan di Jakarta yang kondisi usuknya sering kali tidak dapat dilihat karena pengaruh polusi smog.
Pada dasarnya kemungkinan terjadinya perbedaan dalam mengawali bulan-bulan hijriyyah senantiasa terbuka lebar jika ketinggian hilal positif, berapapun ketinggiannya karena kriteria yang digunakan saat ini dapat dikategorikan sebagai kriteria minimal untuk menerima sebuah kesaksian hilal. Hal ini merupakan sebuah kemajuan yang luar biasa dalam Lajnah Falakiyyah PBNU yang oleh ketua Lajnah Falakiyyah PBNU,  KH. Ghozalie Masrurie, disebut telah berlari cepat. Pada mulanya NU hanya menggunakan rukyat, kemudian juga menggunakan hisab untuk memandu rukyat, dan mulai menggunakan kriteria imkan rukyat sebagai nilai minimal diterimanya kesaksian rukyat.  LFPBNU juga meningkatkan kemampuan rukyatnya melalui berbagai pelatihan dan perlengkapan rukyat yang baik hal ini bisa dilihat dengan adanya NUMO (Nahdlotul Ulama Mobile Ulama’).
Beragam langkah kemajuan tersebut menunjukkan LFPBNU dinamis untuk mencari yang paling baik sebagaimana kaidah yang dipegang “al-Mukhafadhotul ‘alal Qodimis Sholih wal Akhdu bil jaded al-Aslah”.
Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk menjumpai Bulan penuh berkah, Bulan Suci Ramadhan 1432 H.


Peringatan Haul KH. Abdul Fattah Hasyim Ke 36 & Ny. Hj. Musyarrofah Bisri Ke 4, Pertemuan Alumni Besuk Pada Hari Kamis, 21 Maret 2013